Pasca Ledakan di Ruko San Antonio Surabaya, Damkar Ingatkan Kebocoran Gas Sering Tanpa Suara

METROTODAY, SURABAYA – Pasca insiden ledakan tabung Elpiji 50 kilogram di Rumah Makan Nasi Tempong, kawasan San Antonio, Kalisari, Surabaya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya memperkuat edukasi keselamatan penggunaan gas.

Masyarakat maupun pelaku usaha kuliner diimbau mengenali tanda kebocoran dan langkah penanganan yang tepat untuk mencegah ledakan dan kebakaran.

Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menjelaskan bahwa kebocoran gas sering kali tidak disertai suara yang paling mudah dikenali adalah bau khas gas. Saat mencium bau tersebut, langkah cepat dan tepat sangat menentukan keselamatan.

“Begitu tercium bau gas, yang harus dilakukan adalah mematikan kompor dan segera mencopot regulatornya. Jika memungkinkan, segera bawa tabung gas ke luar ruangan terbuka agar gas tidak mengendap di dalam rumah,” ujar Laksita Rini, Jumat (9/10).

Gas Elpiji bersifat lebih berat daripada udara, sehingga cenderung berkumpul di bagian bawah ruangan. Jika ruang tertutup dan ventilasi buruk, akumulasi gas sangat berbahaya dan mudah meledak saat bertemu api.

Menurutnya cara cek kebocoran dengan mengoleskan air sabun pada sambungan dan selang. Jika muncul gelembung, berarti ada kebocoran dan tabung tidak boleh digunakan. Pastikan selang tidak retak dan sambungan rapat.

Khusus pelaku usaha kuliner: jangan mencopot tabung jika kompor lain masih menyala.

“Sering terjadi di katering, kompor satu habis, tabung langsung dicopot padahal yang lain masih menyala. Sisa gas yang keluar bisa tersambar api dan memicu kebakaran. Harusnya matikan dulu semua kompor, baru ganti regulatornya,” tegasnya.

Bagi pengguna gas PGN, segera matikan keran aliran utama jika diduga ada kebocoran. Jika dalam kondisi darurat, masyarakat diminta segera menghubungi layanan darurat Command Center 112. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pasca insiden ledakan tabung Elpiji 50 kilogram di Rumah Makan Nasi Tempong, kawasan San Antonio, Kalisari, Surabaya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya memperkuat edukasi keselamatan penggunaan gas.

Masyarakat maupun pelaku usaha kuliner diimbau mengenali tanda kebocoran dan langkah penanganan yang tepat untuk mencegah ledakan dan kebakaran.

Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menjelaskan bahwa kebocoran gas sering kali tidak disertai suara yang paling mudah dikenali adalah bau khas gas. Saat mencium bau tersebut, langkah cepat dan tepat sangat menentukan keselamatan.

“Begitu tercium bau gas, yang harus dilakukan adalah mematikan kompor dan segera mencopot regulatornya. Jika memungkinkan, segera bawa tabung gas ke luar ruangan terbuka agar gas tidak mengendap di dalam rumah,” ujar Laksita Rini, Jumat (9/10).

Gas Elpiji bersifat lebih berat daripada udara, sehingga cenderung berkumpul di bagian bawah ruangan. Jika ruang tertutup dan ventilasi buruk, akumulasi gas sangat berbahaya dan mudah meledak saat bertemu api.

Menurutnya cara cek kebocoran dengan mengoleskan air sabun pada sambungan dan selang. Jika muncul gelembung, berarti ada kebocoran dan tabung tidak boleh digunakan. Pastikan selang tidak retak dan sambungan rapat.

Khusus pelaku usaha kuliner: jangan mencopot tabung jika kompor lain masih menyala.

“Sering terjadi di katering, kompor satu habis, tabung langsung dicopot padahal yang lain masih menyala. Sisa gas yang keluar bisa tersambar api dan memicu kebakaran. Harusnya matikan dulu semua kompor, baru ganti regulatornya,” tegasnya.

Bagi pengguna gas PGN, segera matikan keran aliran utama jika diduga ada kebocoran. Jika dalam kondisi darurat, masyarakat diminta segera menghubungi layanan darurat Command Center 112. (ahm)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait