Duet Aleksander Isak (kanan) dan Victor Gyokeres (dua dari kanan) yang menjadi andalan Timnas Swedia. (Foto: Sky Sports)
METROTODAY, MONTERREY – Timnas Swedia mengawali kampanye mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia pada laga Grup F yang berlangsung di Estadio BBVA, Guadalupe, Monterrey, Meksiko, Minggu (14/6/2026) waktu setempat atau Senin (15/6/2026) WIB.
Kemenangan meyakinkan tersebut membawa tim asuhan Graham Potter langsung memuncaki klasemen sementara Grup F setelah Belanda dan Jepang bermain sama kuat 2-2 beberapa jam sebelumnya.
Pertandingan yang disaksikan oleh 50.987 penonton yang memadati stadion itu menciptakan atmosfer bising sepanjang laga.
Swedia datang ke turnamen dengan status sebagai salah satu tim yang tidak diunggulkan dibanding Belanda dan Jepang yang memiliki ranking FIFA lebih baik.
Namun sejak menit-menit awal pertandingan, Alexander Isak dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka layak diperhitungkan. Tim Skadinavia itu tampil agresif, efektif, dan mampu memanfaatkan hampir setiap kesalahan yang dilakukan Tunisia.
Laga baru berjalan tujuh menit ketika Swedia mengawali keunggulan. Kesalahan kiper Tunisia, Abdelmouhib Chamakh, dalam mengantisipasi tekanan Aleksander Isak dimanfaatkan dengan sempurna oleh Yasin Ayari.
Gelandang Brighton & Hove Albion tersebut melepaskan tembakan roket dari luar kotak penalti yang meluncur ke gawang Tunisia dan membawa Swedia unggul 1-0.
Uniknya, menurut laporan AFP, Ayari memiliki darah Tunisia dari sang ayah dan Maroko dari ibunya. Bahkan, ia sempat menolak panggilan timnas Tunisia sebelum akhirnya menerima pinangan Swedia, tempat kelahirannya. Karena itulah, ia memilih tidak merayakan gol pertamanya sebagai bentuk penghormatan kepada negara asal keluarganya.
Tunisia sebenarnya berusaha membalas dengan meningkatkan intensitas serangan, Namun, lini tengah Swedia yang dipimpin Ayari tampil sangat dominan.
Pada menit ke-30, kombinasi dua bintang Premier League kembali menjadi pembeda. Viktor Gyokeres (Arsenal) mengirim umpan terobosan yang diselesaikan dengan tenang oleh Aleksander Isak (Liverpool) untuk menggandakan keunggulan Swedia menjadi 2-0.
Gol tersebut semakin menunjukkan betapa bahayanya duet Isak-Gyokeres yang sejak sebelum turnamen disebut-sebut sebagai salah satu pasangan penyerang yang patut diperhitungkan di Piala Dunia 2026.
Tunisia sempat memberikan harapan menjelang jeda babak pertama. Pada menit ke-43, bek Omar Rekik berhasil menyundul bola hasil umpan Hannibal Mejbri untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1.
Gol tersebut membuat Elang Kartago (julukan Tunisia) sempat megembalikan kepercayaan diri dan memberikan harapan kepada penggemarnya bahwa mereka masih mempunyai nyawa untuk mencuri poin dari pertandingan ini.
Namun, harapan Tunisia rupanya tidak bertahan lama. Memasuki babak kedua, Swedia kembali mengambil alih permainan. Pada menit ke-59, Viktor Gyokeres memanfaatkan kesalahan gelandang Tunisia, Ellyes Skhiri, yang kehilangan bola di area berbahaya. Penyerang Arsenal itu kemudian menuntaskan tugasnya dengan penyelesaian klinis untuk membawa Swedia memperlebar jarak 3-1.
Tunisia semakin kesulitan mengimbangi tempo permainan Blagult (julukan Swedia). Saat mereka mencoba bermain lebih terbuka untuk mengejar ketertinggalan, ruang kosong yang ditinggalkan lini belakang Tunisia semakin mudah dieksploitasi Swedia.
Mattias Svanberg yang masuk sebagai pemain pengganti memperbesar keunggulan menjadi 4-1 pada menit ke-84 setelah golnya sempat ditinjau melalui VAR, sebelum akhirnya disahkan.
Pesta gol Swedia akhirnya ditutup oleh Yasin Ayari pada masa injury time. Orkestrator berusia 22 tahun itu kembali mencetak gol spektakuler untuk memastikan kemenangan telak 5-1.
Atas performa apiknya, Ayari pun dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan atau man of the match berkat dua gol dan determinasinya di lini tengah.
Kemenangan Swedia ini menjadi yang terbesar di Piala Dunia dalam hampir sembilan dekade terakhir. Di masa lampau, Swedia meraih kemenangan besar ketika mereka mengalahkan Kuba 8-0 pada Piala Dunia 1938 di Prancis, yang juga diikuti Timnas Indonesia (Achmad Nasir dkk) yang saat itu masih bernama Dutch East Indies alias Hindia Belanda.
Tak ayal performa ciamik duet Aleksander Isak dan Viktor Gyokeres di tim Sverige mendapat lampu sorot dari media besar Eropa.
Sports Mole menilai keduanya terlibat langsung dalam gol Swedia dan terus merepotkan pertahanan Tunisia sepanjang pertandingan. Banyak pengamat menilai kombinasi keduanya wajib menjadi senjata utama Swedia untuk bersaing dengan Belanda dan Jepang dalam perebutan tiket ke babak gugur.
Kekalahan Tunisia ini juga memicu kritik dari media lokalnya. Pasalnya, sebelum Piala Dunia dimulai, Tunisia terkenal sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik selama babak kualifikasi. Namun dalam dua laga terakhir, termasuk uji coba melawan Belgia dan pertandingan kontra Swedia, mereka telah kebobolan total 10 gol. (Ezaar/MT)
Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung…
Kontingen Reog Purbaya Surabaya tampil memukau dalam ajang Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun…
Timnas Pantai Gading membuka jalur mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis 1-0 atas…
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Surabaya menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD…
Belanda gagal mengamankan tiga poin pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 setelah ditahan…
Timnas Jerman mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan telak 7-1 atas debutan Curacao…
This website uses cookies.