Mulai Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Kompleks makam bagian timur tergolong relatif baru. Dibangun pada tahun 1990-an dan difungsikan setelah Kiai Mas wafat pada tahun 2018. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Gedung Bundar. Sebab, bangunannya memiliki ciri khas berupa atap berbentuk bundar yang berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. Keunikan itu sekaligus menjadikan kompleks tersebut mudah dikenali dibandingkan dua kompleks makam lain yang umumnya dipenuhi oleh banyak nisan.
Di kompleks makam timur ini hanya terdapat sepasang batu nisan saja. Yakni, nisan makam Kiai Mas Ubaidah. Beliau merupakan salah seorang keturunan langsung Mbah Zainal Abidin melalui jalur anak ketiga, yaitu Kiai Ustadz. Hal ini semakin menegaskan nilai historis dan genealogi yang terhubung erat antara sosok Kiai Mas Ubaidah dan leluhurnya yang masyhur.
Di tembok pintu masuk menuju makam timur tersebut, sudah tertulis dengan jelas penanda yang mengukuhkan identitasnya: ”Makam Kyai Mas Ubaidah.” Tulisan itu menjadi pengingat bagi setiap peziarah yang datang, bahwa di dalam kompleks sederhana namun anggun itulah bersemayam seorang tokoh yang masih menyambung garis perjuangan dan keberkahan dari Mbah Zainal Abidin.
Saat mulai masuk pintu gerbang, pengunjung harus melepas alas kaki. Lalu, berjalan cukup jauh dengan suasana sekitar yang selalu bersih dan asri. Di tempat itu juga ada beberapa muhibbin (santri, cantrik) atau orang yang sedang lelaku batin. Mereka tinggal di tempat itu selama 24 jam. Bahkan, beberapa di antara mereka telah menjalaninya selama bertahun-tahun.
Secara umum, makam timur paling cocok untuk wisata religi seperti di tempat-tempat lain. Ada area parkir yang cukup untuk menampung beberapa mobil. Lahan yang tersedia juga masih luas. Ada 3 kolam yang memunculkan nuansa mistis, namun enak dipandang mata. Juga terdapat ruang terbuka hijau yang masih cukup luas.
Apalagi, saat memasuki kompleks makam Kiai Mas –demikian sang tokoh biasa disebut– yang berada di tengah Gedung Bundar. Banyak keunikan di sekelilingnya. Di antaranya terdapat 3 buah kentongan kayu berukuran besar yang digantung pada saka (tiang utama) Gedung Bundar. Masing-masing berukuran panjang sekitar 7 meter. Selain itu ada 1 buah kentongan lain berukuran panjang sekitar 3 meter yang berada di bawah.

Tidak hanya kentongan. Ada pula ada 1 buah beduk dengan panjang diameter sekitar 1,5 meter. Konon, keberadaan beduk tersebut terinspirasi dari masjid Mbah Mangli di Magelang, Jawa Tengah. Masih ada lagi becak berwarna kuning, almari, dan dokar. Semua itu adalah peninggalan Kiai Mas. Lalu, untuk apa semua itu? Tidak ada yang bisa menjawab. Hanya Kiai Mas yang mengetahui untuk apa semua itu.
Yang tidak kalah menarik, di makam timur juga terdapat empat pintu besar dengan empat warna. Masing-masing merah, putih, kuning, dan hitam. Menurut keterangan Ustadz H. Maslihan, keempat warna tersebut melambangkan nafsu manusia, yaitu merah simbol nafsu amarah, hitam lawwamah, putih muthmainnah, dan hijau sufiyah.
Yang unik pula, hanya ada satu pintu yang selalu terbuka, sedangkan tiga lainnya selalu tertutup. Apalagi, setelah Kiai Mas wafat, ketiga pintu itu menjadi rusak karena tidak pernah difungsikan dan tidak mendapatkan perawatan. (*/Bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk


