12 February 2026, 14:25 PM WIB

Memintal Harapan Umur Panjang, Rezeki Tak Putus dan Harmoni Keluarga di Semangkuk Sajian Miesoa

METROTODAY, SURABAYA – Di sebuah sudut kota Surabaya, deru mesin tua dan aroma tepung terigu yang khas menjadi penanda bahwa perayaan terpenting dalam kalender lunar sudah di depan mata.

Bagi keluarga Tionghoa, Imlek bukan sekadar pesta kembang api atau bagi-bagi angpao. Di atas meja makan, ada filosofi yang harus tersaji, dan salah satu yang paling utama adalah semangkuk miesoa.

Miesoa, mi halus nan putih asal Fujian, Tiongkok Selatan, kini tengah menjadi primadona yang diburu. Tak sekadar urusan perut, mi tipis ini adalah simbol doa yang dipintal. Yakni harapan akan umur panjang, rezeki yang tak terputus, dan harmoni keluarga.

Kesibukan luar biasa tampak di CV Marga Mulia, produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. Jeffry Sutrisno, sang penerus generasi ketiga, tampak sibuk memastikan setiap kotak miesoa terkemas sempurna. Baginya, menjelang Imlek adalah masa “panen” sekaligus ujian ketahanan produksi.

WhatsApp Image 2026-02-10 at 16.56.17
Kesibukan di CV Marga Mulia selaku produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. ((Foto: Ahmad/Metrotoday)

“Menjelang Imlek tahun ini, permintaan produksi miesoa meningkat hingga 100 persen dibandingkan hari biasa,” ujar Jeffry saat ditemui, Rabu (11/2/2026).

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Jika pada bulan-bulan biasa mereka memproduksi sekitar 400 karton, kini Jeffry harus memacu rumah produksinya untuk menghasilkan 800 karton miesoa. Dengan setiap karton berisi 40 kotak, ribuan keluarga di Pulau Jawa hingga luar pulau dipastikan akan menyantap produk legendaris asal Surabaya ini saat malam pergantian tahun.

Secara tradisi, miesoa memiliki aturan main yang ketat dalam penyajiannya. Teksturnya yang sangat lembut menuntut kehati-hatian dalam memasak. Namun, aturan yang paling esensial adalah larangan memotong mi.

“Miesoa tidak boleh dipotong saat dimasak atau dimakan. Ini adalah representasi harapan akan usia yang tidak terputus dan rezeki yang terus mengalir tanpa hambatan,” tutur Jeffry, mengulangi pesan yang ia terima secara turun-temurun.

Sebagai pengelola yang meneruskan warisan kakek dan ayahnya, Jeffry memikul tanggung jawab menjaga kualitas rasa yang tidak berubah sejak medio abad ke-20. Di tengah gempuran mi instan modern, miesoa tradisional tetap bertahan karena nilai sentimental dan spiritual yang dikandungnya.

Bagi warga Tionghoa, menyantap semangkuk miesoa hangat di pagi hari saat Imlek dipercaya dapat memperlancar jalan hidup setahun ke depan. Julukan “mi panjang umur” yang melekat padanya menjadikannya elemen wajib yang tak tergantikan.

Meski zaman berubah dan teknologi pangan kian canggih, miesoa tetap setia dengan wujudnya yang sederhana: putih, tipis, dan rapuh jika tak diperlakukan dengan kasih sayang. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan Imlek, ada doa-doa tulus yang dipanjatkan melalui setiap helaian mi yang dinikmati bersama keluarga besar.

Saat fajar Imlek menyapa nanti, di ribuan meja makan, miesoa akan kembali tersaji. Menjadi saksi bisu dari tradisi yang tetap terjaga, dari generasi ke generasi, dari seuntai harapan menuju kebahagiaan yang utuh. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Di sebuah sudut kota Surabaya, deru mesin tua dan aroma tepung terigu yang khas menjadi penanda bahwa perayaan terpenting dalam kalender lunar sudah di depan mata.

Bagi keluarga Tionghoa, Imlek bukan sekadar pesta kembang api atau bagi-bagi angpao. Di atas meja makan, ada filosofi yang harus tersaji, dan salah satu yang paling utama adalah semangkuk miesoa.

Miesoa, mi halus nan putih asal Fujian, Tiongkok Selatan, kini tengah menjadi primadona yang diburu. Tak sekadar urusan perut, mi tipis ini adalah simbol doa yang dipintal. Yakni harapan akan umur panjang, rezeki yang tak terputus, dan harmoni keluarga.

Kesibukan luar biasa tampak di CV Marga Mulia, produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. Jeffry Sutrisno, sang penerus generasi ketiga, tampak sibuk memastikan setiap kotak miesoa terkemas sempurna. Baginya, menjelang Imlek adalah masa “panen” sekaligus ujian ketahanan produksi.

WhatsApp Image 2026-02-10 at 16.56.17
Kesibukan di CV Marga Mulia selaku produsen Miesoa Tjap Tjantung yang telah melegenda sejak tahun 1948. ((Foto: Ahmad/Metrotoday)

“Menjelang Imlek tahun ini, permintaan produksi miesoa meningkat hingga 100 persen dibandingkan hari biasa,” ujar Jeffry saat ditemui, Rabu (11/2/2026).

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Jika pada bulan-bulan biasa mereka memproduksi sekitar 400 karton, kini Jeffry harus memacu rumah produksinya untuk menghasilkan 800 karton miesoa. Dengan setiap karton berisi 40 kotak, ribuan keluarga di Pulau Jawa hingga luar pulau dipastikan akan menyantap produk legendaris asal Surabaya ini saat malam pergantian tahun.

Secara tradisi, miesoa memiliki aturan main yang ketat dalam penyajiannya. Teksturnya yang sangat lembut menuntut kehati-hatian dalam memasak. Namun, aturan yang paling esensial adalah larangan memotong mi.

“Miesoa tidak boleh dipotong saat dimasak atau dimakan. Ini adalah representasi harapan akan usia yang tidak terputus dan rezeki yang terus mengalir tanpa hambatan,” tutur Jeffry, mengulangi pesan yang ia terima secara turun-temurun.

Sebagai pengelola yang meneruskan warisan kakek dan ayahnya, Jeffry memikul tanggung jawab menjaga kualitas rasa yang tidak berubah sejak medio abad ke-20. Di tengah gempuran mi instan modern, miesoa tradisional tetap bertahan karena nilai sentimental dan spiritual yang dikandungnya.

Bagi warga Tionghoa, menyantap semangkuk miesoa hangat di pagi hari saat Imlek dipercaya dapat memperlancar jalan hidup setahun ke depan. Julukan “mi panjang umur” yang melekat padanya menjadikannya elemen wajib yang tak tergantikan.

Meski zaman berubah dan teknologi pangan kian canggih, miesoa tetap setia dengan wujudnya yang sederhana: putih, tipis, dan rapuh jika tak diperlakukan dengan kasih sayang. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan Imlek, ada doa-doa tulus yang dipanjatkan melalui setiap helaian mi yang dinikmati bersama keluarga besar.

Saat fajar Imlek menyapa nanti, di ribuan meja makan, miesoa akan kembali tersaji. Menjadi saksi bisu dari tradisi yang tetap terjaga, dari generasi ke generasi, dari seuntai harapan menuju kebahagiaan yang utuh. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait