Iis Kurniawati, 42, saat berada di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Sabtu (25/4). (Foto: Ahmad/METROTODAY)
METROTODAY, SURABAYA – Di tengah keterbatasan ekonomi, pasangan suami istri Iis Kurniawati, 42, dan Achmad Zen, 52 jemaah haji asal Kabupaten Malang, nyaris putus asa melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Namun, pertolongan tak terduga datang berulang kali, bahkan dari orang yang tidak dikenal, membuktikan keyakinan mereka bahwa keberangkatan ini adalah panggilan Ilahi.
Iis yang sehari-hari bekerja sebagai Guru Agama di MIN 2 Malang, dan suaminya yang berdagang alat tulis kantor serta sembako dari rumah, mendaftar haji sejak tahun 2012. Saat itu, mereka meminjam dana talangan bank sekitar Rp 50 juta untuk dua orang.
Selama menunggu giliran, berbagai beban keuangan terus datang, termasuk biaya pendidikan anak-anak, hingga membuat mereka sempat berpikir mustahil bisa berangkat tahun ini.
“Kita harus melunasi sekitar Rp 70 juta untuk dua orang. Padahal tahun 2025 anak pertama kuliah, tahun 2026 ini anak kedua juga harus masuk kuliah. Kalau dihitung secara logika, dari gaji PNS saya Rp 3 juta dan hasil dagang suami, rasanya nggak mungkin ada dana sebesar itu. Apalagi selain pelunasan, masih ada biaya paspor, kesehatan, tasyakuran, hingga oleh-oleh,” ungkap Iis, Sabtu (25/4).
Meski banyak kekurangan materi, keyakinan mereka tak pernah luntur. Bagi Iis, keberangkatan haji ini adalah panggilan yang harus dijawab.
“Haji itu banyak hal yang memang terasa seperti panggilan. Saya merasakan banget, kalau kita sudah dipanggil tahun 2026, insyaallah Allah tahu kita mampu berangkat di waktu itu. Padahal saat itu kita benar-benar nggak punya uang sama sekali. Tapi kita bismillah, yakin kalau sudah dipanggil pasti akan ada jalannya,” katanya.
Masa paling krusial terjadi saat masa pelunasan terakhir. Hingga hari H, mereka masih kekurangan dana sekitar Rp 10 juta. Di tengah kebingungan, tiba-tiba ada teman yang menelepon dan menawarkan bantuan tanpa diminta.
“Kita nggak pernah mengeluh ke orang lain, hanya berdoa kepada Allah. Tiba-tiba dia datang dan bilang ada uang yang belum terpakai, kalau butuh boleh dipakai. Luar biasanya, jumlah yang dia berikan pas Rp 10 juta, persis kekurangan kita. Di lingkungan kami, membantu orang berangkat haji dianggap ibadah, makanya banyak yang berlomba-lomba memberi bantuan,” tutur Iis.
Namun, ujian belum berakhir. Setelah urusan haji selesai, kabar gembira datang saat anak kedua mereka diterima kuliah lewat jalur prestasi di Poltekkes Malang. Namun, mereka harus membayar administrasi pendaftaran dalam waktu lima hari, sementara dana sudah terpakai untuk berbagai keperluan. Saat itu, mereka hanya memiliki uang Rp 2 juta, padahal masih kekurangan Rp 7 juta.
Di saat pesimis, datanglah seorang tetangga yang selama ini hanya dikenal sebagai pembeli di toko mereka dan tidak begitu akrab. Wanita yang pernah menunaikan umroh itu datang membawa nasehat berharga.
“Dia bilang, orang yang mau pergi haji atau umroh pasti akan diuji, entah dari keluarga atau ekonomi. Intinya, kita harus ikhlas dan legowo terhadap segala ujian. Lisan atau sikap orang lain itu sebenarnya bagian dari skenario Allah, kalau kita ikhlas rezeki pasti dimudahkan,” jelas Iis.
Setelah memberikan nasihat, wanita tersebut justru menawarkan bantuan dana Rp 15 juta yang belum digunakan oleh orang yang menolong tersebut.
“Dia tanya butuh berapa, terus bilang punya uang Rp 15 juta yang belum terpakai. Padahal kondisi ekonominya di bawah kami, tapi hatinya begitu mulia. Alhamdulillah uang itu kami gunakan untuk biaya daftar ulang anak dan keperluan tasyakuran lainnya,” ujarnya.
Iis yang memiliki empat orang anak dua di antaranya kini berkuliah dan dua masih bersekolah mengaku mulai berencana menunaikan ibadah haji sejak ia resmi menjadi PNS. Meski baru bisa mulai menabung saat masa pelunasan mendekat, ia percaya bahwa setiap rezeki datang di waktu yang tepat.
Iis dan suami tergabung dalam kloter 16 dan akan terbang ke Madinah melalui Bandara Internasional Juanda, Minggu (26/4)
“Perjalanan ini bukan soal uang semata, tapi benar-benar perjalanan spiritual. Semua kebutuhan datang di saat yang tepat, membuktikan Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berikhtiar dan berkeyakinan,” pungkasnya. (ahm)
Bupati Sidoarjo Subandi berupaya memastikan bantuan dari pemerintah tepat sasaran. Salah satunya dengan turun langsung…
Kebun Binatang Surabaya (KBS) segera dilakukan penataan besar-besaran. Proyek ini tidak hanya memoles tampilan fisik…
Jakarta Pertamina Enduro sukses mempertahankan singgasana juara di sektor putri, sementara Jakarta LavAni Livin' Transmedia…
Perjuangan dan ketekunan luar biasa ditunjukkan oleh Mislicha, 85, nenek penjual cilok keliling asal Pasuruan.…
Pembongkaran fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang mulai dilakukan. Pengerjaan dilakukan secara bertahap…
Memasuki hari kelima proses keberangkatan, sebanyak 4.940 orang jemaah haji Embarkasi Surabaya telah diterbangkan menuju…
This website uses cookies.