Makam Mbah Ud atau K.H. Ali Mas'ud selalu dipenuhi para peziarah setiap hari, terutama saat Kamis malam dan Ramadan. (Foto: Dite Surendra/Metrotoday)
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
—————————–
SETELAH meninggal dan dimakamkan, karamah Mbah Ud menjadi berkah tersendiri bagi Desa Pagerwojo. Hal itu disampaikan Kades Pagerwojo Achmad Mulyanto. Desa Pagerwojo yang dulu termasuk terbelakang, atas izin Allah Swt, lambat laun mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan.
Pada masa-masa awal, ratusan peziarah dari berbagai kota setiap hari memenuhi makam Mbah Ud. Tak hanya untuk ngalap berkah atau napak tilas, mereka juga menggelar doa bersama dan aktivitas keagamaan lain di sana.
Lambat laun, makam desa Pagerwojo dimana jenazah Mbah Ud dimakamkan, akhirnya dibangun dengan dana swadaya hasil dari pengelolaan infaq dan donasi dari para peziarah yang terus mengalir setiap hari.
Jalan desa menuju makam yang semula makadam juga diperbaiki dan diaspal halus. Bahkan, jalan itu kemudian dinamai sama dengan sang Waliyullah, yakni Jalan K.H. Ali Mas’ud. Warga sekitar juga mendapatkan berkah dari kehadiran para peziarah dengan berjualan atau membuka lahan parkir.
Namun demikian, perbaikan besar berupa pemugaran dan pembangunan makam Mbah Ud yang terlihat seperti saat ini baru dilakukan pada 1990-an. Ide renovasi ini berasal dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo yang saat itu dipimpin Bupati Win Hendrarso.
Gus Amman atau H. Abdurrahman Cholil, cucu keponakan Mbah Ud yang kini menjadi ketua yayasan pengurus makam dan masjid KH Ali Mas’ud mengatakan, renovasi itu menjadi satu paket dengan pembangunan pendopo dan mushala putri di samping makam Mbah Ud. “Dananya dari swadaya masyarakat dan bantuan pemkab,” katanya.
Dari renovasi yang memakan waktu setahun itu, kompleks makam Mbah Ud kini semakin cantik. Makam berbentuk cungkup dinaungi rumah joglo berwarna hijau.
Makam itu juga dipagari dinding kayu berukir Jepara dengan hiasan kaligrafi Arab Jawa yang berisi syair syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi kesukaan Mbah Ud.
Tak hanya itu, sebuah masjid besar kini juga berdiri di sisi utara bersebelahan dengan kompleks makam yang dipisahkan dengan jalan desa.
Masjid yang diberi nama Masjid K.H. Ali Mas’ud ini berdiri di tanah milik Lilik Khurrotin, keponakan Mbah Ud dari kakak perempuannya, Nyai Masrifah.
Masjid ini dibangun atas usulan dari K.H. Abdul Hamid -sahabat Mbah Ud- untuk memfasilitasi kebutuhan para peziarah yang akan salat.
Kiai Hamid bahkan ikut turun tangan langsung mengawasi pembangunan masjid termasuk mendatangkan para pekerja dan tukang bangunan dari Pasuruan. Rupanya, K.H. Abdul Hamid menaruh perhatian besar pada makam sahabatnya itu. (Redaksi/bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Konflik yang memanas di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak menghentikan…
Satpol PP Surabaya melakukan penebalan personel dan pengamanan di sejumlah titik rawan. Langkah ini ditempuh…
Kecelakaan antara kendaraan roda dua dan roda empat terjadi di Jalan Kuwukan tepatnya depan perumahan…
Ribuan warga memadati halaman Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Rabu (4/3). Sebanyak 32.000 mustahik menerima…
K.H. Ali Mas’ud atau Mbah Ud wafat pada Selasa Pahing tanggal 10 Juni 1980, bertepatan…
Situasi di kawasan Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangkaian serangan…
This website uses cookies.