Categories: Fair Play

Ekuador Patut Bersyukur di Kala Jerman Tersungkur, Die Mannschaft Kehilangan Aura Tak Terkalahkan!

METROTODAY, EAST RUTHERFORD – Timnas Jerman akhirnya merasakan pahitnya kekalahan di fase grup Piala Dunia 2026. Setelah sudah memastikan diri sebagai juara grup E sebelum laga terakhir, skuad besutan Juna (sapaan Julian Nagelsmann) dipaksa menyerah 1-2 oleh Ekuador di MetLife Stadium, East Rutherford, Kamis (25/6) waktu setempat atau Jumat dinihari WIB.

Meski hasil tersebut tak mengubah status Die Mannschaft sebagai pemuncak klasemen, kemenangan ini menjadi tiket emas bagi Ekuador untuk melaju ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Jerman sebenarnya ngegas pada menit awal pertandingan. Bagaimana tidak, baru dua menit laga berjalan, Leroy Sane membawa Jerman unggul lewat penyelesaian klinis setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang Ekuador. Setelah gol cepat itu, Jerman seolah kehilangan pedal injak gasnya, sehingga keunggulan tidak bertahan lama.

Nilson Angulo menyamakan skor pada menit kesembilan melalui serangan yang mengejutkan pertahanan Jerman.

Babak kedua berlangsung lebih terbuka, hingga Gonzalo Plata mencetak gol kemenangan pada menit ke-77 memanfaatkan situasi bola mati yang diawali sepak pojok Pedro Vite, diakhiri dengan tendangan Plata melewati antara miskomunikasi Jonathan Tah dan Manuel Neuer. Gol tersebut memicu selebrasi besar kubu La Tri (julukan Ekuador), sementara rekor 11 kemenangan beruntun Jerman akhirnya terhenti.

Kemenangan ini bermakna historis bagi Ekuador. Tercatat oleh Goal, La Tri kembali menembus fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak edisi 2006, alias 20 tahun silam.

Menariknya, saat itu Ekuador sempat dihajar 0-3 oleh Jerman era Michael Ballack, yang dimahkotai sebagai juara tiga Piala Dunia 2006. Kini sejarah berbalik arah. Ekuador membalas kekalahan tersebut sekaligus mematahkan rekor sempurna Jerman dalam seluruh pertemuan antarnegara.

Pelatih Ekuador, Sebastien Beccacece, mengaku bangga dengan mental anak asuhnya yang mampu bangkit setelah tertinggal cepat. Menurutnya, tim tetap berpegang pada rencana permainan, terus menekan melalui sisi sayap, dan tidak ragu berduel meski menghadapi salah satu favorit juara dunia.

Keteguhan pemain Ekuador di bawah arahan Beccacece bisa dibilang berhasil, David Raum dan Joshua Kimmich yang menjaga kedua sisi sayap Jerman tidak bermain baik.

Selebrasi mengharukan Beccacece bersama keluarganya di tribun usai peluit panjang menjadi simbol keberhasilan membungkam berbagai keraguan yang tertuju pada timnya sepanjang fase grup.

Di kubu Jerman, Julian Nagelsmann menolak anggapan bahwa para pemainnya tampil setengah hati dan memainkan sepak bola gajah karena tiket ke babak gugur sudah berada di tangan.

Ia menegaskan timnya tetap bermain serius, tetapi mengakui Ekuador mengambil risiko lebih besar dan mampu memanfaatkan celah peluang lebih baik.

Dilaporkan oleh media lokal Jerman, Die Welt, Nagelsmann kembali menyoroti format jadwal Piala Dunia 2026 yang menurutnya kurang memguntungkan bagi tim juara grup menjelang fase gugur.

Sebelum pertandingan, Moises Caicedo, memang sempat menegaskan saat konferensi pers bahwa timnya tidak akan sekadar bertahan. Ia mengklaim skuad sedang percaya diri bisa mengimbangi Jerman jika bermain dengan keberanian dan disiplin.

Di sisi lain, penyerang Jerman Deniz Undav sebelum laga juga menekankan pentungnya menjaga standar permainan meski tim telah lolos, sebuah target yang akhirnya gagal diwujudkan setelah Jerman kehilangan pedal gas kendali permainan pada babak kedua.

Pengamat The Guardian seperti Callum Fordham, menilai kemenangan Ekuador lahir dari keberanian mereka mengambil inisiatif mendikte jalannya babak kedua, sedangkan Associated Press menilai atmosfer lebih dari 80 ribu penonton yang didominasi suporter Ekuador menjadi faktor psikologis yang menjatuhkan mental tim nasional Jerman.

Kekalahan ini memang tak menggagalkan langkah Jerman menuju babak 32 besar, tetapi menjadi pengingat bahwa status favorit tidak selalu menjamin dominasi ketika menghadapi lawan yang berani bermain dengan “api”. (ezaar/mt)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Gov x Creator Connect Vol. 2, Pemkab Sidoarjo Gandeng Kreator Digital Perkuat Komunikasi Publik

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mempercepat transformasi komunikasi publik dengan merangkul para kreator digital sebagai mitra strategis.…

3 hours ago

Metrotowatch #2: Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Tidak Ramah Pendaki, tapi Ramah Perut yang Butuh Geli

Kesuksesan Sekawan Limo pada 2024 membuat Bayu Skak kembali mengajak penonton mendaki dunia mistis khas…

5 hours ago

Suasana Haru Wisuda Unesa: Ibu Gantikan Putrinya yang Meninggal Dunia, Adik Dapat Beasiswa

Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang digelar di Graha Unesa, Kamis…

7 hours ago

Persebaya Gandeng RS Mayapada Bangun Ekosistem Sports Medicine Terintegrasi Pertama di Indonesia

Persebaya Surabaya mengambil langkah besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan performa pemain dan staf…

15 hours ago

Venezuela Diguncang Gempa Dahsyat 7,5 Magnitudo, Ratusan Orang Ditemukan Tewas

Venezuela dilanda bencana alam paling mematikan dalam beberapa decade terakhir setelah dua gempa bumi kuat…

18 hours ago

Son Heung-min Duduk di Bangku Cadangan, Korea Selatan Tumbang di Tangan Afsel

Timnas Korea Selatan harus menelan pil pahit setelah takluk 0-1 dari Afrika Selatan pada laga…

18 hours ago

This website uses cookies.