13 March 2026, 1:08 AM WIB

Syaikh Makhdum Syarfin dari Tarik, Cicit Sunan Ampel Penyebar Islam di Era Majapahit (1)

spot_img

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Syaikh Makhdum Syarfin adalah penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah Tarik, Kabupaten Sidoarjo. Jangan heran apabila hingga saat ini masih banyak warga dari berbagai kota yang berziarah ke makam ulama mulia tersebut.

Makam Syaikh Makhdum Syarfin berada di tengah perkampungan. Tepatnya di Dusun Bocok Wetan, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik. Suasana pedesaan sangat terasa di daerah itu. Kanan kiri jalan utama desa masih hamparan persawahan nan luas.

Desa Kedungbocok sendiri terbagi dari beberapa dusun, yakni Dusun Kedungbocok Lor, Kedungbocok Kulon, Kedungbocok Wetan, Kedung Ploso, Kedungklinter, dan Ngasem. Penduduknya rata-rata bekerja sebagai petani.

Ada satu hal yang menarik terkait toponimi atau asal-usul nama Kedungbocok. Menurut warga desa di sana, dulunya ada sebuah kedung (kolam besar) di tengah desa. Lokasinya tidak jauh dari Sungai Brantas. Di masa silam, sepanjang aliran sungai juga menjadi persinggahan para pedagang.

Nama Kedungbocok muncul karena para pedagang yang bermukim di sana sering rebutan air dari kedung di desa tersebut. Hal itu mengakibatkan banyak air yang tumpah dan menjadikan kawasan sekitar becek. Seiring waktu, warga akhirnya mengenal daerah itu sebagai Kedungbocok.

Makam Syaikh Makhdum Syarfin terletak di Pemakaman Umum Desa Kedungbocok. Keberadaan makam Syaikh Makhdum Syarfin terlihat menonjol jika dibandingkan makam yang lain. Sebab, lokasinya berada di bagian paling depan. Tak jauh dari gerbang pemakaman.

Kini kondisi makam sudah banyak berubah. Berbeda dengan dahulu yang hanya ditandai dengan tumpukan batu. Beberapa waktu berlalu. Warga bersama K.H. Hasan Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Baitul Yaqin di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, telah merenovasinya. K.H. Hasan Bisri adalah tokoh yang sangat dihormati warga setempat.

Kondisi pemakaman kini tampak berbeda. Terwujudlah sebuah bangunan kecil, seluas kira-kira 30 meter persegi, berteras, dan berlantai keramik. Makam Syaikh Makhdum Syarfin membujur panjang di dalam bangunan itu. Jendela-jendelanya terpasangi kelambu putih. Karenanya, saat siang hari, sinar matahari bisa menembus ke dalam ruangan. Tak perlu penerangan tambahan.

Setiap hari tampak bunga yang ditaburan di atas pusara. Semerbak harumnya merebak memenuhi seluruh ruangan. Para peziarah yang memasuki kompleks makam akan dengan mudah mengetahui siapa sebenarnya sosok Syaikh Makhdum Syarfin. Sebab, di pojokan bangunan tergantung silsilah Makhdum Syarfin. Bentuknya sebuah papan sederhana berlatar belakang putih.

Ulama Syaikh Makhdum Syarfin meninggalkan jejak sejarah penyebaran Islam yang kuat bagi warga Desa Kedungbocok. Salah satu tinggalannya adalah nilai-nilai spiritual dan kultural yang mengakar kuat bagi masyarakat. Warisan itu terus terpelihara hingga saat ini. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Syaikh Makhdum Syarfin adalah penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah Tarik, Kabupaten Sidoarjo. Jangan heran apabila hingga saat ini masih banyak warga dari berbagai kota yang berziarah ke makam ulama mulia tersebut.

Makam Syaikh Makhdum Syarfin berada di tengah perkampungan. Tepatnya di Dusun Bocok Wetan, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik. Suasana pedesaan sangat terasa di daerah itu. Kanan kiri jalan utama desa masih hamparan persawahan nan luas.

Desa Kedungbocok sendiri terbagi dari beberapa dusun, yakni Dusun Kedungbocok Lor, Kedungbocok Kulon, Kedungbocok Wetan, Kedung Ploso, Kedungklinter, dan Ngasem. Penduduknya rata-rata bekerja sebagai petani.

Ada satu hal yang menarik terkait toponimi atau asal-usul nama Kedungbocok. Menurut warga desa di sana, dulunya ada sebuah kedung (kolam besar) di tengah desa. Lokasinya tidak jauh dari Sungai Brantas. Di masa silam, sepanjang aliran sungai juga menjadi persinggahan para pedagang.

Nama Kedungbocok muncul karena para pedagang yang bermukim di sana sering rebutan air dari kedung di desa tersebut. Hal itu mengakibatkan banyak air yang tumpah dan menjadikan kawasan sekitar becek. Seiring waktu, warga akhirnya mengenal daerah itu sebagai Kedungbocok.

Makam Syaikh Makhdum Syarfin terletak di Pemakaman Umum Desa Kedungbocok. Keberadaan makam Syaikh Makhdum Syarfin terlihat menonjol jika dibandingkan makam yang lain. Sebab, lokasinya berada di bagian paling depan. Tak jauh dari gerbang pemakaman.

Kini kondisi makam sudah banyak berubah. Berbeda dengan dahulu yang hanya ditandai dengan tumpukan batu. Beberapa waktu berlalu. Warga bersama K.H. Hasan Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Baitul Yaqin di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, telah merenovasinya. K.H. Hasan Bisri adalah tokoh yang sangat dihormati warga setempat.

Kondisi pemakaman kini tampak berbeda. Terwujudlah sebuah bangunan kecil, seluas kira-kira 30 meter persegi, berteras, dan berlantai keramik. Makam Syaikh Makhdum Syarfin membujur panjang di dalam bangunan itu. Jendela-jendelanya terpasangi kelambu putih. Karenanya, saat siang hari, sinar matahari bisa menembus ke dalam ruangan. Tak perlu penerangan tambahan.

Setiap hari tampak bunga yang ditaburan di atas pusara. Semerbak harumnya merebak memenuhi seluruh ruangan. Para peziarah yang memasuki kompleks makam akan dengan mudah mengetahui siapa sebenarnya sosok Syaikh Makhdum Syarfin. Sebab, di pojokan bangunan tergantung silsilah Makhdum Syarfin. Bentuknya sebuah papan sederhana berlatar belakang putih.

Ulama Syaikh Makhdum Syarfin meninggalkan jejak sejarah penyebaran Islam yang kuat bagi warga Desa Kedungbocok. Salah satu tinggalannya adalah nilai-nilai spiritual dan kultural yang mengakar kuat bagi masyarakat. Warisan itu terus terpelihara hingga saat ini. (Redaksi/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait