Categories: Bumi Aulia

Syaikh Makhdum Syarfin dari Tarik, Makam Waliyullah yang Ditemukan lewat Mimpi (3)

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Bagaimana Syaikh Makhdum Syarfin ditemukan adalah kisah tersendiri yang menarik. Menurut Agus Suyitno, keberadaan makam tersebut baru diketahui sekitar tahun 2004. Lewat isyarat mimpi. Agus mendapatkan pesan dari kakeknya untuk mencari makam leluhurnya yang masih tercatat sebagai sesepuh Desa Kedungbocok.

Setelah mendapatkan ”pesan khusus” melalui mimpi, Agus mulai mencarinya. Namun, di mana kira-kira makam tersebut berada, Agus tidak memiliki petunjuk sama sekali.

Awalnya dia mendatangi beberapa kompleks makam, namun tidak menemukannya. Bahkan, pencarian juga dilakukan sampai ke luar daerah dan luar pulau. Namun, hasilnya tetap nihil. Upayanya itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan hati.

Sampai akhirnya, pada suatu waktu, Agus bermimpi lagi. Dia mendapatkan isyarat bahwa makam sosok yang mbabat desa tersebut berada di Pemakaman Desa Kedungbocok. Penandanya adalah nisan berbahan batu.

Agus lantas mendatangi makam Kedungbocok itu. Dan, akhirnya dia menemukan makam dengan penanda sesuai mimpinya. Tentu saja pada masa awal penemuan, makam Syaikh Makhdum Syarfin tak seperti kuburan pada umumnya. Bahkan, yang menyedihkan, di atas pusaranya, terdapat banyak tumpukan sampah. Agus pun membersihkannya. Lalu, memasang pagar seadanya.

Kendati begitu, Agus tidak lantas percaya begitu saja. Ia mendiskusikannya dengan ulama yang dihormati. Salah satunya dengan K.H. Hasan Bisri yang dipercaya juga masih dzurriyah Syaikh Makhdum Syarfin dan Sunan Ampel.

Setelah memohon petunjuk langsung kepada Allah SWT melalui sholat istikharah, K.H. Hasan Bisri pun turut meyakini bahwa makam tersebut adalah benar makam Syaikh Makhdum Syarfin.

Agus mengisahkan, sosok sesepuh desa yang diyakini sebagai Syaikh Makhdum Syarfin tersebut memiliki nama lain Amardi Tirto Sanjoyo.

”Mungkin saat itu masih belum jauh dari zaman Majapahit. Jadi namanya masih berbau Majapahit,” ungkapnya.

Sejak itulah Agus bersama warga desa merawat makam tersebut. Bahkan, dia juga mengadakan haul untuk penghuni makam tersebut yang waktunya dibarengkan dengan ruwatan Desa Kedungbocok. Ritual yang dilakukan di antaranya membersihkan makam secara bergotong-royong hingga wayangan semalam suntuk.

Pada 2010, makam Syaikh Makhdum Syarfin direnovasi. Namun, membangunnya bukanlah perkara mudah. Sebab, makam Syaikh Makhdum Syarfin berada di pemakaman umum yang posisinya bersebelahan dengan makam warga lain. Namun, berdasar petunjuk K.H. Hasan Bisri, makam tersebut berhasil dipugar. K.H. Hasan Bisri pula yang membiayai pemugarannya.

Saat ini, hampir setiap hari, ada warga berziarah ke makam tersebut. Mereka berdatangan dari berbagai kota. Di antaranya, dari Surabaya, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, dan Sidoarjo sendiri. Para peziarah berdoa kepada Allah SWT di teras makam. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Naufal

Recent Posts

Bupati Subandi Buka Puasa Bersama Masyarakat; Pesan KH Zainal: Kalau Dijeleki Orang, Bilang Saja Aku Gak Ngurus

Pemkab Sidoarjo menggelar buka puasa bersama di Pendopo Delta Wibawa pada Jumat (13 Maret 22026).…

5 hours ago

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Siap Hadapi Puncak Arus Mudik, Prediksi Kenaikan 5 Persen

Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya telah melakukan persiapan jauh hari jelang…

15 hours ago

SNPMB ITS 2026 Resmi Dibuka, Tawarkan 7.160 Kursi S1-D4 Plus dengan Beragam Beasiswa

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mempertegas komitmennya dalam menjaring talenta terbaik bangsa melalui Seleksi…

20 hours ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (4): Memasuki Lingkaran Makna Kehidupan, Dari Ihram hingga Tahallul

PERJALANAN menuju Tanah Suci sering kali dimulai dari hal-hal yang sangat praktis: koper yang disiapkan,…

22 hours ago

Aktivis HAM Diserang Air Keras, KontraS: Bukan Lagi Alarm Bahaya, Ini Titik Nadir Demokrasi!

Teror terhadap aktivis kembali terjadi. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan…

1 day ago

Sambut Arus Mudik Lebaran 2026, KAI Commuter Surabaya Siapkan 50 Perjalanan Kereta per Hari

Menyambut arus mudik Lebaran 2026, KAI Commuter Area 8 Surabaya menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna…

1 day ago

This website uses cookies.