31 August 2025, 9:54 AM WIB

Pasca Aksi Anarkis di Surabaya, DLH Bersihkan Puing, Situasi Sabtu Pagi Terkendali

METROTODAY, SURABAYA – Situasi di Surabaya pada Sabtu pagi (30/8) dilaporkan aman dan terkendali pasca-bentrokan antara massa aksi solidaritas darurat kekerasan aparat dengan pihak kepolisian.

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya terlihat membersihkan sisa-sisa sampah dan benda-benda yang dibakar di tengah jalan.

Puing-puing pos jaga polisi yang sempat dipindahkan oleh demonstran ke tengah jalan juga telah berhasil dibersihkan.

Aksi massa dilaporkan mulai anarkis saat berada di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Jumat (29/8) sore.

Selanjutnya, massa melakukan serangkaian aksi di beberapa lokasi strategis di jantung kota Surabaya, termasuk Jalan Gubeng, Basuki Rachmat, Kertajaya, Biliton, Raya Darmo, hingga Bundaran Taman Pelangi Ahmad Yani, dengan melakukan pembakaran pos jaga polisi.

Hingga Sabtu (30/8) dini hari, massa belum membubarkan diri. Aksi kembali terjadi di Jalan Wonokromo hingga Basuki Rachmat, sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur dan dibubarkan oleh pihak kepolisian.

Dalam aksi tersebut, setidaknya 21 sepeda motor dibakar oleh massa di Grahadi Surabaya, akibat lemparan molotov di samping kanan area parkir pos penjagaan.

Tidak hanya itu, massa juga merusak fasilitas umum seperti bollard di pedestrian dan rambu jalan.

Selain itu, massa juga merusak dan membakar sebanyak 10 pos jaga polisi di sejumlah titik, antara lain pos polisi Gubeng, Basuki Rachmat, Taman Bungkul, KBS, Bundaran Taman Pelangi, hingga Cito di perbatasan Surabaya-Sidoarjo.

Tembakan gas air mata dan water cannon tidak membuat massa yang mayoritas berpakaian serba hitam dan terdiri dari anak muda ini gentar.

Aksi solidaritas terkait meninggalnya seorang pengemudi ojek akibat terlindas kendaraan taktis juga menyebabkan aktivitas perekonomian di Surabaya tutup lebih awal.

Bahkan, pusat perbelanjaan dan mal memberikan imbauan untuk tutup pada pukul 19.00 WIB di tengah situasi aksi yang memanas di Surabaya.

Pakar Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satria Unggul Wicaksana, menjelaskan bahwa aksi kali ini melibatkan spektrum masyarakat yang lebih luas dan digerakkan secara masif melalui ruang digital.

“Demonstrasi yang ada di seluruh Indonesia memang aktornya tidak tunggal. Hal ini disebabkan oleh gerakan sosial baru yang menggunakan ruang digital. Mereka dipertemukan dengan tagar (hashtag) dan memiliki kampanye yang berbeda dengan aksi massa sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perubahan signifikan,” ujarnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Situasi di Surabaya pada Sabtu pagi (30/8) dilaporkan aman dan terkendali pasca-bentrokan antara massa aksi solidaritas darurat kekerasan aparat dengan pihak kepolisian.

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya terlihat membersihkan sisa-sisa sampah dan benda-benda yang dibakar di tengah jalan.

Puing-puing pos jaga polisi yang sempat dipindahkan oleh demonstran ke tengah jalan juga telah berhasil dibersihkan.

Aksi massa dilaporkan mulai anarkis saat berada di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Jumat (29/8) sore.

Selanjutnya, massa melakukan serangkaian aksi di beberapa lokasi strategis di jantung kota Surabaya, termasuk Jalan Gubeng, Basuki Rachmat, Kertajaya, Biliton, Raya Darmo, hingga Bundaran Taman Pelangi Ahmad Yani, dengan melakukan pembakaran pos jaga polisi.

Hingga Sabtu (30/8) dini hari, massa belum membubarkan diri. Aksi kembali terjadi di Jalan Wonokromo hingga Basuki Rachmat, sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur dan dibubarkan oleh pihak kepolisian.

Dalam aksi tersebut, setidaknya 21 sepeda motor dibakar oleh massa di Grahadi Surabaya, akibat lemparan molotov di samping kanan area parkir pos penjagaan.

Tidak hanya itu, massa juga merusak fasilitas umum seperti bollard di pedestrian dan rambu jalan.

Selain itu, massa juga merusak dan membakar sebanyak 10 pos jaga polisi di sejumlah titik, antara lain pos polisi Gubeng, Basuki Rachmat, Taman Bungkul, KBS, Bundaran Taman Pelangi, hingga Cito di perbatasan Surabaya-Sidoarjo.

Tembakan gas air mata dan water cannon tidak membuat massa yang mayoritas berpakaian serba hitam dan terdiri dari anak muda ini gentar.

Aksi solidaritas terkait meninggalnya seorang pengemudi ojek akibat terlindas kendaraan taktis juga menyebabkan aktivitas perekonomian di Surabaya tutup lebih awal.

Bahkan, pusat perbelanjaan dan mal memberikan imbauan untuk tutup pada pukul 19.00 WIB di tengah situasi aksi yang memanas di Surabaya.

Pakar Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satria Unggul Wicaksana, menjelaskan bahwa aksi kali ini melibatkan spektrum masyarakat yang lebih luas dan digerakkan secara masif melalui ruang digital.

“Demonstrasi yang ada di seluruh Indonesia memang aktornya tidak tunggal. Hal ini disebabkan oleh gerakan sosial baru yang menggunakan ruang digital. Mereka dipertemukan dengan tagar (hashtag) dan memiliki kampanye yang berbeda dengan aksi massa sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perubahan signifikan,” ujarnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

/