METROTODAY, SURABAYA – Perwakilan Delegasi Uni Eropa (EU) bersama perwakilan Pemerintah Jerman dan negara anggota Uni Eropa lainnya berkunjung ke Surabaya untuk menindaklanjuti perkembangan proyek Jalur Kereta Api Regional Surabaya atau Surabaya Regional Railway Line (SRRL), salah satu dari tiga proyek unggulan di bawah inisiatif Global Gateway yang didanai melalui dukungan Jerman.
Delegasi diterima oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, kemudian melanjutkan kunjungan ke proyek Stasiun Pasar Turi sebagai bagian dari pembangunan SRRL Fase 1.
Kunjungan ini bertujuan untuk mempresentasikan ruang lingkup proyek, perkembangan terkini, langkah kerja selanjutnya, serta membahas area investasi prioritas di Jawa Timur dan potensi peluang bagi perusahaan Eropa di bidang transportasi, mobilitas, dan rantai nilai terkait.
Dana proyek berjumlah total EUR 296,8 juta, terdiri dari pinjaman lunak EUR 230 juta dan hibah EUR 6 juta dari Jerman melalui KfW, serta dana EUR 60,8 juta dari Kementerian Perhubungan Jerman.
Perjanjian ini ditandatangani pada 30 Juni 2025, dengan Pemprov Jatim berperan penting dalam perizinan, manajemen lintas pekerjaan, dan komunikasi transparan antar pemangku kepentingan.

“Investasi pada infrastruktur kereta api akan menentukan arah perkembangan sebuah kota dalam beberapa dekade mendatang. Karena alasan ini, kualitas sangat lah penting dan inilah yang dapat diberikan Jerman dan Eropa melalui Inisiatif Global Gateway,” kata Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menambahkan, jalur kereta api regional Surabaya menunjukkan bagaimana global gateway menerjemahkan prioritas bersama menjadi infrastruktur konkret.
“Dengan hadirnya transportasi kereta akan meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari mobilitas yang lebih aman, lebih cepat, dan lebih bersih bagi masyarakat, serta menjadi fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan perkotaan yang berkelanjutan,” ujar Denis.
Kunjungan hari ini juga menyoroti peluang bagi perusahaan-perusahaan Eropa untuk bermitra dengan Indonesia di bidang transportasi dan mobilitas.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan keselarasan proyek SRRL dengan program pembangunan daerah.
“Proyek Kereta Api Surabaya Fase 1 sepenuhnya selaras dengan Nawa Bhakti Satya, sembilan program prioritas untuk pembangunan Jawa Timur di RPJMD 2025-2029. Di antaranya adalah Jatim akses yang diwujudkan dalam bentuk pemerataan pembangunan dan konektivitas antar wilayah,” ujarnya.
“Peningkatan layanan kereta api regional telah masuk dalam 25 Rencana Aksi Rencana Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan (SUMP GKS+) Jawa Timur dan tercantum dalam Perpres No. 12/2025 tentang RPJMN 2025-2029,” kata Khofifah.
Sementara itu, proyek SRRL Fase 1 dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Jerman melalui Bank Pembangunan KfW.
Proyek ini akan mentransformasi mobilitas komuter antara Surabaya dan Sidoarjo serta memperkuat pembangunan perkotaan berkelanjutan di wilayah metropolitan Gerbangkertosusila (GKS).
Fase 1 mencakup pembangunan sekitar 22 km jalur ganda dan elektrifikasi, modernisasi lima stasiun, peningkatan sistem keselamatan di perlintasan, pembangunan Depo Sidotopo permanen, serta peningkatan kualitas layanan dengan interval keberangkatan hingga 15 menit.
Setelah beroperasi lima tahun ke depan, jalur ini diharapkan mengangkut lebih dari 200.000 penumpang per hari, memberikan manfaat bagi lebih dari 1,3 juta penduduk dalam dua tahun pertama, mengurangi kemacetan dan biaya logistik.
Proyek ini juga akan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 150.000 ton CO₂ per tahun saat fase kedua selesai pada tahun 2045. (ahm)

