Penumpang KM Mutiara Sentosa yang berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke laut menggunakan jaket pelampung berhasil diselamatkan kru kapal yang tengah melintas. (Foto: Istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Insiden kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 di perairan Giliyang, Sumenep, Madura, Minggu (2/8) pagi masih menyisakan duka mendalam. Sebagian korban yang selamat kini masih menjalani perawatan medis untuk memulihkan kondisi fisik yang sangat lelah pasca masa sulit mengapung di laut.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memastikan seluruh korban selamat mendapatkan penanganan medis yang baik.
Ia menjelaskan kelelahan luar biasa menjadi keluhan utama, akibat harus melompat dari ketinggian kapal dan bersusah payah naik ke kapal penolong yang lebih besar hanya lewat tangga tali. Bahkan anak-anak pun mengalaminya, namun kini kondisinya perlahan membaik.
“Bahkan anak-anak yang di bawah umur pun ada korban usia 2 tahun, ada yang 8 tahun, alhamdulillah dalam kondisi pemulihan. Saya sempat melihat salah satunya, sedangkan di wilayah Masalembu juga ditemukan korban anak-anak,” jelasnya, Rabu (5/8).
Diketahui dari total 238 orang yang berada di atas kapal termasuk penumpang, awak kapal, petugas seluruh berhasil dievakuasi: 233 orang selamat dan 5 orang meninggal dunia.
Para korban bertahan sekitar dua jam di laut sebelum dijemput kapal-kapal yang melintas. Penyelamatan berkat kerja sama cepat KM Meratus Pematang Siantar, TB Hasnur, SAR Permadi, Selaras Mas, KRI Nala, hingga KM Mutiara Ferindo 1.
Syafii menekankan satu kunci keberhasilan besar penyelamatan nyawa dengan kedisiplinan pakai jaket pelampung.
“Dari hasil konfirmasi langsung kepada korban, seluruhnya sudah menggunakan jaket pelampung saat terjun ke laut,” ujarnya.
Sementara iti muncul fakta baru pihak manajemen kapal mengakui ada lima penumpang anak yang tidak tercantum dalam daftar resmi/manifest saat kejadian di perairan Masalembo. Saat ini perusahaan masih menyelaraskan data untuk memastikan jumlah keseluruhan penumpang.
Kepala Cabang PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) Surabaya, Ferdinand Pondang, menjelaskan penyebabnya.
“Kalau untuk daftar anak itu memang tidak didaftarkan oleh si pembeli tiket kepada kami. Jadi anak yang lima itu tidak termasuk manifest kami,” ungkap Ferdinand. Pihaknya terus mencocokkan data internal dan laporan lapangan hingga angka pasti terpenuhi. (ahm)
Semangat tak mengenal usia dan kecintaan mendalam pada alam berakhir duka bagi Maliya Finda, 51.…
Keselamatan warga di tengah maraknya proyek pengerjaan saluran air kembali menjadi sorotan tajam. Setelah insiden…
Mobil laboratorium pendidikan keliling Perjalanan Mikroplastik (Microplastic Journey), yang merupakan yang pertama di Indonesia dioperasionalkan.
Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya menuai sorotan. Anggota Komisi B DPRD…
Kanwil DJP Jatim II mencatat penerimaan pajak telah mencapai Rp16,08 triliun. Kepatuhan wajib pajak juga…
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sindy Cornelia Nelwan, drg., Sp.KGA., K-KGA.,…
This website uses cookies.