METROTODAY, SURABAYA – Data Kanwil Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jawa Timur mencatat sebanyak 35 kasus superflu terjadi di Jatim, Sedangkan secara nasional mencapai 62 kasus. Bahkan di Jawa Barat, terdapat kasus meninggal dunia akibat penyakit ini.
Dengan meningkatnya kasus superflu, masyarakat terutama pelaku perjalanan ke luar negeri kini banyak melakukan vaksin flu sebelum berangkat sebagai upaya antisipasi penularan.
Seperti halnya Eko Wahyudi yang melakukan vaksinasi di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya sebelum bepergian ke luar negeri. Ia mengaku khawatir dengan kasus superflu saat ini sehingga memilih untuk melakukan pencegahan dengan suntik vaksin flu.
“Saya khawatir dengan adanya superflu, sehingga saya memilih divaksin sebelum berangkat (ke luar negeri, Red). Karena ini menyangkut perlindungan saya sendiri dan orang lain,” tutur Eko, Jumat (16/1).
Sebagai orang awam, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa superflu mirip dengan pandemi Covid-19. “Kalau menurut saya sebagai orang awam memang seperti covid ya, jadi saya harus melindungi diri dengan vaksin,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan mengatakan pihaknya setiap hari memantau suhu tubuh pelaku perjalanan di Bandar Udara Internasional Juanda melalui thermal scanner.
“Kami selalu mengawasi pelaku perjalanan luar negeri kita sudah melakukan setiap hari dengan screening. Jika suhu 38 derajat celcius biasanya kita bawa ke klinik. Kita juga tempatkan personil untuk memantau setiap terminal di bandara Juanda,” jelasnya.
Ia mengaku sampai saat ini belum ada indikasi pelaku perjalanan yang terpapar superflu, karena untuk memastikannya perlu dilakukan tes swab. Kriteria untuk melakukan swab pada pelaku perjalanan adalah suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius serta batuk tidak lebih dari 10 hari.
“Pelaku perjalanan kita mencatat sebanyak 100.000 lebih, sekitar 20 kasus ISPA namun tidak ada indikasi untuk dilakukan swab. Jadi belum ada yang memenuhi kriteria-kriteria harus dilakukan pengambilan sample melalui swab,” ungkapnya.
Rosidi menambahkan bahwa superflu Influenza A (H3N2) Subclade K bukanlah varian baru, hanya saja daya sebarnya lebih cepat meskipun tidak seganas Covid-19.
“Jadi rasanya tidak perlu khawatir berlebihan. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengurangi kecepatan penyebarannya, seperti virus menular atau flu pada umumnya, tentu saja menjaga diri agar tidak tertular adalah hal paling penting,” tegasnya.
Pihaknya mengimbau pelaku perjalanan, terutama yang keluar atau masuk negeri, untuk selalu menjaga kesehatan. “Rajin memakai masker kembali di situasi atau tempat-tempat tertentu yang memungkinkan kita bersinggungan dengan banyak orang juga menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan disiplin,” imbaunya.
Rosidi juga mengaku bahwa jumlah masyarakat yang melakukan vaksin sebelum perjalanan ke luar negeri meningkat, terutama saat superflu menyebar di Indonesia.
“Vaksinasi di BBKK tersedia, bulan Desember pelaku perjalanan seperti umrah selain minigitis dan polio wajib, mereka minta juga untuk vaksin flu sehingga banyak yang vaksin flu. Memang lebih bagus divaksin flu,” katanya.
Ia juga menegaskan hingga saat ini, superflu jenis ini tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan virus influenza lainnya dan tidak bersifat mematikan. Kasus kematian seperti yang terjadi di Jawa Barat menurutnya disebabkan oleh riwayat penyakit atau komorbid pada pasien.
“Penyakit ini tidak mematikan namun, kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak usia 1-10 tahun, lansia, orang dengan penyakit kronis, serta mereka yang menderita gangguan imunitas tetap perlu lebih berhati-hati dan waspada,” tegasnya.
Gejala klinis yang muncul pada kasus superflu, kata Rosidi, kebanyakan serupa dengan flu musiman biasa, antara lain demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, serta rasa lemas. (ahm)

