9 April 2026, 20:05 PM WIB

Dari Bali ke Jakarta, Tiga Bersaudara Lari 1.260 Km untuk Kampanye Lawan Sampah Sungai

spot_img

METROTODAY, SITUBONDO — Aksi tak biasa dilakukan tiga bersaudara pendiri Sungai Watch: Gary Bencheghib, Kelly Bencheghib, dan Sam Bencheghib. Mereka memilih berlari melintasi Pulau Jawa sejauh 1.260 kilometer. Bukan untuk lomba, melainkan demi satu misi: melawan polusi plastik di sungai.

Gary bersama dua adiknya kini tengah menjalani ultra-maraton tersebut. Perjalanan dimulai dari Bali sejak 28 Maret 2026. Ditargetkan, lari berakhir di Monumen Nasional, Jakarta, pada akhir Mei mendatang.

Setiap hari, mereka menempuh rata-rata 25 kilometer. Jika ditotal, jarak itu setara dengan 28 maraton berturut-turut yang harus diselesaikan dalam waktu 57 hari.

Namun, yang membuat aksi ini berbeda, lari tersebut tidak hanya soal ketahanan fisik. Di sepanjang perjalanan, ketiganya kerap berhenti di titik-titik sungai. Mereka turun langsung, mengangkat sampah plastik, sekaligus mengajak masyarakat sekitar ikut terlibat. Edukasi dilakukan secara langsung—menyasar pelajar hingga warga di bantaran sungai.

”Kami tidak hanya berlari. Tim kami juga sudah berada di depan untuk memetakan titik pembersihan dan bekerja bersama masyarakat,” ujar Gary.

WhatsApp Image 2026-04-09 at 16.41.44
Aksi lari sejauh 1.260 kilometer demi misi melawan polusi plastik di sungai. (Dok. Sungai Watch)

Memasuki wilayah Jawa Timur, mereka menghadapi realitas yang tidak ringan. Sejumlah aliran sungai yang dilalui berada dalam kondisi tercemar, terutama di kawasan padat penduduk dan industri. Tumpukan sampah plastik masih mudah ditemukan di beberapa titik.

Aksi itu pun perlahan menarik perhatian luas. Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Sandiaga Salahuddin Uno yang sempat bertemu langsung dengan tim Sungai Watch. Dukungan juga disampaikan Dirgayuza Setiawan.

Saat tiba di Jakarta nanti, mereka menargetkan dapat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membawa isu polusi sungai ke tingkat nasional.

Di balik aksi tersebut, terdapat target konkret yang ingin dicapai. Yakni, penggalangan dana sebesar USD 1 juta. Konsep yang diusung cukup sederhana: setiap USD 1 yang didonasikan akan digunakan untuk mengangkat 1 kilogram sampah dari sungai.

Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas operasional Sungai Watch. Saat ini, organisasi tersebut telah mengoperasikan sejumlah fasilitas pemilahan sampah di Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo.

WhatsApp Image 2026-04-09 at 16.41.08
Foto bersama Sungai Watch dalam kampanye melawan polusi plastik di sungai. (Dok. Sungai Watch)

Sejak berdiri pada 2020, Sungai Watch telah mengangkat lebih dari 4,6 juta kilogram sampah dari sungai, memasang ratusan penghalang sampah, serta melibatkan puluhan ribu relawan.

Meski demikian, tantangan masih besar. Volume sampah yang terus mengalir ke sungai menunjukkan bahwa persoalan ini belum terselesaikan.

Melalui aksi lari lintas pulau ini, ketiga bersaudara tersebut berharap dapat membangun kesadaran publik bahwa persoalan sungai tidak bisa diabaikan. Perjalanan masih panjang. Namun, langkah yang mereka tempuh menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari aksi nyata—sekecil apa pun itu. (dite)

spot_img

METROTODAY, SITUBONDO — Aksi tak biasa dilakukan tiga bersaudara pendiri Sungai Watch: Gary Bencheghib, Kelly Bencheghib, dan Sam Bencheghib. Mereka memilih berlari melintasi Pulau Jawa sejauh 1.260 kilometer. Bukan untuk lomba, melainkan demi satu misi: melawan polusi plastik di sungai.

Gary bersama dua adiknya kini tengah menjalani ultra-maraton tersebut. Perjalanan dimulai dari Bali sejak 28 Maret 2026. Ditargetkan, lari berakhir di Monumen Nasional, Jakarta, pada akhir Mei mendatang.

Setiap hari, mereka menempuh rata-rata 25 kilometer. Jika ditotal, jarak itu setara dengan 28 maraton berturut-turut yang harus diselesaikan dalam waktu 57 hari.

Namun, yang membuat aksi ini berbeda, lari tersebut tidak hanya soal ketahanan fisik. Di sepanjang perjalanan, ketiganya kerap berhenti di titik-titik sungai. Mereka turun langsung, mengangkat sampah plastik, sekaligus mengajak masyarakat sekitar ikut terlibat. Edukasi dilakukan secara langsung—menyasar pelajar hingga warga di bantaran sungai.

”Kami tidak hanya berlari. Tim kami juga sudah berada di depan untuk memetakan titik pembersihan dan bekerja bersama masyarakat,” ujar Gary.

WhatsApp Image 2026-04-09 at 16.41.44
Aksi lari sejauh 1.260 kilometer demi misi melawan polusi plastik di sungai. (Dok. Sungai Watch)

Memasuki wilayah Jawa Timur, mereka menghadapi realitas yang tidak ringan. Sejumlah aliran sungai yang dilalui berada dalam kondisi tercemar, terutama di kawasan padat penduduk dan industri. Tumpukan sampah plastik masih mudah ditemukan di beberapa titik.

Aksi itu pun perlahan menarik perhatian luas. Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Sandiaga Salahuddin Uno yang sempat bertemu langsung dengan tim Sungai Watch. Dukungan juga disampaikan Dirgayuza Setiawan.

Saat tiba di Jakarta nanti, mereka menargetkan dapat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membawa isu polusi sungai ke tingkat nasional.

Di balik aksi tersebut, terdapat target konkret yang ingin dicapai. Yakni, penggalangan dana sebesar USD 1 juta. Konsep yang diusung cukup sederhana: setiap USD 1 yang didonasikan akan digunakan untuk mengangkat 1 kilogram sampah dari sungai.

Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas operasional Sungai Watch. Saat ini, organisasi tersebut telah mengoperasikan sejumlah fasilitas pemilahan sampah di Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo.

WhatsApp Image 2026-04-09 at 16.41.08
Foto bersama Sungai Watch dalam kampanye melawan polusi plastik di sungai. (Dok. Sungai Watch)

Sejak berdiri pada 2020, Sungai Watch telah mengangkat lebih dari 4,6 juta kilogram sampah dari sungai, memasang ratusan penghalang sampah, serta melibatkan puluhan ribu relawan.

Meski demikian, tantangan masih besar. Volume sampah yang terus mengalir ke sungai menunjukkan bahwa persoalan ini belum terselesaikan.

Melalui aksi lari lintas pulau ini, ketiga bersaudara tersebut berharap dapat membangun kesadaran publik bahwa persoalan sungai tidak bisa diabaikan. Perjalanan masih panjang. Namun, langkah yang mereka tempuh menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari aksi nyata—sekecil apa pun itu. (dite)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait