Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
———————
JIKA kita memasuki kompleks Pondok Pesantren Siwalanpanji, aura masa lalu seolah menyeruak di depan mata. Betapa tidak, bangunan-bangunan di pondok masih dipertahankan seperti aslinya.
Tampak rumah-rumah panggung dengan dinding anyaman bambu yang berlapis kayu jati. Tiang-tiang penyangga masih terlihat utuh. Struktur pagar kayu pelindung pun masih ada, meskipun kini mulai diganti karena faktor usia.
”Ini kami perbaiki pada 2023, karena lama-lama termakan usia. Tetapi, bentuk asli masih dipertahankan,” tutur Gus Hasyim, dzurriyah (keturunan) pendiri Ponpes Siwalanpanji, K.H. Hamdani.
Bentuk bangunan panggung pun, kata Gus Hasyim, tidak lepas dari kondisi awal tanah pondok yang berupa rawa. Gus Hasyim mengaku kalau pihak keluarga sengaja membiarkan bangunan tua pondok berada dalam kondisi asli.
Termasuk dengan tetap menjaga kamar-kamar yang dulunya ditempati para santri pilihan yang kemudian menjadi ulama besar Nusantara, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, K.H.A. Wahid Hasyim, bahkan kamar K.H. Hamdani sendiri. ”Kamar-kamar itu kami perbaiki agar tetap awet, namun tidak mengubah total,” sambungnya.
Sekadar contoh pada kamar K.H. Hamdani. Kayu-kayu penyokong atap masih tetap dipertahankan. Kayu cokelat tebal yang melintang di langit-langit itu terkesan kuat dan kokoh.
”Kamar-kamar ini kami pertahankan untuk mengenang beliau-beliau yang pernah nyantri di sini. Peninggalan ini juga sebagai motivasi bagi para santri untuk lebih giat mengaji,” jelas Gus Hasyim.

”Peninggalan ini menjadi bukti bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah. Dari pondok beralaskan kayu berdinding gedek (anyaman bambu), bisa mencetak tokoh-tokoh besar Islam di Nusantara,” terangnya.
Datang Bawa Semangat, Pulang Bawa Ilmu dan Nilai Perjuangan
Salah satu alasan Pondok Pesantren Siwalanpanji tetap menjadi pilihan masyarakat, kata Gus Hasyim, adalah biaya yang sangat terjangkau.
Biaya pendaftaran di pesantren tersebut hanya sekitar Rp 1.200.000 dan iuran bulanan sebesar Rp 100.000. Hanya dengan biaya tersebut, para santri sudah mendapatkan pendidikan agama, pendidikan formal, hingga pelatihan keterampilan.
Santri Siwalanpanji saat ini tidak hanya berasal dari Madura, tapi juga dari berbagai daerah di sekitar Sidoarjo. Mereka datang membawa semangat dan berharap pulang membawa ilmu serta nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para ulama yang pernah nyantri di sana.

Keturunan K.H. Hamdani kini tersebar di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Mereka tergabung dalam Dzurriyah Hamdani, sebuah komunitas keluarga besar yang secara rutin menggelar pertemuan untuk memperkuat silaturahmi dan dakwah.
Di antara keturunan beliau, terdapat K.H. Abbas (pendiri Pondok Pesantren Al-Khoziny), K.H. Anas (tokoh spiritual yang diyakini memiliki karamah), dan banyak lagi ulama yang kini menjadi motor penggerak pendidikan Islam di berbagai daerah.
Cahaya dari Siwalanpanji
Pondok Pesantren Siwalanpanji tidak hanya tempat belajar, tapi juga saksi sejarah. Ia adalah pelita yang menerangi perjalanan bangsa dari masa penjajahan, kemerdekaan, hingga era modern.
Dengan warisan keilmuan klasik yang terjaga, kepemimpinan yang berkesinambungan, serta keterbukaan terhadap zaman, pesantren tersebut telah membuktikan bahwa pendidikan Islam tidak akan pernah usang.
Pondok Siwalanpanji akan terus hidup bukan karena megahnya bangunan, tetapi karena kuatnya nilai, dalamnya ilmu, dan berkah yang mengalir dari generasi ke generasi. (redaksi/habis)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk.


