Categories: Surabaya

Banjir Masih Menggenang di Surabaya, Pegiat Sejarah: Dulu Belanda Bangun Drainase dan Kali Jagir, Sekarang Makin Parah Ulah Manusia

METROTODAY, SURABAYA – Banjir yang kerap melanda berbagai wilayah Surabaya setiap musim hujan bukanlah masalah baru. Data yang disimpan di Indieinoorlog.nl mencatat bahwa banjir sudah terjadi di Kota Pahlawan pada tahun 1947, dengan sejumlah pemukiman warga terendam air.

Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa pada masa agresi, pemerintah kolonial Belanda yang kala itu menduduki Indonesia juga sempat dibuat bingung oleh kejadian banjir.

Namun, pada masa itu masalah tersebut cepat teratasi berkat banyaknya lahan hijau dan kemampuan resapan air yang baik.

“Lain dulu lain sekarang, dahulu banjir terjadi karena faktor alam. Air laut yang sedang pasang disertai hujan berintensitas tinggi menjadi penyebab timbulnya banjir. Sehingga kantong air yang berada di muara sungai meluap. Air yang seharusnya mengalir ke lautan kembali meluber di daratan, kemudian merendam pemukiman yang berada di sekitarnya,” ujarnya, Kamis (8/1).

Menurut Nur, pemerintah Belanda kala itu juga telah mengambil langkah untuk mengatasi masalah banjir dengan membuat gorong-gorong di jalan protokol seperti Embong Malang.

Tujuannya adalah agar pembuangan air bisa mengalir hingga ke laut melalui sambungan aliran yang menghubungkan ke kawasan Kenjeran

“Dulu Pemerintah Belanda juga sempat membuat gorong-gorong. Bahkan kali Jagir itu juga buatan Belanda yang biasa menampung air dari sungai Brantas,” jelasnya.

Berbeda dengan masa lalu, kini banjir di Surabaya disebabkan oleh berbagai faktor, tidak hanya alam tetapi juga akibat campur tangan manusia.

Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang utama masalah banjir karena menyebabkan penyumbatan saluran drainase.

Selain itu, pembangunan masif gedung, mall, apartemen, dan fasilitas lainnya di berbagai penjuru kota juga berkontribusi.

“Waduk alami sebagai penampung air banyak beralih fungsi atau bahkan hilang berganti menjadi perumahan elite. Lahan hijau semakin berkurang dan resapan air perlahan lenyap,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Atasi Banjir di Surabaya Selatan, Pemkot Fokus Penyambungan Saluran dan Penyamaan Ketinggian Air

Penanganan banjir di wilayah Surabaya Selatan dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah kota menitikberatkan pada…

7 hours ago

Anas Karno Resmi Jabat Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Kota Surabaya

Anas Karno ditetapkan sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya dalam rapat paripurna yang digelar…

7 hours ago

Gantikan Adi Sutarwijono, Syaifuddin Zuhri Dilantik sebagai Ketua DPRD Surabaya, Fokus Optimalisasi Pendapatan Daerah

Syaifuddin Zuhri resmi dilantik dan mengucap sumpah jabatan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…

7 hours ago

Kelihaian Perempuan Mengubah Diam Menjadi Emas

KALIMAT yang diucapkan belum sepenuhnya tuntas. Tapi, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tak…

9 hours ago

Pakar: Pengelolaan Budaya Surabaya Dinilai Masih Fase Transisi

Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju…

1 day ago

KAI Uji Coba Biodiesel B50 di KA Sembrani, Performa Tetap Optimal di Jalur Surabaya – Jakarta

PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50…

1 day ago

This website uses cookies.