METROTODAY, SIDOARJO – Ada yang membahagiakan di gedung MOB B lantai 2 PT Tjiwi Kimia, Kamis (2/4/2026). Ratusan wartawan dari Sidoarjo dan Mojokerto berkumpul bersama segenap tim PT Tjiwi Kimia untuk melangsungkan halalbihalal akbar.
”Jadi, kami berupaya untuk menjalin komunikasi agar semakin harmonis,” kata Benny Haryawan, Manager Public Affair and License PT Tjiwi Kimia.
Para insan media dalam halalbihalal tersebut berasal dari berbagai organisasi. Mereka datang dari Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sidoarjo dan Mojokerto, serta Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Juga ada (Wira Ekologi Nusantara (Wirakologi), sebuah PT Social Enterprise yang fokus pada pembangkitan partisipasi publik dan pemberdayaan lingkungan hidup.
Acara berlangsung meriah. Tampak keakraban antara wartawan dari berbagai media itu. Tak sekadar bertemu, mereka juga bisa saling bermaaf-maafan dalam momen bulan Syawal.
Benny mengungkapkan bahwa Industri tidak bisa bergerak sendiri di tengah masyarakat. Ia membutuhkan dukungan konkret media massa agar keberadaannya bisa dirasakan.
”Peran Industri tidak bisa dipisahkan dari media massa. Kami harus bergandengan tangan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama,” jelasnya.
Salah satunya, perhatian media kepada lingkungan hidup dan industri. Media tidak hanya berperan mengontrol, tetapi juga membangkitkan partisipasi publik agar menjaga lingkungan bersama.
”Kami memberikan perhatian kepada pengelolaan sampah. Kami ingin membangkitkan kesadaran bahwa semua orang harus menjaga kebersihan. Media akan lebih bermakna bila ikut mengambil peran ini,” katanya.
Dalam kesempatan halal bihalal kemarin, tim dari Wirakologi tampil untuk memperkenalkan diri. Wirakologi berisi sejumlah aktivis yang berlatar belakang sebagai pekerja media.
”Kami melakukan sosialisasi dan edukasi. Kami blusukan ke sekolah dan ke masyarakat membangun kesadaran agar muncul banyak kader lingkungan,” kata Anggit Satriyo Nugroho, salah satu founder Wirakologi.
Banyak hal yang dilakukan. Di antaranya, mendidik jurnalis-jurnalis sekolah agar peduli lingkungan. Mereka dilatih untuk mengabarkan kepada semua orang tentang perlunya kepedulian lingkungan. Melalui storytelling ala jurnalis profesional.
Selain itu, Wirakologi mengajarkan kepada masyarakat untuk giat membuat bank-bank sampah. ”Harapannya, lingkungan zero waste. Tapi, sampahnya juga bernilai ekonomi,” ujar Anggit yang juga seorang advokat itu.
Menurut dia, peduli lingkungan tidak hanya ditunjukkan dengan mengkritisi kebijakan dan menyorot lingkungan yang buruk akibat pencemaran. Tapi, juga turun tangan mengubah sikap masyarakat dengan pengenalan kebiasaan baru dan kepedulian.
Anggit tidak datang sendiri. Dia mengajak tim yang lain untuk memperkenalkan diri. Di antaranya, Naufal Widi, Musonif Afandi, Fathur Roziq, dan Dite Surendra yang selama ini menjadi penggerak kampanye peduli lingkungan hidup. (red/MT)


