4 February 2026, 7:05 AM WIB

Atasi Ketimpangan Medis di Indonesia Timur, Universitas Ciputra Buka PPDS Obgyn dan Bedah

METROTODAY, SURABAYA — Kesenjangan distribusi dokter spesialis antara Pulau Jawa dan wilayah luar Jawa masih menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional. Merespons kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (FK UC) Surabaya resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk dua bidang krusial: Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Spesialis Bedah.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung akselerasi pemenuhan rasio dokter spesialis yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan rujukan, khususnya di wilayah timur, kerap terkendala oleh minimnya tenaga ahli di bidang bedah dan kesehatan reproduksi.

Dekan FK Universitas Ciputra Prof. dr. Hendy Hendarto, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., mengungkapkan bahwa pembukaan program ini memikul misi khusus untuk pemerataan layanan kesehatan. FK UC tidak hanya fokus pada proses transfer ilmu, tetapi juga pada jaminan ketersediaan tenaga medis di daerah tertinggal.

“Kebutuhan dokter spesialis di Indonesia Timur masih sangat tinggi. Oleh karena itu, kami menyiapkan program beasiswa bagi calon peserta didik asal wilayah tersebut,” ujar Prof. Hendy, Selasa (26/1/2026).

Namun, beasiswa ini memiliki klausul yang tegas. Para penerima bantuan biaya pendidikan diwajibkan untuk kembali dan mengabdi di daerah asal mereka setelah lulus. Skema ini diharapkan dapat memutus rantai penumpukan dokter spesialis di kota-kota besar di Pulau Jawa.

WhatsApp Image 2026-01-26 at 11.03.48

Selain isu distribusi, kualitas lulusan juga menjadi sorotan. Pada PPDS Bedah, FK UC mengintegrasikan kurikulum dengan perkembangan teknologi medis terbaru, yakni teknik bedah invasif minimal (minimal invasive surgery).

Teknik ini menjadi standar baru dalam dunia kedokteran modern karena mampu meminimalkan luka sayatan, mengurangi risiko komplikasi, dan mempercepat masa pemulihan pasien.

“Teknologi operasi terus berkembang pesat. Dokter masa depan tidak hanya dituntut menguasai kemampuan dasar bedah, tetapi harus mahir menggunakan teknologi mutakhir agar pelayanan pasien lebih efektif dan efisien,” kata Prof. Hendy.

Untuk mendukung visi tersebut, Universitas Ciputra tengah menyiapkan infrastruktur fisik berupa tower khusus bagi Fakultas Kedokteran. Fasilitas ini akan menjadi pusat riset dan pembelajaran intensif bagi para calon dokter spesialis.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa rasio dokter spesialis di Indonesia masih jauh dari ideal. Bidang Obgyn dan Bedah merupakan dua pilar utama dalam layanan kesehatan rujukan yang paling dibutuhkan di daerah-daerah terpencil untuk menekan angka kematian ibu dan bayi serta menangani kasus-kasus trauma.

Kehadiran PPDS di Universitas Ciputra diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis nasional untuk mempersempit jurang kualitas layanan kesehatan antara barat dan timur Indonesia. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA — Kesenjangan distribusi dokter spesialis antara Pulau Jawa dan wilayah luar Jawa masih menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional. Merespons kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (FK UC) Surabaya resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk dua bidang krusial: Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Spesialis Bedah.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung akselerasi pemenuhan rasio dokter spesialis yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan rujukan, khususnya di wilayah timur, kerap terkendala oleh minimnya tenaga ahli di bidang bedah dan kesehatan reproduksi.

Dekan FK Universitas Ciputra Prof. dr. Hendy Hendarto, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., mengungkapkan bahwa pembukaan program ini memikul misi khusus untuk pemerataan layanan kesehatan. FK UC tidak hanya fokus pada proses transfer ilmu, tetapi juga pada jaminan ketersediaan tenaga medis di daerah tertinggal.

“Kebutuhan dokter spesialis di Indonesia Timur masih sangat tinggi. Oleh karena itu, kami menyiapkan program beasiswa bagi calon peserta didik asal wilayah tersebut,” ujar Prof. Hendy, Selasa (26/1/2026).

Namun, beasiswa ini memiliki klausul yang tegas. Para penerima bantuan biaya pendidikan diwajibkan untuk kembali dan mengabdi di daerah asal mereka setelah lulus. Skema ini diharapkan dapat memutus rantai penumpukan dokter spesialis di kota-kota besar di Pulau Jawa.

WhatsApp Image 2026-01-26 at 11.03.48

Selain isu distribusi, kualitas lulusan juga menjadi sorotan. Pada PPDS Bedah, FK UC mengintegrasikan kurikulum dengan perkembangan teknologi medis terbaru, yakni teknik bedah invasif minimal (minimal invasive surgery).

Teknik ini menjadi standar baru dalam dunia kedokteran modern karena mampu meminimalkan luka sayatan, mengurangi risiko komplikasi, dan mempercepat masa pemulihan pasien.

“Teknologi operasi terus berkembang pesat. Dokter masa depan tidak hanya dituntut menguasai kemampuan dasar bedah, tetapi harus mahir menggunakan teknologi mutakhir agar pelayanan pasien lebih efektif dan efisien,” kata Prof. Hendy.

Untuk mendukung visi tersebut, Universitas Ciputra tengah menyiapkan infrastruktur fisik berupa tower khusus bagi Fakultas Kedokteran. Fasilitas ini akan menjadi pusat riset dan pembelajaran intensif bagi para calon dokter spesialis.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa rasio dokter spesialis di Indonesia masih jauh dari ideal. Bidang Obgyn dan Bedah merupakan dua pilar utama dalam layanan kesehatan rujukan yang paling dibutuhkan di daerah-daerah terpencil untuk menekan angka kematian ibu dan bayi serta menangani kasus-kasus trauma.

Kehadiran PPDS di Universitas Ciputra diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis nasional untuk mempersempit jurang kualitas layanan kesehatan antara barat dan timur Indonesia. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait