Categories: Surabaya Raya

Hilal di Surabaya dan 21 Titik di Jatim Tidak Terlihat, Pemerintah Pastikan Puasa Kamis

METROTODAY, SURABAYA – Rukyatul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M yang dilakukan di Masjid Al Mabrur, Nambangan, Kenjeran, Surabaya pada Selasa (17/2) dinyatakan tidak terlihat. Hal yang sama juga terjadi di seluruh 21 titik lokasi pemantauan di Provinsi Jawa Timur.

Pemantauan di Masjid Al Mabrur dilakukan sejak sore hingga waktu maghrib dengan menggunakan rubu (teropong tradisional) dan alat pendukung lainnya. Kegiatan ini dijalankan oleh Tim Falakiyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Bulak, bersama dengan saksi dari organisasi Islam, Banser, tokoh masyarakat, dan takmir masjid.

“Hilal tidak kelihatan karena hilal berada di bawah ufuk 2 derajat. Jadi bulan puasa kita tunggu saja keputusan dari sidang isbat pemerintah,” ujar KH. Masduqi Ahyat, anggota takmir masjid Al Mabrur sekaligus bagian dari Tim Falakiyah MWC NU Bulak, Selasa (17/2).

Menurutnya, berdasarkan hisab, posisi hilal berada 2 derajat di bawah ufuk setelah matahari tenggelam. “Kalau terhalang mendung tapi bulan di atas ufuk mungkin masih bisa terlihat, tapi kalau di bawah ufuk pasti tidak kelihatan,” tuturnya.

KH. Masduqi menjelaskan bahwa hasil pemantauan di Masjid Al Mabrur akan dilaporkan ke Kementerian Agama sebagai rujukan bersama dengan titik pemantauan lainnya di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Agama menyatakan hilal belum terlihat di seluruh wilayah Indonesia. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur juga melaksanakan rukyatul hilal di 21 titik lokasi yang tersebar di kabupaten/kota se-Jawa Timur, dengan hasil yang sama yaitu hilal tidak terlihat.

Secara hisab, posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang ditetapkan oleh MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menegaskan hasil pemantauan di wilayahnya. “Berdasarkan hasil pemantauan di 21 titik lokasi di Jawa Timur, hilal tidak terlihat karena posisinya masih berada di bawah ufuk. Dengan demikian, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hasil rukyatul hilal dari daerah telah dilaporkan berjenjang ke Kementerian Agama sebagai bahan dalam Sidang Isbat di Jakarta. “Penetapan resmi 1 ramadan 1447 Hijriah jatuh Kamis 19 Februari berdasarkan hasil sidang isbat,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Sidoarjo Jadi Kabupaten STBM 5 Pilar, Bukti Budaya Hidup Bersih di Masyarakat

Upaya panjang Pemkab Sidoarjo membangun budaya hidup bersih dan sehat akhirnya membuahkan hasil. Resmi menyandang…

20 hours ago

Harkopnas ke-79, Momentum Serukan Kebangkitan Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Nasional

Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) sukses menyelenggarakan acara Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 Tingkat…

22 hours ago

Isu HIV di Kalangan Pelajar Merupakan Akumulasi Kasus, Dinkes Sidoarjo: Edukasi dan Pendampingan Harus Jadi Prioritas

Isu yang menyebut ratusan pelajar di Kabupaten Sidoarjo terjangkit HIV sempat memicu keresahan masyarakat. Bahkan…

1 day ago

70 Persen Wabah Baru dari Hewan, Surabaya Perkuat Pencegahan Zoonosis Termasuk Leptospirosis dan Rabies

Sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi wabah berasal dari hewan. Menjawab ancaman itu,…

1 day ago

Mentan Amran Janji Bayar Rp 100 Miliar Jika Benih Jagung ITS Hasilkan 10 Ton per Hektare

Kementerian Pertanian RI memberikan dukungan nyata hilirisasi riset perguruan tinggi dengan membeli sejumlah alat pertanian…

1 day ago

Muatan Berat dan Jalan Miring, Tossa Tercebur ke Sungai di Kenjeran Surabaya, Pengemudi Selamat

Sebuah kendaraan roda tiga atau tossa bernomor polisi L 3539 EX yang mengangkut material bangunan…

2 days ago

This website uses cookies.