METROTODAY, SURABAYA – Virus influenza di Indonesia kini telah muncul dengan varian baru H3N2 Subclade K atau yang dikenal sebagai Superflu. Masyarakat diimbau untuk tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan, dengan menekankan pentingnya diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi untuk mencegah terjadinya wabah yang lebih luas.
Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, M.Si., menjelaskan bahwa varian H3N2 yang tengah menjadi sorotan merupakan bagian dari virus Influenza tipe A, yang memiliki variasi antigenik tinggi karena adanya protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA).
“Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” tuturnya, Jumat (9/1).
Fenomena Superflu terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi. Sampai saat ini, varian H3N2 Subclade K telah terdeteksi sebanyak 62 kasus yang tersebar di Indonesia, dengan Jawa Timur mencatatkan 23 kasus.

Meski gejalanya serupa dengan flu biasa seperti demam, batuk, dan nyeri otot, mutasi pada varian ini meningkatkan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.
Untuk menghadapi lonjakan kasus influenza, dr. Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat.
Menurutnya, metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.
“Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini,” ungkapnya.
Salah satu hal krusial yang disoroti adalah pentingnya vaksinasi influenza tahunan. dr. Agung menyatakan bahwa vaksinasi adalah cara paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat Superflu.
Mengingat sifat virus yang terus bermutasi, pembaruan vaksin secara rutin sangat diperlukan agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi.
“Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun,” tegas dr. Agung.
Selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap menjadi garda terdepan pencegahan.
“Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul,” pungkasnya. (ahm)

