4 February 2026, 6:17 AM WIB

Sastrawan Surabaya Alberta Natasia Adji Ungkap The Longing: Kisah Perempuan Tionghoa yang Terbit di Pasar Internasional

METROTODAY, SURABAYA – Bermula dari kegemaran membaca buku sejak kecil, Alberta Natasia Adji kini menjelma menjadi sastrawan yang berkiprah hingga kancah internasional. Karya terbarunya yang berjudul The Longing berhasil terbit melalui Penguin Random House SEA dan memasuki pasar buku internasional.

Natasia, sapaan akrabnya, berasal dari lingkungan keluarga yang selalu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca sebagai sarana memperluas pengetahuan. Sejak usia dini, orang tua telah mengajaknya menyelami dunia sastra.

“Ibu saya sangat suka membaca dan beliau sangat menekankan pentingnya lancar membaca dan menulis sejak saya dan adik masih kecil. Beliau tidak pernah membatasi saya membaca genre apa dan sering membelikan hadiah buku cerita seperti The Tale of Peter Rabbit dan The Tale of the Flopsy Bunnies karya Beatrix Potter,” tutur Natasia.

Seiring bertambahnya usia, jenis buku yang dibacanya kian meluas, mulai dari sastra populer hingga karya klasik. Saat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Airlangga (Unair) program studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris serta S2 Kajian Sastra dan Budaya ia sering bersinggungan dengan karya sastra klasik Inggris hingga Indonesia.

“Saya menyukai hampir semua buku yang saya baca karena masing-masing membawa saya pada era, tempat, dan kehidupan personal karakter-karakter yang sangat dinamis,” ungkap alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair ini.

Ketertarikan pada dunia sastra tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ia mulai menulis dan menerbitkan dua novel berbahasa Indonesia, Youth Adagio (2013) dan Dante: The Faery and the Wizard (2014). Pada Agustus 2025, Natasia merilis karya terbarunya, The Longing.

Novel tersebut menceritakan tiga perempuan keturunan Tionghoa yang menjalani kehidupan di era berbeda mulai dari masa Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi. Ketiga tokoh tersebut berjuang menghadapi stereotip budaya Tionghoa, gender, agama, dan kondisi sosial ekonomi yang membatasi pilihan hidup mereka.

Natasia mengungkap bahwa penyusunan The Longing melibatkan kisah hidup keluarganya. “Karena proses penyusunannya secara serius harus dilakukan di Perth, Australia Barat, terutama dalam kondisi COVID-19, saya seringkali harus menelpon ibu saya yang di Surabaya untuk menggali cerita-cerita mendiang nenek saya, ibu saya sendiri, dan kisah masa kecil saya yang sudah tidak begitu ingat,” ujarnya.

Sepanjang kariernya, Natasia kerap menghadapi tantangan terkait ketatnya persaingan dalam industri penerbitan. Selektivitas penerbit menuntut penulis untuk bersikap adaptif dan cermat dalam memahami pangsa pasar.

Untuk itu, ia berpesan kepada generasi muda yang tertarik menjadi sastrawan agar terus mengasah kreativitas dan konsisten berkarya.

“Banyak-banyaklah membaca, menulis dan mengobservasi sekitar. Jangan mudah menyerah dan selalu ingatlah genre atau jenis buku apa yang hendak kalian tulis. Tidak perlu terlalu terpaku pada tren karena pada saat buku kalian terbit, kemungkinan besar tren sudah berubah lagi,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Bermula dari kegemaran membaca buku sejak kecil, Alberta Natasia Adji kini menjelma menjadi sastrawan yang berkiprah hingga kancah internasional. Karya terbarunya yang berjudul The Longing berhasil terbit melalui Penguin Random House SEA dan memasuki pasar buku internasional.

Natasia, sapaan akrabnya, berasal dari lingkungan keluarga yang selalu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca sebagai sarana memperluas pengetahuan. Sejak usia dini, orang tua telah mengajaknya menyelami dunia sastra.

“Ibu saya sangat suka membaca dan beliau sangat menekankan pentingnya lancar membaca dan menulis sejak saya dan adik masih kecil. Beliau tidak pernah membatasi saya membaca genre apa dan sering membelikan hadiah buku cerita seperti The Tale of Peter Rabbit dan The Tale of the Flopsy Bunnies karya Beatrix Potter,” tutur Natasia.

Seiring bertambahnya usia, jenis buku yang dibacanya kian meluas, mulai dari sastra populer hingga karya klasik. Saat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Airlangga (Unair) program studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris serta S2 Kajian Sastra dan Budaya ia sering bersinggungan dengan karya sastra klasik Inggris hingga Indonesia.

“Saya menyukai hampir semua buku yang saya baca karena masing-masing membawa saya pada era, tempat, dan kehidupan personal karakter-karakter yang sangat dinamis,” ungkap alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair ini.

Ketertarikan pada dunia sastra tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ia mulai menulis dan menerbitkan dua novel berbahasa Indonesia, Youth Adagio (2013) dan Dante: The Faery and the Wizard (2014). Pada Agustus 2025, Natasia merilis karya terbarunya, The Longing.

Novel tersebut menceritakan tiga perempuan keturunan Tionghoa yang menjalani kehidupan di era berbeda mulai dari masa Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi. Ketiga tokoh tersebut berjuang menghadapi stereotip budaya Tionghoa, gender, agama, dan kondisi sosial ekonomi yang membatasi pilihan hidup mereka.

Natasia mengungkap bahwa penyusunan The Longing melibatkan kisah hidup keluarganya. “Karena proses penyusunannya secara serius harus dilakukan di Perth, Australia Barat, terutama dalam kondisi COVID-19, saya seringkali harus menelpon ibu saya yang di Surabaya untuk menggali cerita-cerita mendiang nenek saya, ibu saya sendiri, dan kisah masa kecil saya yang sudah tidak begitu ingat,” ujarnya.

Sepanjang kariernya, Natasia kerap menghadapi tantangan terkait ketatnya persaingan dalam industri penerbitan. Selektivitas penerbit menuntut penulis untuk bersikap adaptif dan cermat dalam memahami pangsa pasar.

Untuk itu, ia berpesan kepada generasi muda yang tertarik menjadi sastrawan agar terus mengasah kreativitas dan konsisten berkarya.

“Banyak-banyaklah membaca, menulis dan mengobservasi sekitar. Jangan mudah menyerah dan selalu ingatlah genre atau jenis buku apa yang hendak kalian tulis. Tidak perlu terlalu terpaku pada tren karena pada saat buku kalian terbit, kemungkinan besar tren sudah berubah lagi,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait