Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
———————
DI sudut desa yang tenang di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, berdiri sebuah institusi pendidikan Islam yang telah melintasi berbagai zaman. Lebih dari itu, institusi tersebut telah melahirkan banyak generasi unggul di masa silam. Institusi itu dikenal dengan nama Pondok Pesantren Siwalanpanji Al-Hamdaniyah.
Tidak hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, pesantren ini sekaligus menjadi simbol sejarah, budaya, perjuangan, dan pusat penyebaran Islam sejak lebih dari dua abad silam. Pesantren itu didirikan pada 1787 oleh K.H. Hamdani, seorang ulama yang disebut-sebut sebagai keturunan ke-27 Rasulullah Muhammad SAW.
Pondok Pesantren Siwalanpanji adalah ruang hidup spiritual yang lahir dari doa-doa panjang dan tapa batin sang pendiri di atas rawa-rawa yang kala itu masih sunyi dari jejak manusia. Berkat karamah dan kegigihan K.H. Hamdani, daerah itu menjadi pusat peradaban keilmuan yang tetap menyala hingga hari ini.
Menurut riwayat yang disampaikan oleh salah seorang dzurriyah (keturunan) K.H. Hamdani, yakni K.H. Abdul Bari, terdapat kisah menarik di balik pembangunan pesantren oleh kakek buyutnya tersebut. Saat itu, Kiai Hamdani yang dikenal juga sebagai seorang pengusaha kayu dan perahu, sangat menguasai ilmu tentang kualitas bahan bangunan.
Karena itulah, untuk membangun pondok pesantrennya, ia mendatangkan kayu dari daerah Cepu, Jawa Tengah, yang diangkut menggunakan kapal besar. Namun, dalam perjalanan, kapal pengangkut tersebut pecah dan hancur di tengah sungai.

Ajaibnya, kayu-kayu itu tidak hilang begitu saja. Justru, dengan kuasa Allah, kayu-kayu tersebut terbawa arus dan berhenti tepat di depan area pondok yang sedang dibangun.
Peristiwa itu diyakini sebagai pertanda keberkahan dari Allah SWT. Bahkan, diceritakan pula, salah satu potongan kayu tersangkut di wilayah Kediri dan kini dikenal sebagai “kayu cagak Panji” yang masih diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Pesantren yang berlokasi di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, ini dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. ”Kami dinobatkan sebagai pesantren tertua ke-11 se-Indonesia beberapa tahun lalu,” terang M. Hasyim Fahrurozi (Gus Hasyim), Dewan Pengasuh Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji.
Setelah masa babat alas (pembukaan lahan) yang dilakukan oleh K.H. Hamdani, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh dua putranya, yaitu K.H. Abdurrohim dan K.H. Ya’qub. Di bawah asuhan keduanya, Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji berkembang menjadi pusat ilmu yang sangat dihormati pada masanya.

K.H. Hamdani, Ulama Zuhud Pendiri Pesantren Siwalanpanji
Dalam literatur yang dibagikan Gus Hasyim, tertulis K.H. Hamdani lahir pada tahun 1720 Masehi di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Meski belum diketahui secara pasti nama desa kelahirannya, silsilah yang diwariskan oleh dzurriyah beliau menyebutkan bahwa K.H. Hamdani merupakan salah satu keturunan Rasulullah Muhammad SAW.
K.H. Hamdani memperoleh ilmu agama dari lingkungan pesantren keluarganya. Beliau dikenal sebagai sosok yang zahid (menjauh dari urusan duniawi), ‘abid (rajin beribadah), dan wara’ (berhati-hati dalam segala hal).
Sekitar tahun 1780 Masehi, dalam usia yang telah lanjut, beliau melakukan hijrah ke arah timur laut, menuju wilayah yang saat itu masih berupa hutan dan rawa-rawa. Suatu daerah yang kini dikenal sebagai Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
Di tempat yang penuh semak dan pohon siwalan itu, K.H. Hamdani mengasingkan diri untuk menjalani riyadloh, munajat, dan tirakat selama tujuh tahun. Beliau meninggalkan segala bentuk kenikmatan duniawi demi mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon rahmat dan maghfirah-Nya, serta mengharap kemuliaan di sisi-Nya.
Setelah genap tujuh tahun menjalani riyadloh, beliau terdorong untuk mengabdikan sisa hidupnya dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam.
Kiai Hamdani memulai dakwah melalui pengajian yang ditujukan kepada masyarakat sekitar yang kala itu masih kuat memegang tradisi Hindu dan kejawen.
Dengan ketekunan, kesabaran, dan istiqamah, beliau berhasil menyentuh hati masyarakat hingga perlahan memeluk dan mempelajari ajaran Islam. (bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk.

