30 March 2026, 7:01 AM WIB

Karamah Sayyid Hasan Al-Madinah, Waliyullah Sidoarjo dari Desa Bohar; Bom Tak Meledak, Burung Jatuh Sendiri (4-Habis)

spot_img

Selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447H, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Ada cerita lain yang juga dikenang warga. Selain sebagai ulama dan mubaligh. Qomaruddin mengisahkan,menurut cerita orang tua-tua terdahulu di antara karamah beliau adalah setiap kali bom diluncurkan lalu melewati diatas makam Sayyid Hasan, dipastikan bom tersebut tidak dapat meledak. Tidak hanya itu, burung yang terbang di atas makam beliau juga dipastikan terjatuh dengan sendirinya.

Pengantin yang Terpelanting Jatuh

Cerita lain yang terbilang sohor adalah adanya arak-arakan pengantin yang melewati makam Sayyid Hasan. Kebetulan Pengantin laki-laki yang diarak menuju rumah pengantin perempuan naik kuda. “Tiba-tiba saja kuda yang melintas di depan makam berjingkrak dan  pengantinnya langsung terpelanting jatuh,” ucap Qomaruddin.

Kuda pun Lumpuh Mendadak

Cerita yang terbaru, seorang penarik dokar yang mengangkut penumpang anak-anak, ketika melintasi makam Sayyid Hasan, tiba-tiba saja kudanya lumpuh dan tidak mau berjalan. Kuda itu jatuh tersungkur jalan dan tidak mau berdiri.

Qomaruddin melanjutkan, sebenarnya penarik kuda tersebut sudah diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak melintas di makam Sayyid Hasan. Tapi, dia lupa, hingga akhirnya terjadilah musibah itu.

Kuda dapat bangkit lagi setelah kusir meminta bantuan pada juru kunci makam. “Diambilkanlah bunga-bunga kering yang sudah ditaburkan di makam Sayyid Hasan, lalu diusapkan di kaki dan kepala kuda. Hanya beberapa saat setelah itu kuda yang awalnya lemas dapat bangkit kembali,” terangnya.

Haul Sayyid Hasan Madinah

Warga Bohar tidak pernah melewatkan haul Sayyid Hasan Madinah lagi. Haul dilakukan setiap tanggal 10 Syawal, bersamaan dengan agenda rutin tahunan bersih desa. Biasanya panitia menyelenggarakan haul selama dua hari.

Hari pertama diadakan pengajian dengan mengundang tokoh-tokoh NU yang terkenal. Kiai-kiai kondang juga dihadirkan untuk berceramah dalam acara tersebut. Di antaranya mantan Ketua PWNU Jawa Timur Dr. K.H. Marzuqi Mustamar dan  pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo K.H. Agoes Ali Masyhuri. Ketika acara haul, biasanya para pimpinan daerah juga hadir, tak terkecuali Bupati Sidoarjo saat ini H. Subandi, SH.

Kini, setelah 37 tahun berlalu, haul masih terus berlangsung setiap tahun. Suasana makam sudah banyak berubah. Pagar makam sudah terbuat dari stainless steel sehingga makam tampak lebih rapi. Di kompleks itu juga terdapat makam putra beliau, Joko Laut, dan menantu beliau, Bagus Santri.

Di area itu juga terpasang silsilah Sayyid Hasan Madinah. Dari bagan silsilah itu tergambar bagaimana hubungan Sayyid Hasan dengan Sayyid Arif Segoropuro dan Sayyid Abdurahman hingga ke Nabi Muhammad SAW.

1751717816601
Makam Sayyid Hasan Al-Madinah di Desa Bohar, Taman, Sidoarjo. (Dite Surendra)

Untuk merawat makam tersebut, para keturunan Sayyid Hasan menunjuk seorang juru kunci. Para keturunan beliau juga masih kerap mengadakan acara dan berkumpul bersama di tempat itu seraya mendoakan leluhur mereka, sekalipun mereka tinggal di berbagai kota.

Bahkan lebih dari itu, setiap malam Jumat Legi, sampai saat ini selalu diadakan pengajian di kompleks makam Sayyid Hasan Madinah yang dihadiri oleh warga desa dan anak-anak muda /generasi muda Desa dengan membacakan Surat Yasin dan tahlil.

Tak lain, semua itu dilakukan untuk mengenang dan mendoakan sang waliyullah. Bukan hanya di malam Jum’at Legi saja, tapi di malam Jum’at-malam Jum’at yang lain Makam mbah Sayyid Hasan Madinah banyak juga peziarah yang datang, baik dari Desa Bohar sendiri maupun dari luar daerah. (*)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia milik Bappeda Kabupaten Sidoarjo.

spot_img

Selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447H, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Ada cerita lain yang juga dikenang warga. Selain sebagai ulama dan mubaligh. Qomaruddin mengisahkan,menurut cerita orang tua-tua terdahulu di antara karamah beliau adalah setiap kali bom diluncurkan lalu melewati diatas makam Sayyid Hasan, dipastikan bom tersebut tidak dapat meledak. Tidak hanya itu, burung yang terbang di atas makam beliau juga dipastikan terjatuh dengan sendirinya.

Pengantin yang Terpelanting Jatuh

Cerita lain yang terbilang sohor adalah adanya arak-arakan pengantin yang melewati makam Sayyid Hasan. Kebetulan Pengantin laki-laki yang diarak menuju rumah pengantin perempuan naik kuda. “Tiba-tiba saja kuda yang melintas di depan makam berjingkrak dan  pengantinnya langsung terpelanting jatuh,” ucap Qomaruddin.

Kuda pun Lumpuh Mendadak

Cerita yang terbaru, seorang penarik dokar yang mengangkut penumpang anak-anak, ketika melintasi makam Sayyid Hasan, tiba-tiba saja kudanya lumpuh dan tidak mau berjalan. Kuda itu jatuh tersungkur jalan dan tidak mau berdiri.

Qomaruddin melanjutkan, sebenarnya penarik kuda tersebut sudah diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak melintas di makam Sayyid Hasan. Tapi, dia lupa, hingga akhirnya terjadilah musibah itu.

Kuda dapat bangkit lagi setelah kusir meminta bantuan pada juru kunci makam. “Diambilkanlah bunga-bunga kering yang sudah ditaburkan di makam Sayyid Hasan, lalu diusapkan di kaki dan kepala kuda. Hanya beberapa saat setelah itu kuda yang awalnya lemas dapat bangkit kembali,” terangnya.

Haul Sayyid Hasan Madinah

Warga Bohar tidak pernah melewatkan haul Sayyid Hasan Madinah lagi. Haul dilakukan setiap tanggal 10 Syawal, bersamaan dengan agenda rutin tahunan bersih desa. Biasanya panitia menyelenggarakan haul selama dua hari.

Hari pertama diadakan pengajian dengan mengundang tokoh-tokoh NU yang terkenal. Kiai-kiai kondang juga dihadirkan untuk berceramah dalam acara tersebut. Di antaranya mantan Ketua PWNU Jawa Timur Dr. K.H. Marzuqi Mustamar dan  pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo K.H. Agoes Ali Masyhuri. Ketika acara haul, biasanya para pimpinan daerah juga hadir, tak terkecuali Bupati Sidoarjo saat ini H. Subandi, SH.

Kini, setelah 37 tahun berlalu, haul masih terus berlangsung setiap tahun. Suasana makam sudah banyak berubah. Pagar makam sudah terbuat dari stainless steel sehingga makam tampak lebih rapi. Di kompleks itu juga terdapat makam putra beliau, Joko Laut, dan menantu beliau, Bagus Santri.

Di area itu juga terpasang silsilah Sayyid Hasan Madinah. Dari bagan silsilah itu tergambar bagaimana hubungan Sayyid Hasan dengan Sayyid Arif Segoropuro dan Sayyid Abdurahman hingga ke Nabi Muhammad SAW.

1751717816601
Makam Sayyid Hasan Al-Madinah di Desa Bohar, Taman, Sidoarjo. (Dite Surendra)

Untuk merawat makam tersebut, para keturunan Sayyid Hasan menunjuk seorang juru kunci. Para keturunan beliau juga masih kerap mengadakan acara dan berkumpul bersama di tempat itu seraya mendoakan leluhur mereka, sekalipun mereka tinggal di berbagai kota.

Bahkan lebih dari itu, setiap malam Jumat Legi, sampai saat ini selalu diadakan pengajian di kompleks makam Sayyid Hasan Madinah yang dihadiri oleh warga desa dan anak-anak muda /generasi muda Desa dengan membacakan Surat Yasin dan tahlil.

Tak lain, semua itu dilakukan untuk mengenang dan mendoakan sang waliyullah. Bukan hanya di malam Jum’at Legi saja, tapi di malam Jum’at-malam Jum’at yang lain Makam mbah Sayyid Hasan Madinah banyak juga peziarah yang datang, baik dari Desa Bohar sendiri maupun dari luar daerah. (*)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia milik Bappeda Kabupaten Sidoarjo.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait