Categories: Chindo

Memintal Harapan Umur Panjang, Rezeki Tak Putus dan Harmoni Keluarga di Semangkuk Sajian Miesoa

METROTODAY, SURABAYA – Di sebuah sudut kota Surabaya, deru mesin tua dan aroma tepung terigu yang khas menjadi penanda bahwa perayaan terpenting dalam kalender lunar sudah di depan mata.

Bagi keluarga Tionghoa, Imlek bukan sekadar pesta kembang api atau bagi-bagi angpao. Di atas meja makan, ada filosofi yang harus tersaji, dan salah satu yang paling utama adalah semangkuk miesoa.

Miesoa, mi halus nan putih asal Fujian, Tiongkok Selatan, kini tengah menjadi primadona yang diburu. Tak sekadar urusan perut, mi tipis ini adalah simbol doa yang dipintal. Yakni harapan akan umur panjang, rezeki yang tak terputus, dan harmoni keluarga.

Kesibukan luar biasa tampak di CV Marga Mulia, produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. Jeffry Sutrisno, sang penerus generasi ketiga, tampak sibuk memastikan setiap kotak miesoa terkemas sempurna. Baginya, menjelang Imlek adalah masa “panen” sekaligus ujian ketahanan produksi.

Kesibukan di CV Marga Mulia selaku produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. ((Foto: Ahmad/Metrotoday)

“Menjelang Imlek tahun ini, permintaan produksi miesoa meningkat hingga 100 persen dibandingkan hari biasa,” ujar Jeffry saat ditemui, Rabu (11/2/2026).

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Jika pada bulan-bulan biasa mereka memproduksi sekitar 400 karton, kini Jeffry harus memacu rumah produksinya untuk menghasilkan 800 karton miesoa. Dengan setiap karton berisi 40 kotak, ribuan keluarga di Pulau Jawa hingga luar pulau dipastikan akan menyantap produk legendaris asal Surabaya ini saat malam pergantian tahun.

Secara tradisi, miesoa memiliki aturan main yang ketat dalam penyajiannya. Teksturnya yang sangat lembut menuntut kehati-hatian dalam memasak. Namun, aturan yang paling esensial adalah larangan memotong mi.

“Miesoa tidak boleh dipotong saat dimasak atau dimakan. Ini adalah representasi harapan akan usia yang tidak terputus dan rezeki yang terus mengalir tanpa hambatan,” tutur Jeffry, mengulangi pesan yang ia terima secara turun-temurun.

Sebagai pengelola yang meneruskan warisan kakek dan ayahnya, Jeffry memikul tanggung jawab menjaga kualitas rasa yang tidak berubah sejak medio abad ke-20. Di tengah gempuran mi instan modern, miesoa tradisional tetap bertahan karena nilai sentimental dan spiritual yang dikandungnya.

Bagi warga Tionghoa, menyantap semangkuk miesoa hangat di pagi hari saat Imlek dipercaya dapat memperlancar jalan hidup setahun ke depan. Julukan “mi panjang umur” yang melekat padanya menjadikannya elemen wajib yang tak tergantikan.

Meski zaman berubah dan teknologi pangan kian canggih, miesoa tetap setia dengan wujudnya yang sederhana: putih, tipis, dan rapuh jika tak diperlakukan dengan kasih sayang. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan Imlek, ada doa-doa tulus yang dipanjatkan melalui setiap helaian mi yang dinikmati bersama keluarga besar.

Saat fajar Imlek menyapa nanti, di ribuan meja makan, miesoa akan kembali tersaji. Menjadi saksi bisu dari tradisi yang tetap terjaga, dari generasi ke generasi, dari seuntai harapan menuju kebahagiaan yang utuh. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

BRI BO Jemursari Bekali Calon PMI dengan Literasi Keuangan dan Ekosistem Digital BRImo

Komitmen dalam mendukung kesejahteraan pekerja migran ditunjukkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hal…

5 hours ago

Dari Anak Penjual Pecel hingga Sutradara Nasional, Bayu Skak Buktikan Bahasa Daerah Bisa Mendunia

Kesuksesan tidak selalu lahir dari ibu kota. Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Bayu…

17 hours ago

Koeman Angkat Tangan Usai Tim Oranye Rontok di Piala Dunia, Pilih Mundur Demi Keluarga

Kekalahan pelik dari Maroko di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi pertandingan terakhir Ronald…

18 hours ago

State Capture dan Kebisuan Mimbar Akademik

SARASEHAN Kebangsaan KSTI 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center…

21 hours ago

Tegaskan Tidak Ada Campur Tangan Istana saat Muktamar, Gus Irfan: NU Bukan Barang Warisan yang Diperebutkan

Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diagendakan berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus…

1 day ago

Menhaj Tutup Operasional Haji 2026, 202 Ribu Lebih Jemaah Sudah Dipulangkan, 367 Wafat di Tanah Suci

Seluruh rangkaian operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 resmi dinyatakan rampung Rabu (1/7) sore. Penutupan…

1 day ago

This website uses cookies.