Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Di area kompleks makam, terdapat penanda lima makam, bangunan pendapa, juga musholla, lengkap dengan sejumlah keran untuk wudlu. Area parkir yang cukup luas juga siap menyambut pengunjung yang membawa kendaraan.
Lima makam yang ada di kompleks tersebut terdiri dari satu makam dengan ukuran bangunan nisan besar di cungkup berkelambu serta empat lainnya yang berukuran kurang lebih sama di sekitarnya. Makam yang ada di dalam cungkup berkelambu, tak lain, adalah peristirahatan Mbah Ibrahim Al-Jaelani. Empat makam lainnya sebagai penanda para pengikut atau murid beliau.
Satu makam lainnya merupakan peristirahatan Mbah Bongoh yang dikenal sebagai sahabat Mbah Bungur, yang juga merupakan kepala desa setempat. Beliau berguru dan kerap meminta petunjuk dan nasihat kepada Mbah Ibrahim Al-Jaelani. Lokasi makam Mbah Bongoh ada di sisi timur makam bercungkup dekat pohon beringin. Tiga makam lainnya juga tak jauh dari makam beratap. Namun, satu agak jauh di sisi timur atau lebih dekat ke pendapa.
‘’Konon ada hingga ratusan makam berukuran kecil di sekitarnya, lalu penandanya jadi satu, yaitu nisan yang terpisah itu,’’ ujar Erwin Syamsudin Ritonga, Ketua Umum Pengurus Makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani.
Semua bangunan makam dan nisannya sudah dikeramik. Warna putih mengesankan kebersihan. Erwin mengatakan, makam-makam tersebut sudah tidak dalam bentuk aslinya. Sebelumnya, makam-makam tersebut tersusun dari bebatuan dan bata kuno.
Pada 1996, renovasi awal untuk pembangunan makam dilakukan. Saat dibangun, nisan dan bata kunonya dikubur juga di dalamnya sehingga menghilangkan keaslian makam tersebut. Sejumlah perawat makam selalu menjaga kebersihan dan keasrian kompleks tersebut.
Kawasan makam Mbah Bungur dan Mbah Bongoh ini dulu merupakan daerah wingit (keramat). Jarang sekali orang berani merambah ke tempat itu. Indikasinya adalah tempat-tempat yang wingit atau keramat diduga menyimpan peninggalan masa lalu yang terpendam.
Apalagi ada barongan (rerimbunan pohon bambu) dan pohon beringin yang merupakan indikasi adanya sumber atau kandungan air di lahan tersebut. Keberadaan pohon beringin menandakan daerah itu mengandung air yang melimpah. Sifat ekologis pohon beringin memang mampu menyimpan air dalam musim hujan dan mengeluarkannya secara pelan pada musim kemarau.
Suatu daerah kaya air antara lain juga ditandai dengan tumbuhnya rumpun pohon bambu. Bambu adalah tumbuhan yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air dengan baik. Karena itu, keberadaan rumpun bambu merupakan indikasi bahwa daerah itu dulunya kaya air. Bahkan mungkin pernah ada sungai atau semacam danau kecil yang sudah hilang.
Indikasi bahwa Desa Bungur memang kaya air adalah ditemukannya sejumlah sumur dengan debit air yang besar sehingga mampu disedot dan dialirkan ke banyak pipa. Mengiringi kisah kehidupan Mbah Bungur di wilayah tersebut. Bahwa di desa ini ada legenda Sumur Sewu. Dan, ternyata sekarang masih ada beberapa sumur yang tersisa dan tetap berfungsi.
Selain itu, sekitar tahun 1970-an, masih ada beberapa sungai kecil yang sekarang tidak ada bekasnya lagi. Bahkan, ada sungai selebar sekitar 3 meter di utara kampung Bungur. Namun, sekarang sudah hilang sejak adanya pembangunan terminal. (*/Bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk


