Categories: Bumi Aulia

Makam Aulia Sono (2): Dihancurkan Jepang, Dibangun Gus Muhdlor, Diresmikan Jenderal Dudung

Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

———————

MAKAM Aulia Sono tak bisa dipisahkan dari perkembangan Islam dan pondok pesantren di Sidoarjo. Aulia artinya para wali atau orang-orang yang dekat dengan Allah SWT. Sedangkan Sono merujuk pada lokasi makam, yakni di Dusun Sono, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran.

Makam Aulia Sono juga tak lepas dari keberadaan salah satu pondok pesantren tertua di Sidoarjo, yakni Pondok Pesantren Ummul Ulum, yang didirikan K.H. Muhayyin pada sekitar abad ke-18 atau pada tahun 1750-an di Dusun Sono. Namun, ada pula yang mengatakan Pondok Sono didirikan pada tahun 1817.

Kiai Muhayyin beserta keluarga para pendiri dan pengelola pondok inilah yang dimakamkan dalam satu area di belakang musholla pondok. Makam itu kemudian lebih dikenal sebagai Makam Sono atau makam para aulia dari Desa Sono.

“Jadi, Makam Aulia Sono sebenarnya adalah makam keluarga dari Bani Muhayyin, para pendiri Pondok Pesantren Ummul Ulum atau Pondok Sono,” jelas Ali Bashori (Gus Ali), keturunan keempat dari K.H. Muhayyin yang tinggal di Dusun Sono. Gus Ali adalah putra pertama dari cicit K.H. Muhayyin, yakni K.H. Ma’shum Ahmad.

Dari belasan makam di kompleks tersebut, terdapat enam makam inti yang menjadi tujuan utama para peziarah. Yang utama tentu makam K.H. Muhayyin. Kemudian di sisi kiri (timur) terdapat makam istrinya, Nyai Hj. Asfiyah dan putranya, K.H. Abu Manshur yang wafat tahun 1928 dalam usia 98 tahun. Kemudian di sisi kanan (barat) ada makam K.H. Zarkasyi, putra K.H. Muhayyin, dan K.H. Ma’shum Ahmad, cicit Kiai Muhayyin dari K.H. Zarkasyi.

Pondok Pesantren Ummul Ulum atau Ponpes Sono yang didirikan di abad 18 sangat termasyhur di zamannya. (Foto: Ilustrasi AI)

Berikutnya di sisi utara makam K.H. Muhayyin terdapat makam cucunya yakni K.H. Said bin Zarkasyi, yang tak lain adalah ayahanda dari K.H. Ali Mas’ud atau Mbah Ud, seorang waliyullah yang disegani dan dimakamkan tak jauh dari Makam Sono, yakni di Makam Islam Pagerwojo.

“Berhubung makam Mbah Ud di Pagerwojo, jadi biasanya peziarah datang ke Sono dulu, baru dilanjutkan ke makam Mbah Ud. Itu satu paket,” tambah Gus Ali. Selain itu, di Makam Sono juga dimakamkan K.H. Ibrahim, Nyai Chotiah, dan Nyai Azkiyah yang ketiganya adalah putra K.H. Muhayyin.

Meski keberadaannya disinyalir sejak tahun 1800-an, Makam Aulia Sono tak pernah berubah hingga sekarang, atau lebih dari dua abad kemudian. Nisan makam yang terbuat dari batu dan kayu masih asli, hanya kijing untuk enam makam utama itu yang kini sudah dikeramik putih.

Padahal, Pondok Sono atau Pondok Ummul Ulum yang ada di tempat itu sudah musnah. Pondok Sono beserta satu-satunya musholla pondok yang belakangan menjadi lokasi makam Bani Muhayyin, sudah dihancurkan oleh tentara pendudukan Jepang. Di kemudian hari, kawasan itu dijadikan sebagai tempat latihan tentara Peta (Pembela Tanah Air).

Dikisahkan oleh Ali Bashori atau Gus Ali, ketika Pondok Sono dipimpin oleh K.H. Ahmad Asy’ari (Kiai Mad) dan kakaknya K.H. Anwar (keduanya putra K.H. Abu Manshur bin K.H. Muhayyin), pasukan Jepang masuk ke Sidoarjo pada Maret 1942 seraya melucuti senjata tentara Belanda yang saat itu bermarkas di kompleks Arhanudse di Gedangan.

Setelah menguasai markas Belanda di Arhanudse, militer Jepang rupanya tidak suka dengan keberadaan Pondok Sono yang hanya berjarak 5 kilometer dari markasnya. Karena itu, Jepang melarang aktivitas pendidikan di pondok itu. Bahkan, Jepang kemudian mengebom lokasi di sekitar pondok karena dicurigai menjadi tempat persembunyian para pejuang yang ingin masuk ke Surabaya.

“Bom-bom Jepang itu membuat masyarakat di sini mengungsi karena ketakutan. Keluarga pondok juga banyak yang ikut mengungsi ke Sidoarjo dan Jember. Termasuk para santri yang terpaksa dipulangkan karena kondisi yang tidak aman,” jelas Gus Ali.

Setelah kondisi Pondok Sono kosong karena ditinggal mengungsi seluruh penghuninya, tentara Jepang mengambil alih bangunan pondok. Jepang kemudian menghancurkan total seluruh bangunan pondok yang saat itu sebagian sudah hancur terkena bom. Termasuk musholla yang ada di pondok juga dihancurkan. Namun demikian, karena kuasa Allah SWT, makam para aulia Bani Muhayyin yang ada di belakang musholla selamat dari penghancuran.

Kompleks makam Bani Muhayyin, pendiri Ponpes Sono. (Foto: Dite Surendra/Metrotoday)

Setelah bangunan pondok musnah, Jepang mengubah area bekas Pondok Sono menjadi gudang senjata dan lapangan untuk latihan perang bagi tentara Peta (Pembela Tanah Air). Tentara Peta adalah milisi pribumi bentukan Jepang yang disiapkan untuk membantu dalam perang di Indonesia.

Pada tahun 1950-an setelah era kemerdekaan, K.H. Ahmad Asy’ari mendatangi lokasi bekas Pondok Sono yang telah ditinggalkan Jepang karena kalah perang. Kiai Mad bermaksud membangun kembali Pondok Sono yang pernah didirikan oleh keluarganya. Apalagi di sana masih ada makam para leluhurnya.

Saat itu, bekas lapangan Peta sudah menjadi hutan belantara. Namun niat itu ditolak oleh TNI yang saat itu sudah mengambil alih wilayah tersebut. Alasannya faktor keamanan, sebab di sana ada bekas gudang senjata Jepang.

TNI juga membangun Gudang Pusat Persenjataan (Gupusjat) TNI AD di bekas gudang senjata Jepang itu. Namun, masyarakat dan keluarga masih diizinkan untuk berziarah ke Makam Sono dengan pemeriksaan ketat karena memasuki kompleks militer.

Di zaman Orde Baru (Orba), terutama pasca aksi kudeta Gestapu PKI yang gagal pada tahun 1965, pemerintah maupun TNI semakin ketat membatasi gerak-gerik masyarakat. Saat itu Makam Sono ditutup dan terlarang untuk dikunjungi atau diziarahi. Pihak keluarga pun sudah tak boleh lagi memakamkan anggotanya di makam itu.

Akibatnya, jenazah K.H. Anwar yang wafat pada 1946 dan adiknya, K.H. Ahmad Asy’ari pada 1967, tidak bisa lagi dimakamkan berkumpul dengan leluhurnya di Makam Sono.

Era reformasi pun tiba. Saat K.H. Abdurrahmad Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia, pemerintah memberikan kesempatan kepada pihak keluarga Pondok Sono untuk mengembalikan hak atas tanah keluarga di Sidokerto yang dikuasai TNI. Namun karena ada dokumen tanah atau agraria yang tak bisa dipenuhi, upaya itu akhirnya kandas.

Meski begitu, pihak keluarga yang dipimpin K.H. Ma’shum Ahmad bin Asy’ari sempat diundang ke Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta, untuk membicarakan persoalan tersebut. Dari hasil pertemuan itu, pihak TNI yang menguasai lahan di Gupusjat, termasuk Makam Sono, akhirnya mempersilakan pihak keluarga berziarah, bahkan dimakamkan di Makam Sono.

Dari situlah, saat wafat pada 4 Maret 2019 bertepatan dengan Jumadil Akhir 1440 Hijriyah, K.H. Ma’shum yang menggantikan K.H. Ahmad Asy’ari memimpin Pondok Sono boleh dimakamkan di Makam Sono. Namun anggota keluarga yang lain sudah sulit dimakamkan di tempat itu, karena keterbatasan lahan yang tersedia.

Zaman terus berubah. Tahun 2019, kader NU dan PKB memimpin pemerintahan Sidoarjo. H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) terpilih menjadi Bupati Sidoarjo. Sang bupati yang juga putra dari K.H. Agoes Ali Masyhuri menggagas program Wisata Religi Sidoarjo.

Dan, Makam Sono-lah yang menjadi prioritas pertama direnovasi dengan biaya dari APBD Sidoarjo. Bupati muda ini juga melobi langsung Mabes TNI AD yang saat itu dipimpin KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurrachman. Dudung yang pernah nyantri di Pesantren Buntet Cirebon pun segera menyetujui rencana itu.

Pada 31 Agustus 2022, Dudung datang langsung ke Makam Sono didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Muhdlor melakukan peletakan batu pertama renovasi Makam Sono. Tak butuh waktu lama, renovasi itu selesai hanya dalam waktu 1 tahun. Nama Makam Sono diubah menjadi Makam Aulia Sono.

Gus Muhdlor mengatakan, alasan pemberian nama Makam Aulia Sono sebagai bentuk penghormatan. Karena di tempat itu, dimakamkan para aulia atau waliyullah yang telah berjuang untuk mendidik masyarakat hingga melahirkan para ulama besar di tanah Jawa. Salah satunya adalah pendiri dan Rais Akbar NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Peresmian Wisata Religi Makam Aulia Sono dilakukan langsung oleh Jenderal Dudung Abdurrachman didampingi Wagub Emil Dardak dan Bupati Muhdlor Ali pada 4 Mei 2023. Kini kompleks makam yang telah dipercantik dan diperluas itu semakin sering dikunjungi para peziarah. Namun demikian, upaya keluarga mengembalikan hak tanah atas bekas Pondok Sono masih buntu hingga sekarang. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk.

Jay Wijayanto

Recent Posts

Bareskrim Polri Geledah 3 Lokasi di Surabaya dan Nganjuk Terkait TPPU Emas Tambang Ilegal Rp 25,8 Triliun

Bareskrim Polri menyita barang bukti kiloan emas batangan dalam penggeledahan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang…

1 hour ago

Polda Jatim Ungkap Peredaran Sabu Jalur Laut di Gudang Surabaya Utara, Pelaku Kabur

Direktorat Narkoba Polda Jawa Timur berhasil mengungkap kasus tindak pidana peredaran gelap narkotika jenis sabu…

2 hours ago

Sarasehan Kebangsaan JSN 45: Ketahanan Ideologi Pancasila Kunci Hadapi Ancaman Proxy

Ancaman terhadap negara Indonesia saat ini tidak hanya datang secara langsung, melainkan melalui mekanisme proxy…

3 hours ago

Sediakan Menu Buka hingga Sahur Gratis, Masjid Pemuda Konsulat Dipenuhi Pengunjung

Wakil Pengasuh Masjid Pemuda Konsulat, Ramadhan Surohadi, menyampaikan bahwa di awal Ramadan ini, pihaknya menyediakan…

3 hours ago

Kebut Perbaikan Jalan Rusak, Bupati Subandi Minta Kecamatan dan Dinas PUBMSDA Sidoarjo Serentak Bergerak

Pemkab Sidoarjo terus mengebut perbaikan jalan yang rusak. Saat ini perbaikan 16 ruas jalan tengah…

16 hours ago

Senyum Lansia hingga Disabilitas Sambut Bansos Rp 3 Miliar di Pendopo Delta Wibawa

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Sidoarjo Subandi menyalurkan bantuan sosial di Pendopo…

16 hours ago

This website uses cookies.