Categories: Surabaya

Surabaya akan Buat Satgas Anti-Preman Usai Rumah Nenek di Sambikerep Dijarah dan Dirobohkan Ormas

METROTODAY, SURABAYA – Kasus perobohan rumah nenek Elina Widjajanti, 80, yang diduga dilakukan oknum organisasi masyarakat (ormas) di Kuwukan, Sambikerep menjadi perhatian khusus Pemkot Surabaya untuk diusut hingga tuntas.

Eri Cahyadi menegaskan tidak ada ruang bagi tindakan semena-mena di Kota Pahlawan dan hukum harus ditegakkan tanpa kompromi.

Merespons video viral perusakan rumah warga yang hancur rata dengan tanah, Cak Eri menjelaskan bahwa kasus ini sudah ditangani sejak sebelum viral di media sosial.

“Kejadian ini sudah ditangani Polda Jawa Timur. Sebelum viral sudah dilaporkan karena sudah ditangani pihak kecamatan. Saya secara pribadi akan berkoordinasi dengan Polda agar masalah ini menjadi atensi khusus dan segera diselesaikan. Harus ada kejelasan hukum karena yang salah ya, harus dihukum,” tegasnya.

Menurutnya, ketegasan hukum sangat penting untuk menjaga kepercayaan warga. Jika tindakan semena-mena terhadap lansia dibiarkan tanpa sanksi, warga akan merasa tidak aman tinggal di kotanya sendiri.

Sebagai langkah preventif jangka panjang, Pemkot Surabaya bersama TNI dan Polri akan segera membentuk Satgas Anti-Preman yang melibatkan aparat dan tokoh suku.

“InsyaAllah kita buatkan tempat di Pemkot Surabaya untuk Satgas Anti-Preman. Surabaya harus aman. TNI, Polri, dan seluruh elemen suku akan bergabung. Siapa pun yang melakukan premanisme akan ditindak dan dihilangkan dari kota ini,” ujarnya.

Selain itu, Cak Eri berencana mengumpulkan seluruh ketua ormas dan tokoh suku pada malam tahun baru atau awal Januari 2026 untuk menyamakan visi menjaga kondusivitas kota

“Kita ini warga Surabaya, mau suku apa pun, jangan sampai terpecah belah. Kita tidak boleh berbuat semena-mena atau menipu sesama warga Surabaya. Kalau ada yang tidak benar, ayo kita lawan bareng-bareng secara hukum,” katanya.

Terkait kondisi korban, Pemkot tengah melakukan asesmen kebutuhan mendesak. Selain bantuan fisik atau tempat tinggal, ia menekankan pentingnya pemulihan psikis nenek Elina.

“Yang paling penting adalah psikisnya. Kami juga menguatkan warga dan tetangga di sekitar lokasi. Surabaya boleh jadi kota besar, tapi jangan pernah kehilangan empati terhadap sesama. Harus saling menjaga dan menguatkan,” pesannya.

Ia juga menghimbau warga tidak melakukan aksi anarkis atau benturan antarwarga sebagai reaksi. “Ayo warga Surabaya, kita saling menjaga dan mengawal proses hukumnya hingga tuntas dan Nenek Elina mendapatkan keadilan,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Taxmon Perkuat Pengawasan Pajak Daerah, Pemkab Sidoarjo Targetkan 454 Titik Terpasang Akhir Juli 2026

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…

8 hours ago

Socceroos Kena Tilang di Seattle, Amerika Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…

19 hours ago

Cinta Rashford pada Barcelona Bertepuk Sebelah Tangan meski Sudah Rela Turun Harga

Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…

19 hours ago

Cak Klepon Pabean Cantian Jemput Bola Urus Akta Kelahiran dan Kematian Warga Surabaya

Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…

19 hours ago

Gaji ke-13 dan TPP ASN/PPPK Surabaya Dipastikan Cair, TPP Naik Menjadi 100 Persen

Pemkot Surabaya memastikan gaji ke-13 serta Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)…

20 hours ago

Liverpool Bertaruh dengan Iraola, Van Dijk Akui Terkejut Slot Didepak

Liverpool FC resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah dua musim kebersamaan dan langsung…

21 hours ago

This website uses cookies.