17 February 2026, 16:15 PM WIB

Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H Dipantau di 21 Kabupaten/Kota di Jatim Hari Ini, Kemenag: Awal Puasa Mungkin 19 Februari

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadan 1447 Hijrah Selasa (17/2). Hasil pengamatan akan dijadikan rujukan dalam sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.

Di Jawa Timur, pelaksanaan rukyatul hilal digelar mulai pukul 17.00 WIB di 21 kabupaten/kota, antara lain Kota Blitar, Kabupaten Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Munir, menjelaskan bahwa acuan yang digunakan mengikuti kriteria imkanur rukyat dari Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

“Hilal dinyatakan memenuhi kriteria imkanur rukyat apabila memiliki tinggi hilal mar’i minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam,” ujarnya pada hari yang sama.

Menurut Munir, kondisi hilal secara astronomi saat ini belum memenuhi syarat, sehingga kemungkinan puasa Ramadan jatuh pada Kamis (19/2).

IMG-20260217-WA0040
Pengamatan hilal di Surabaya pada tahun lalu. Tahun ini, rukyatul hilal akan dilakukan pada Selasa (17/2) secara serentak di 21 kabupaten/kota di Jatim. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Kondisi hilal secara astronomi harus 3 derajat tapi hari ini masih 2 derajat secara astronomi hilal tidak terlihat. Jadi kemungkinan puasa atau 1 Ramadan akan jatuh Kamis 19 Februari,” tutur Munir.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa hasil pengamatan nantinya akan menjadi dasar dalam sidang isbat.

“Apapun hasilnya baik kelihatan atau tidak nanti sebagai acuan untuk sidang isbat,” katanya.

Munir juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan meskipun terdapat perbedaan penentuan awal puasa. Muhammadiyah telah menetapkan puasa 1 Ramadan jatuh pada Rabu (18/2) dan akan menggelar shalat tarawih pada malam ini (17/2), sedangkan pemerintah diperkirakan menetapkan puasa pada Kamis (19/2).

“Ya dengan perbedaan ini adalah sesuatu yang indah. Mari kita bersama menjaga kerukunan dan menghormati saudara kita yang berpuasa besok (Rabu). Dengan begitu Indonesia satu jua menerima perbedaan,” imbaunya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Hisab Rukyat Jatim, M Fauzi, menambahkan bahwa posisi hilal saat ini masih berada di bawah ufuk.

“Posisi hilal masih minus jadi tidak ada hilal. Bulan terbenam terlebih dahulu dibanding dengan matahari. Jadi kemungkinan puasa Ramadan jatuh 19 Februari,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan tetap dilakukan karena ijtima jatuh pada hari ini, sekaligus sebagai upaya dalam pengembangan ilmu hisab.

“Dilakukan rukyatul hilal karena ijtima terjadi hari ini. Jadi kita harus buktikan ini juga sebagai pengemban ilmu hisab untuk memperbaiki data dan sistem yang ada,” ungkapnya.

Fauzi juga mengimbau agar kesatuan dan kerukunan bangsa tetap terjaga meskipun terdapat perbedaan.

“Perbedaan selalu ada tapi itu biasa, apapun namanya perbedaan atau tidak, tetap jaga kebersamaan dan kerukunan. Karena pemerintah dalam hal ini Kemenag akan melakukan puasa tanggal 19 Februari,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadan 1447 Hijrah Selasa (17/2). Hasil pengamatan akan dijadikan rujukan dalam sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.

Di Jawa Timur, pelaksanaan rukyatul hilal digelar mulai pukul 17.00 WIB di 21 kabupaten/kota, antara lain Kota Blitar, Kabupaten Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Munir, menjelaskan bahwa acuan yang digunakan mengikuti kriteria imkanur rukyat dari Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

“Hilal dinyatakan memenuhi kriteria imkanur rukyat apabila memiliki tinggi hilal mar’i minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam,” ujarnya pada hari yang sama.

Menurut Munir, kondisi hilal secara astronomi saat ini belum memenuhi syarat, sehingga kemungkinan puasa Ramadan jatuh pada Kamis (19/2).

IMG-20260217-WA0040
Pengamatan hilal di Surabaya pada tahun lalu. Tahun ini, rukyatul hilal akan dilakukan pada Selasa (17/2) secara serentak di 21 kabupaten/kota di Jatim. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Kondisi hilal secara astronomi harus 3 derajat tapi hari ini masih 2 derajat secara astronomi hilal tidak terlihat. Jadi kemungkinan puasa atau 1 Ramadan akan jatuh Kamis 19 Februari,” tutur Munir.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa hasil pengamatan nantinya akan menjadi dasar dalam sidang isbat.

“Apapun hasilnya baik kelihatan atau tidak nanti sebagai acuan untuk sidang isbat,” katanya.

Munir juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan meskipun terdapat perbedaan penentuan awal puasa. Muhammadiyah telah menetapkan puasa 1 Ramadan jatuh pada Rabu (18/2) dan akan menggelar shalat tarawih pada malam ini (17/2), sedangkan pemerintah diperkirakan menetapkan puasa pada Kamis (19/2).

“Ya dengan perbedaan ini adalah sesuatu yang indah. Mari kita bersama menjaga kerukunan dan menghormati saudara kita yang berpuasa besok (Rabu). Dengan begitu Indonesia satu jua menerima perbedaan,” imbaunya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Hisab Rukyat Jatim, M Fauzi, menambahkan bahwa posisi hilal saat ini masih berada di bawah ufuk.

“Posisi hilal masih minus jadi tidak ada hilal. Bulan terbenam terlebih dahulu dibanding dengan matahari. Jadi kemungkinan puasa Ramadan jatuh 19 Februari,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan tetap dilakukan karena ijtima jatuh pada hari ini, sekaligus sebagai upaya dalam pengembangan ilmu hisab.

“Dilakukan rukyatul hilal karena ijtima terjadi hari ini. Jadi kita harus buktikan ini juga sebagai pengemban ilmu hisab untuk memperbaiki data dan sistem yang ada,” ungkapnya.

Fauzi juga mengimbau agar kesatuan dan kerukunan bangsa tetap terjaga meskipun terdapat perbedaan.

“Perbedaan selalu ada tapi itu biasa, apapun namanya perbedaan atau tidak, tetap jaga kebersamaan dan kerukunan. Karena pemerintah dalam hal ini Kemenag akan melakukan puasa tanggal 19 Februari,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait