Alat berat ekskavator menormalisasi sungai untuk mengembalikan kapasitas afvour dan mencegah banjir. (Foto: Kominfo Sidoarjo)
METRO TODAY, SIDOARJO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim hujan di Indonesia pada 2025—2026 akan tiba lebih awal. Sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan pada Agustus 2025. Namun, untuk Pulau Jawa, puncak musim hujan diperkirakan mulai pada Januari—Februari.
Pemkab Sidoarjo melakukan langkah-langkah antisipasi. Untuk mencegah terjadinya banjir di sejumlah wilayah, Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM SDA) Sidoarjo menormalisasi saluran pelimpah (afvour). Normalisasi afvour itu dikebut agar rampung sebelum musim hujan tiba.
Di antaranya, Afvour Desa Candi sampai Klurak, di Kecamatan Candi; Afvour Trengguli di Desa Kedungkembar, Kecamatan Prambon; Afvour Kedungkampul di Desa Tanjekwagir, Kecamatan Krembung, serta Afvour Kedungpeluk di Kecamatan Candi.
”Ini sudah mendekati musim hujan. Upaya normalisasi sungai terus kita lakukan untuk mencegah banjir saat hujan nanti,” kata Bupati Sidoarjo Subandi lewat sambungan telepon pada Senin (13 Oktober 2025).
Normalisasi sungai dilakukan dengan mengembalikan kapasitas daya tampung air. Baik mengeruk endapan sungai di bawah maupun mengembalikan lebar sungai. Panjang sungai yang dinormalisasi beragam sesuai dengan kondisinya. Misalnya, normalisasi Afvour Desa Klurak, Kecamatan Candi, dilakukan sepanjang 1,2 kilometer. Afvour Kedungpeluk dinormalisasi sekitar 2,3 kilometer.
”Alat berat sudah diturunkan dan bekerja di sana. Kita berharap prosesnya bisa cepat dan tanpa kendala. Sungai-sungai itu mampu menampung air saat hujan,” tambah Bupati Subandi.
Bupati Subandi mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersihan. Terutama, menjaga bersama-sama untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Sampah dan kotoran akan menyumbat dan menghambat aliran sungai. Akibatnya, biar terjadi banjir di permukiman sekitarnya.
Pemkab Sidoarjo juga menggalakkan berbagai upaya untuk mencegah banjir. Di antaranya, menggencarkan program Jihad Rawat Sungai melibatkan berbagai elemen. Baik masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, ormas, dan sebagainya.
”Upaya-upaya terus kita lakukan. Tapi, yang lebih penting adalah menggugah terus kesadaran warga. Semangat gotong royong untuk ikut menjaga dan merawat sungai,” ungkap Bupati Subandi. (MT)
Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena…
Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…
Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…
Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…
Sebuah mobil Toyota Innova Zenix mengalami kecelakaan tunggal setelah menabrak tiang lampu penerangan jalan dan…
Cukup mudah menjangkau Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Di tengah ruas Jalan Tol Waru—Juanda,…
This website uses cookies.