METROTODAY, MOJOKERTO – Sebagai upaya pencegahan longsor dan banjir seperti yang terjadi di beberapa kawasan di Indonesia seperti Aceh, Sumatra, dan baru ini di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, sejumlah aktivis lingkungan melakukan aksi tanam pohon.
Kegiatan ini dilakukan di beberapa lokasi terdampak dan berpotensi longsor di kawasan jalur pendakian Gunung Penanggungan Sumber Lumpang, Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Penanaman menggunakan pohon beringin yang dipilih karena memiliki akar yang kokoh.
Menurut aktivis lingkungan dari Gogor Sejati, Patkhur Rozi, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap lokasi rawan longsor di kawasan tersebut dan menemukan dua lokasi yang sudah terdampak longsor.
“Kami melakukan penanaman dengan pohon beringin karena akarnya sangat kokoh dan sudah kami tanam di lokasi longsor dan tempat yang berpotensi longsor,” tutur Rozi, Senin (26/1).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa akar pohon beringin mampu mengikat batuan di dalam tanah sehingga dapat menahan tanah dari longsor.
“Tadi satu tempat kami tanami satu sampai tiga pohon. Agar lebih kokoh (tanahnya, Red). Akar beringin ini bisa mengikat bebatuan di dalam tanah,” jelasnya.
Rozi mengaku prihatin dengan banyaknya hutan yang mengalami alih fungsi lahan dan pembalakan pohon liar secara masif. Hal ini menjadi alasan ia dan kawan-kawan terus bergerak melakukan pemetaan titik longsor dan penanaman pohon.
“Makanya kita terus bergerak untuk melakukan penanaman pohon untuk menguatkan tanah. Karena banyaknya lahan gundul akibat penebangan liar tidak adanya reboisasi hingga adanya alih fungsi lahan,” jelasnya.
Di kawasan Sumber Lumpang terdapat banyak lahan perkebunan dan persawahan, sekaligus menjadi jalur pendakian Gunung Penanggungan.
Oleh karena itu pihaknya telah menanami di tempat yang sudah terdampak longsor dan memetakan beberapa tempat berpotensi longsor akibat kurangnya penahanan berupa pohon.
Selain itu, kondisi cuaca dengan intensitas hujan tinggi juga menjadi faktor penyebab longsor serta banjir.
“Mangkanya kami antisipasi terutama di titik longsor dan banjir. Ada beberapa titik lokasi dan yang berpotensi longsor yang sudah kami petakan dan ini yang perlu diantisipasi,” tegasnya.
Ia berharap perangkat desa setempat lebih peka dan aktif mengontrol kawasan berpotensi longsor.
“Kami berharap perangkat desa untuk lebih aktif mengontrol kawasan-kawasan yang berpotensi longsor. Bisa dengan melakukan penanaman pohon, perbaikan tempat hingga sosialisasi ke warga sekitar agar tidak ada alih fungsi lahan,” imbaunya.
Saat ini, Rozi dan kawan-kawan menyiapkan lahan konservasi di Sumber Lumpang yang telah menyimpan berbagai bibit pohon seperti beringin, bambu, karet kebo, dan tanaman produktif lainnya.
“Kami juga sudah mengumpulkan beberapa bibit tanaman karena kami rencana membuat lahan konservasi atau rumah bibit untuk penanaman. Pohon beringin yang kami tanam kemarin diambilkan dari beberapa bibit yang sudah kami kumpulkan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengimbau pendaki untuk turut serta melakukan penanaman mandiri saat melakukan pendakian.
“Alangkah baiknya setiap pendaki juga membawa bibit pohon untuk bisa ditanam saat melakukan pendakian. Karena tak sedikit juga pohon yang tumbang akibat terkena angin sehingga dengan menanam setiap pendaki bisa membantu untuk mempertahankan pohon-pohon untuk tetap lestari,” pungkasnya. (ahm)

