26 February 2026, 5:35 AM WIB

Tari Sufi dari Turki Jadi Hiburan Anak-Anak Menunggu Berbuka Puasa di Surabaya

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa atau ngabuburit, salah satunya di kawasan Mojo Surabaya.

Sejumlah anak-anak mengisi waktu tersebut dengan belajar tari Sufi di dalam masjid, diiringi irama sholawat dan hadrah sambil mereka berputar sambil menghayati gerakan setiap langkahnya.

Dengan antusias, mereka memperagakan tarian religius yang berasal dari Turki, berputar mengikuti irama yang dimainkan.

Latihan dilakukan sejak pukul empat sore hingga menjelang berbuka puasa, dan dianggap mampu mengasah jiwa spiritual serta membantu meditasi diri agar belajar lebih fokus.

Adam Asmara Dana, salah satu penari Sufi cilik, mengaku awalnya mengalami kesulitan saat melakukan gerak berputar sambil menggerakkan tangan. Bahkan di awal mencoba, ia merasa pusing karena belum terbiasa.

“Ini belajar tari sufi sambil menunggu waktu berbuka puasa dan saya belajar tari sufi sejak usia 4 tahun dan kini saya sudah bisa dan tidak pusing lagi malah enak dan asyik melakukan hal ini,” ujarnya pada Rabu (25/2).

IMG-20260225-WA0030

Menariknya, meskipun puasa dan melakukan gerakan tari Sufi yang cukup menguras tenaga dengan menggerakkan badan secara berputar, ia tidak merasa haus atau lapar. “Pas puasa gini gak haus dan gak lapar,” tuturnya.

Sementara itu, Dodik Heriawan, pelatih tari Sufi, menjelaskan bahwa minat anak-anak muncul karena keunikan tarian yang diperkenalkan ke Indonesia sekitar tahun 1207. Ia mulai memperkenalkannya di kampung Jalan Rangkah Surabaya pada tahun 2018.

Awalnya hanya memperagakan di pentas agustusan, namun seiring waktu banyak anak-anak yang tertarik hingga ia membuka sanggar di rumahnya dan kini melatih keliling antar kampung di Surabaya.

“Ini tadi anak-anak ngabuburit sambil belajar tari sufi dan memang terdapat teknik tersendiri dari tari sufi ini, agar tidak pusing yaitu berputar sambil melirik jempol kanan untuk memfokuskan dan hati terus berdzikir guna mendekatkan pada sang ilahi,” jelas Dodik.

Menurutnya, tari Sufi ini dimaknai sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan gerakan berputar yang dianggap mirip dengan tawaf.

“Kita bisa belajar mendekatkan diri kepada tuhan, karena gerakannya berputar ke kiri dan ke kanan seperti ya seperti orang tawaf,” katanya.

Pada bulan Ramadhan ini, anak-anak semakin semangat mengikuti latihan karena waktu tak terasa berlalu saat menunggu berbuka puasa. Menurut Dodik, hal yang paling sulit dalam tari ini adalah fokus.

Saat berputar, mereka serasa tenggelam dalam kecintaan kepada Sang Pencipta, dan latihan yang disertai dzikir juga mampu menenangkan jiwa.

“Sebetulnya tidak sulit karena membutuhkan konsentrasi yang penuh intinya jangan sampai bayangan kemana-mana. Kalau anak kecil lebih mudah karena tidak memikirkan apa-apa kalau sudah tua sulit karena kerap memikirkan apa-apa,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa atau ngabuburit, salah satunya di kawasan Mojo Surabaya.

Sejumlah anak-anak mengisi waktu tersebut dengan belajar tari Sufi di dalam masjid, diiringi irama sholawat dan hadrah sambil mereka berputar sambil menghayati gerakan setiap langkahnya.

Dengan antusias, mereka memperagakan tarian religius yang berasal dari Turki, berputar mengikuti irama yang dimainkan.

Latihan dilakukan sejak pukul empat sore hingga menjelang berbuka puasa, dan dianggap mampu mengasah jiwa spiritual serta membantu meditasi diri agar belajar lebih fokus.

Adam Asmara Dana, salah satu penari Sufi cilik, mengaku awalnya mengalami kesulitan saat melakukan gerak berputar sambil menggerakkan tangan. Bahkan di awal mencoba, ia merasa pusing karena belum terbiasa.

“Ini belajar tari sufi sambil menunggu waktu berbuka puasa dan saya belajar tari sufi sejak usia 4 tahun dan kini saya sudah bisa dan tidak pusing lagi malah enak dan asyik melakukan hal ini,” ujarnya pada Rabu (25/2).

IMG-20260225-WA0030

Menariknya, meskipun puasa dan melakukan gerakan tari Sufi yang cukup menguras tenaga dengan menggerakkan badan secara berputar, ia tidak merasa haus atau lapar. “Pas puasa gini gak haus dan gak lapar,” tuturnya.

Sementara itu, Dodik Heriawan, pelatih tari Sufi, menjelaskan bahwa minat anak-anak muncul karena keunikan tarian yang diperkenalkan ke Indonesia sekitar tahun 1207. Ia mulai memperkenalkannya di kampung Jalan Rangkah Surabaya pada tahun 2018.

Awalnya hanya memperagakan di pentas agustusan, namun seiring waktu banyak anak-anak yang tertarik hingga ia membuka sanggar di rumahnya dan kini melatih keliling antar kampung di Surabaya.

“Ini tadi anak-anak ngabuburit sambil belajar tari sufi dan memang terdapat teknik tersendiri dari tari sufi ini, agar tidak pusing yaitu berputar sambil melirik jempol kanan untuk memfokuskan dan hati terus berdzikir guna mendekatkan pada sang ilahi,” jelas Dodik.

Menurutnya, tari Sufi ini dimaknai sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan gerakan berputar yang dianggap mirip dengan tawaf.

“Kita bisa belajar mendekatkan diri kepada tuhan, karena gerakannya berputar ke kiri dan ke kanan seperti ya seperti orang tawaf,” katanya.

Pada bulan Ramadhan ini, anak-anak semakin semangat mengikuti latihan karena waktu tak terasa berlalu saat menunggu berbuka puasa. Menurut Dodik, hal yang paling sulit dalam tari ini adalah fokus.

Saat berputar, mereka serasa tenggelam dalam kecintaan kepada Sang Pencipta, dan latihan yang disertai dzikir juga mampu menenangkan jiwa.

“Sebetulnya tidak sulit karena membutuhkan konsentrasi yang penuh intinya jangan sampai bayangan kemana-mana. Kalau anak kecil lebih mudah karena tidak memikirkan apa-apa kalau sudah tua sulit karena kerap memikirkan apa-apa,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait