29 August 2025, 15:47 PM WIB

Surabaya Gencarkan Penyuluhan Merdeka TBC Serentak di 1.361 RW untuk Eliminasi TBC 2030

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan komitmen kuat dalam pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui pendekatan kolaboratif berbasis komunitas.

Komitmen ini diwujudkan dengan menggelar penyuluhan bertajuk Merdeka TBC serentak di 1.361 RW se-Kota Surabaya, Kamis (28/8).

Acara yang berpusat di Balai RW 3 Kelurahan Jambangan, Kecamatan Jambangan, ini melibatkan ribuan kader kesehatan, relawan, dan berbagai unsur masyarakat dengan tujuan mengejar target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah.

Ia menekankan pentingnya peran serta seluruh masyarakat, khususnya para Kader Surabaya Hebat serta pengurus RT dan RW, dalam mengedukasi dan mendampingi warga.

“Surabaya ini dibangun oleh cinta warganya, bukan oleh wali kotanya,” ujar Eri.

Eri menjelaskan bahwa untuk mewujudkan target zero TBC di 2030, Pemkot Surabaya melibatkan 27.000 Kader Surabaya Hebat (KSH) yang akan diterjunkan ke setiap RT untuk memberikan sosialisasi, dengan target satu kader mendampingi 20 rumah.

“Selain ada kader juga ada Satgas TBC. Jadi masifnya dari KSH kalau ternyata pemeriksaannya positif TBC satgas yang akan turun. Bahkan, ada pula satgas yang bertugas melakukan pendampingan minum obat untuk memastikan obat tersebut benar-benar dikonsumsi, tidak dibuang,” terangnya.

Eri berharap masyarakat berani jujur akan kondisinya dan tidak lagi menolak pengobatan TBC apabila dinyatakan positif. Sebab, TBC merupakan penyakit yang bisa disembuhkan apabila rutin mengkonsumsi obat selama 6 bulan.

Ia juga berpesan untuk tidak mengucilkan seseorang yang sedang melakukan pengobatan TBC.

“Jangan menghakimi, tapi ingatkan dan kuatkan. Jika ada yang batuk, sarankan untuk pakai masker dan periksa ke Puskesmas,” pesan Eri

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina menjelaskan bahwa penyuluhan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi dengan 13 universitas hingga media.

“Kami melakukan skrining masif, pengobatan gratis, dan pendampingan minum obat untuk pasien,” jelas Nanik.

Menurut Nanik, tantangan Pemkot Surabaya dalam penanggulangan penyakit TBC adalah tingginya mobilitas penduduk yang menyebabkan banyak kasus dari luar wilayah tercatat di Surabaya, serta masih adanya stigma negatif yang membuat penderita enggan untuk berobat.

“Untuk mengatasi ini, kami memberdayakan 27.000 kader yang dilatih dengan 25 kompetensi kesehatan, termasuk TBC,” kata Nanik.

Disamping itu, Nanik menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka TBC di Kota Surabaya, di antaranya melakukan skrining aktif dan pasif melalui Mobile X-ray berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Poltekkes.

“Kami juga memberikan pengobatan gratis dan dukungan nutrisi (susu) bagi pasien TBC dari keluarga miskin. Terdapat juga pendampingan minum obat untuk memastikan pasien menelan obatnya secara tuntas, bukan hanya sekadar memegang,” terangnya.

Kemudian Pemkot Surabaya juga menerapkan sanksi bagi warga yang menolak pengobatan, seperti pemasangan stiker di rumah penderita dan penonaktifan Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta BPJS Kesehatan.

“Melalui pendekatan yang humanis namun tetap tegas, kami berupaya menciptakan kesadaran kolektif bahwa TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan komitmen kuat dalam pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui pendekatan kolaboratif berbasis komunitas.

Komitmen ini diwujudkan dengan menggelar penyuluhan bertajuk Merdeka TBC serentak di 1.361 RW se-Kota Surabaya, Kamis (28/8).

Acara yang berpusat di Balai RW 3 Kelurahan Jambangan, Kecamatan Jambangan, ini melibatkan ribuan kader kesehatan, relawan, dan berbagai unsur masyarakat dengan tujuan mengejar target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah.

Ia menekankan pentingnya peran serta seluruh masyarakat, khususnya para Kader Surabaya Hebat serta pengurus RT dan RW, dalam mengedukasi dan mendampingi warga.

“Surabaya ini dibangun oleh cinta warganya, bukan oleh wali kotanya,” ujar Eri.

Eri menjelaskan bahwa untuk mewujudkan target zero TBC di 2030, Pemkot Surabaya melibatkan 27.000 Kader Surabaya Hebat (KSH) yang akan diterjunkan ke setiap RT untuk memberikan sosialisasi, dengan target satu kader mendampingi 20 rumah.

“Selain ada kader juga ada Satgas TBC. Jadi masifnya dari KSH kalau ternyata pemeriksaannya positif TBC satgas yang akan turun. Bahkan, ada pula satgas yang bertugas melakukan pendampingan minum obat untuk memastikan obat tersebut benar-benar dikonsumsi, tidak dibuang,” terangnya.

Eri berharap masyarakat berani jujur akan kondisinya dan tidak lagi menolak pengobatan TBC apabila dinyatakan positif. Sebab, TBC merupakan penyakit yang bisa disembuhkan apabila rutin mengkonsumsi obat selama 6 bulan.

Ia juga berpesan untuk tidak mengucilkan seseorang yang sedang melakukan pengobatan TBC.

“Jangan menghakimi, tapi ingatkan dan kuatkan. Jika ada yang batuk, sarankan untuk pakai masker dan periksa ke Puskesmas,” pesan Eri

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina menjelaskan bahwa penyuluhan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi dengan 13 universitas hingga media.

“Kami melakukan skrining masif, pengobatan gratis, dan pendampingan minum obat untuk pasien,” jelas Nanik.

Menurut Nanik, tantangan Pemkot Surabaya dalam penanggulangan penyakit TBC adalah tingginya mobilitas penduduk yang menyebabkan banyak kasus dari luar wilayah tercatat di Surabaya, serta masih adanya stigma negatif yang membuat penderita enggan untuk berobat.

“Untuk mengatasi ini, kami memberdayakan 27.000 kader yang dilatih dengan 25 kompetensi kesehatan, termasuk TBC,” kata Nanik.

Disamping itu, Nanik menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka TBC di Kota Surabaya, di antaranya melakukan skrining aktif dan pasif melalui Mobile X-ray berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Poltekkes.

“Kami juga memberikan pengobatan gratis dan dukungan nutrisi (susu) bagi pasien TBC dari keluarga miskin. Terdapat juga pendampingan minum obat untuk memastikan pasien menelan obatnya secara tuntas, bukan hanya sekadar memegang,” terangnya.

Kemudian Pemkot Surabaya juga menerapkan sanksi bagi warga yang menolak pengobatan, seperti pemasangan stiker di rumah penderita dan penonaktifan Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta BPJS Kesehatan.

“Melalui pendekatan yang humanis namun tetap tegas, kami berupaya menciptakan kesadaran kolektif bahwa TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

/