Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
—————————–
PONDOK Sono aslinya bernama Pondok Pesantren Ummul Ulum. Namun seperti banyak pondok pesantren lain di Indonesia, lebih dikenal nama daerahnya daripada nama asli pondoknya.
Sebut saja Pondok Pesantren Tebuireng dan Tambakberas di Jombang, Ploso dan Lirboyo di Kediri, Sidogiri dan Rejoso di Pasuruan, Langitan di Tuban, atau Gontor di Ponorogo. Semua nama pondok pesantren itu diambil dari nama desa tempat mereka berada.
Pondok Sono yang terletak di Dusun Sono, Desa Sidokerto, didirikan oleh K.H. Muhayyin pada sekitar tahun 1800-an sebagai penerus atau pengganti dari pondok yang lebih tua di daerah Tambaksumur, Kecamatan Waru, yang didirikan oleh pamannya, yakni K.H. Zainal Abidin.
Sebelum membangun pondok di Sono, Kiai Muhayyin pernah menjadi santri di pondok K.H. Zainal Abidin yang hanya berupa surau atau musholla di samping rumah sang kiai. Karena kepandaiannya, Kiai Muhayyin diambil menantu dan dinikahkan dengan putri sulung K.H. Zainal Abidin, yakni Nyai Asfiyah.
Sebenarnya Nyai Asfiyah masih saudara sepupu dengan Kiai Muhayyin dari jalur ayah. Ayah Kiai Muhayyin adalah K.H. Mursyidi, adik dari K.H. Zainal Abidin, yang tinggal di Sono.
Keluarga para aulia ini memiliki garis nasab ke Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah) hingga ke Rasulullah Muhammad SAW dari putrinya, Sayyidah Fatimah Azzahrah.
Mengetahui kepandaian menantunya, K.H. Zainal Abidin membangunkan pondok pesantren sendiri untuk Kiai Muhayyin bersama kedua putranya, yakni K.H. Abu Manshur dan K.H. Zarkasyi, di Dusun Sono, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Tambaksumur.
Namun, Kiai Muhayyin tidak lama memimpin pondok. Setelah wafat dan dimakamkan di belakang musholla pondok, kepemimpinan Pondok Sono diteruskan oleh kedua putranya itu.

Saat itulah, Pondok Sono mencapai masa keemasan atau kemasyhuran ketika dipimpin dua bersaudara kakak-adik, K.H. Abu Manshur dan K.H. Zarkasyi.
Ratusan santri dari berbagai wilayah mondok atau menetap di Pondok Sono yang memiliki kitab shorof Tashrifan dan menjadi andalan dari metode pendidikan di pondok ini. Selain keunggulan metode pendidikannya, manajemen Pondok Sono saat itu juga terhitung maju.
Kedua kiai muda itu berbagi peran di pondok. Kiai Abu Manshur lebih banyak pada urusan internal dengan mendidik para santri dan menyiapkan kurikulum pembelajaran. Sedangkan Kiai Zarkasyi bertugas menjalin relasi dan hubungan baik dengan masyarakat maupun lembaga di luar pondok.
“Karena itu orang dalam lebih tahu Kiai Manshur sebagai pengurus pondok. Orang luar lebih kenal Kiai Zarkasyi sebagai pengurus pondok,” kata Gus Ali Bashori, pengasuh Pondok Sono saat ini.
Berkat keduanya, Pondok Sono memiliki santri tidak hanya dari seputar wilayah Sidoarjo. Ratusan santri juga datang dari wilayah lain, termasuk santri-santri utama yang kemudian menjadi ulama dan mendirikan banyak pondok pesantren di daerah masing-masing.
Kejayaan Pondok Sono diteruskan oleh kedua putra K.H. Abu Manshur, yakni K.H. Ahmad Asy’ari dan kakaknya, K.H. Anwar. Mereka mulai memegang kepemimpinan Pondok Sono tahun 1930-an sepeninggal Kiai Abu Manshur yang wafat pada 1928 di usia 98 tahun.
Setelah mengalami perjalanan panjang, dibumihanguskan dan dikuasai tentara Jepang, Kiai Ahmad Asy’ari memindahkan pondok ke rumahnya sendiri. Letaknya tak jauh dari lokasi pondok lama. Pondok Sono yang baru itu kini berada di Dusun Sono Utara, RT 6 RW 5, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran.
Sebagian kusen dan kayu dari pondok lama sempat diselamatkan oleh Kiai Ahmad Asy’ari (Kiai Mad) untuk membangun pondok yang baru. Beberapa kitab untuk pembelajaran, termasuk kitab shorof Tashrifan, juga sempat diselamatkan. Beliau memulai lagi pendidikan di Pondok Sono dengan hanya beberapa orang santri.
Setelah Kiai Mad wafat pada 1967, kepemimpinan Pondok Sono diteruskan oleh putranya, K.H. Ma’shum Ahmad. Saat itu, tahun 1970-1990-an, jumlah santri yang bermukim tinggal 30-40-an orang. Sebagian santri yang lain memilih hanya datang untuk mengaji tanpa tinggal menginap di pesantren (santri kalong).
Saat ini, Pondok Sono dipimpin oleh Gus Ali (K.H. Ali Bashori) dan adiknya, K.H. Masduki. Namun kini sudah tidak ada lagi santri yang bermukim atau tinggal menginap di pesantren.
Mereka hanya datang untuk mengaji kitab nahwu shorof yang diadakan secara berkala. Kitab Tashrifan shorof pun masih disimpan di pondok ini sampai sekarang. (Redaksi/bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk


