Makam sesepuh Desa Tambaksumur. Makam Mbah Kenduruan terdapat di sisi barat. (Foto: DIte Surendra)
Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M dan dilanjutkan pada bulan-bulan setelahnya, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Cukup mudah menjangkau Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Sebab di tengah ruas Jalan Tol Waru—Juanda, terdapat exit (pintu keluar) tol bernama Tambaksumur, di kawasan Perumahan Pondok Chandra Indah.
Cuma sekitar 1 kilometer melalui jalan desa, perjalanan akan tiba di lokasi yang kini diproyeksikan menjadi pusat destinasi wisata religi masa depan Desa Tambaksumur. Letaknya strategis. Berada di samping SDN Tambaksumur dan Balai Desa Tambaksumur. Jadi, mudah dijangkau oleh para peziarah maupun pengunjung dari luar daerah.
Di tempat itu terdapat tiga kompleks makam utama yang berdekatan. Makam Mbah Zainal Abidin di tengah, makam Mbah Kenduruan di barat, dan makam Kiai Mas di timur. Ketiganya membentuk poros spiritual yang diyakini sebagai pusat keberkahan desa.
Menurut Kades Tambaksumur H. Mas’ud, selain tiga makam utama tersebut, masih ada pula makam-makam lain. Keberadaannya turut dimuliakan dan dianggap sebagai pendukung keberadaan makam-makam besar para wali Allah tersebut. Pesarean pendukung itu, antara lain, makam Mbah Imam Marhaban yang terletak di sisi selatan desa dan makam Mbah Moncol Puspondriyo dan makam Syaikh Jamaluddin di sisi utara desa.
Episentrum wisata religi masa depan Tambaksumur pada akhirnya akan terfokus pada makam Mbah Zainal Abidin yang berada di bagian tengah kompleks.
”Di Tambaksumur ini paketnya lengkap,” tutur Abdullah Munir, ketua Pengurus Pengamanan dan Pengelolaan Aset Peninggalan Sesepuh dan Cagar Budaya (P3APS-CB) Desa Tambaksumur.
Istilah ”lengkap” yang dimaksudkan adalah keberagaman karamah yang dimiliki para tokoh yang dimakamkan di desa tersebut. Para aulia yang dimakamkan di Tambaksumur memiliki keistimewaan yang berbeda-beda sehingga saling melengkapi.
Sebagai contoh, Mbah Zainal Abidin dikenal sebagai ulama syariat sekaligus penulis kitab. Dengan karamah utama berupa keberkahan yang menurunkan banyak kader ulama sholeh. Sementara itu, Mbah Kenduruan memiliki karamah yang terkait dengan ilmu kesaktian dan pangkat. Adapun Mbah Moncol Puspondriyo diyakini memiliki karamah dalam hal mendatangkan kekayaan bagi siapa saja yang berdoa kepada Allah saat berziarah ke makamnya.
”Makanya kami menyebutnya sebagai paket lengkap,” lanjut Ustadz Munir, sapaan akrab alumnus Pondok Pesantren Al-Hidayah Ketegan, Tanggulangin, itu.
Dari situlah masyarakat semakin yakin bahwa Desa Tambaksumur memiliki keunikan sekaligus daya tarik religius tersendiri yang akan mampu mengundang banyak peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. (*/Bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…
Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…
Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…
Sebuah mobil Toyota Innova Zenix mengalami kecelakaan tunggal setelah menabrak tiang lampu penerangan jalan dan…
”Kelak, Tambaksumur akan jadi ramai seperti Ampel. Orang akan datang ke sini dulu sebelum ke…
Bupati Subandi mendapat doa istimewa dari pimpinan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sidoarjo. Baik jajaran MWC…
This website uses cookies.