17 February 2026, 10:48 AM WIB

Ponpes Siwalanpanji, Pondok Tertua Pencetak Para Ulama (2): Tetap Relevan dan Diminati karena Tradisi Pengajian Klasik

Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

———————

BERMULA dari majelis kecil, pesantren yang beliau dirikan akhirnya berkembang. Bangunan pesantren dibuat dari kayu berkualitas tinggi yang beliau datangkan sendiri dari wilayah Cepu, Jawa Tengah.

K.H. Hamdani yang juga dikenal sebagai pengusaha kayu dan perahu memanfaatkan keahliannya untuk mendirikan bangunan yang kuat dan kokoh. Bahkan, hingga kini, bagian-bagian dari bangunan lama masih berdiri dan tetap digunakan.

Menurut penuturan K.H. Abdul Bari, salah satu dzurriyah K.H. Hamdani, meskipun kakek buyutnya itu memiliki kekayaan di atas rata-rata dan disegani oleh masyarakat, bahkan oleh penjajah saat itu, beliau tetap hidup sederhana. Sifat zuhud tetap melekat kuat dalam diri beliau.

Tak banyak catatan tertulis tentang peran K.H. Hamdani di tengah masyarakat. Namun, warisan perjuangan beliau dalam dunia ilmu dan pendidikan membuahkan hasil nyata, yakni lahirnya ulama-ulama besar yang disegani di berbagai penjuru Nusantara, bahkan di luar negeri.

Santri-santri beliau ada yang melanjutkan kiprah dakwah hingga ke Makkah dan Madinah, menjadikan nama beliau harum dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

Tetap Pertahankan Tradisi Pengajian Klasik

Lantas apa yang membuat Pondok Pesantren Siwalanpanji tetap relevan dan diminati di tengah era digital saat ini? Gus Hasyim, panggilan akrab M. Hasyim Fahrurozi, salah seorang dzurriyah K.H. Hamdani, menjelaskan bahwa pesantren tetap menjaga tradisi pendidikan klasik. Yaitu, ngaji sorogan, bandongan, dan wetonan.

IMG-20260216-WA0016
Bangunan Ponpes Siwalanpanji yang sebagian diibangun dari kayu yang khusus didatangkan dari Cepu, Jateng, dan sudah berusia ratusan tahun. (Foto: Dwi Sinthia/Metrotoday.id)

Metode-metode itu bukan sekadar ritual belajar, melainkan wujud transmisi ilmu secara ruhaniyah dan intelektual antara guru dan murid. Dalam metode sorogan, santri membaca kitab secara individu di hadapan ustad atau kiai. Sang ustad atau kiai menyimak, membetulkan, dan memberikan pemahaman atas apa yang dibaca santri.

Dalam metode bandongan, kiai membaca kitab dengan syarah (menjelaskan), sedangkan santri menyimak bersama sambil mencatat. Tradisi tersebut menjadi pusat dari kehidupan pesantren setiap hari.

”Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di antara santri muda. Setiap Kamis siang hingga sore, kelompok ibu-ibu Muslimat juga datang untuk mengikuti pengajian,” ulas Gus Hasyim. Tradisi itu telah berlangsung lintas generasi, sejak zaman para mbah pendiri pondok dan masih menjadi denyut spiritual warga sekitar hingga saat ini.

Dari Madrasah Diniyah ke Pendidikan Formal

Gus Hasyim menjelaskan, meski tetap mempertahankan tradisi pengajian klasik, pesantren tetap terbuka dengan perkembangan pendidikan masa kini. ”Dulu, pendidikan di pesantren ini bersifat nonformal. Tapi, sejak era awal, telah ada madrasah diniyah kelas tiga yang berada di samping musholla,” terangnya.

Transformasi besar pun mulai terjadi ketika pesantren mengembangkan pendidikan formal mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

MI dan MTs berdiri sejak tahun 1955. Sedangkan MA Faqih Hasyim mulai dibuka sekitar tahun 2006. ”Ini adalah salah satu lembaga pendidikan formal tertua di wilayah Siwalanpanji,” ungkapnya.

Meski demikian, kehadirannya langsung berdampak signifikan. ”Dari jumlah santri yang semula hanya sekitar 70–80 orang, meningkat menjadi lebih dari 500 santri putra dan putri,” tambah Gus Hisyam. Itu merupakan bukti bahwa adaptasi pendidikan formal tidak menghilangkan ruh pesantren, justru memperkuat eksistensinya.

BLK, Bekal Santri dalam Dunia Kerja

Pendidikan di Pondok Pesantren Siwalanpanji tidak berhenti di kitab kuning dan fiqih semata. Para pengasuh sadar bahwa zaman menuntut keterampilan baru. Sejak 2019, pesantren menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Program tersebut awalnya didukung penuh pemerintah. Namun, kini berjalan secara mandiri sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

”Kami pernah dapat bantuan selama tiga tahun, tetapi sekarang mandiri. Santri yang mengikuti pelatihan ini disiapkan untuk menghadapi dunia kerja, terutama mereka yang memiliki keinginan bekerja ke luar negeri seperti Malaysia dan Arab Saudi,” papar Gus Hisyam.

Memang tidak sedikit santri lulusan Pesantren Siwalanpanji yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri setelah tamat dari pesantren.

IMG_20260216_153104
Bagian dalam kamar yang dulu pernah ditempat KH Hasyim Asyari sewaktu mondok di Siwalanpanji. (Foto: Dwi Sinthia/Metrotoday.id)

Rumah Besar bagi Para Ulama Besar

Pondok Pesantren Siwalanpanji tidak sekadar mencetak santri, tetapi melahirkan ulama-ulama besar yang mengubah wajah pendidikan Islam di Indonesia. Salah satunya adalah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Sebelum berangkat ke Makkah, beliau nyantri di pesantren tersebut, bahkan diambil menantu oleh pengasuh pesantren. Sampai akhirnya istri beliau wafat di Makkah saat sedang hamil.

Beberapa tokoh besar lain yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Siwalanpanji di antaranya:

• K.H. Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU.
• K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Zainuddin Fananie, pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
• K.H. Masjkur, Menteri Agama dan Pahlawan Nasional.
• K.H.A. Wahid Hasyim, Menteri Agama dan Pahlawan Nasional.
• K.H. Muhammad Dahlan, Menteri Agama dan Ketua Tanfidziyah PBNU.
• K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, ulama kharismatik dari Situbondo.
• K.H. Anwar Nur, pendiri Pondok Pesantren An-Nur Bululawang, Malang.

Kepemimpinan pesantren dijalankan secara estafet lintas generasi dari dzurriyah K.H. Hamdani hingga saat ini.

Berikut urutan kepengasuhan pesantren tersebut:

1. K.H. Hamdani
2. K.H. Ya’qub dan K.H. Abdurrohman
3. K.H. Hasyim Abdurrohman dan K.H. Khozin Khoiruddin
4. K.H. Faqih Hasyim, K.H. Sholeh Hasyim, K.H. Basuni Khozin
5. K.H. Abdullah Siddiq dan K.H. Haiyi Asmu’i
6. K.H. Rifa’i Jufri, K.H. Abdul Haq, K.H. Asmu’i
7. K.H. Asy’ari Asmu’i, K.H. Mastur Shomad, K.H. Abdur Rohim Rifa’i, Agus Taufiqurrochman R.

(bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk.

Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku Sidoarjo Bumi Aulia karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

———————

BERMULA dari majelis kecil, pesantren yang beliau dirikan akhirnya berkembang. Bangunan pesantren dibuat dari kayu berkualitas tinggi yang beliau datangkan sendiri dari wilayah Cepu, Jawa Tengah.

K.H. Hamdani yang juga dikenal sebagai pengusaha kayu dan perahu memanfaatkan keahliannya untuk mendirikan bangunan yang kuat dan kokoh. Bahkan, hingga kini, bagian-bagian dari bangunan lama masih berdiri dan tetap digunakan.

Menurut penuturan K.H. Abdul Bari, salah satu dzurriyah K.H. Hamdani, meskipun kakek buyutnya itu memiliki kekayaan di atas rata-rata dan disegani oleh masyarakat, bahkan oleh penjajah saat itu, beliau tetap hidup sederhana. Sifat zuhud tetap melekat kuat dalam diri beliau.

Tak banyak catatan tertulis tentang peran K.H. Hamdani di tengah masyarakat. Namun, warisan perjuangan beliau dalam dunia ilmu dan pendidikan membuahkan hasil nyata, yakni lahirnya ulama-ulama besar yang disegani di berbagai penjuru Nusantara, bahkan di luar negeri.

Santri-santri beliau ada yang melanjutkan kiprah dakwah hingga ke Makkah dan Madinah, menjadikan nama beliau harum dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

Tetap Pertahankan Tradisi Pengajian Klasik

Lantas apa yang membuat Pondok Pesantren Siwalanpanji tetap relevan dan diminati di tengah era digital saat ini? Gus Hasyim, panggilan akrab M. Hasyim Fahrurozi, salah seorang dzurriyah K.H. Hamdani, menjelaskan bahwa pesantren tetap menjaga tradisi pendidikan klasik. Yaitu, ngaji sorogan, bandongan, dan wetonan.

IMG-20260216-WA0016
Bangunan Ponpes Siwalanpanji yang sebagian diibangun dari kayu yang khusus didatangkan dari Cepu, Jateng, dan sudah berusia ratusan tahun. (Foto: Dwi Sinthia/Metrotoday.id)

Metode-metode itu bukan sekadar ritual belajar, melainkan wujud transmisi ilmu secara ruhaniyah dan intelektual antara guru dan murid. Dalam metode sorogan, santri membaca kitab secara individu di hadapan ustad atau kiai. Sang ustad atau kiai menyimak, membetulkan, dan memberikan pemahaman atas apa yang dibaca santri.

Dalam metode bandongan, kiai membaca kitab dengan syarah (menjelaskan), sedangkan santri menyimak bersama sambil mencatat. Tradisi tersebut menjadi pusat dari kehidupan pesantren setiap hari.

”Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di antara santri muda. Setiap Kamis siang hingga sore, kelompok ibu-ibu Muslimat juga datang untuk mengikuti pengajian,” ulas Gus Hasyim. Tradisi itu telah berlangsung lintas generasi, sejak zaman para mbah pendiri pondok dan masih menjadi denyut spiritual warga sekitar hingga saat ini.

Dari Madrasah Diniyah ke Pendidikan Formal

Gus Hasyim menjelaskan, meski tetap mempertahankan tradisi pengajian klasik, pesantren tetap terbuka dengan perkembangan pendidikan masa kini. ”Dulu, pendidikan di pesantren ini bersifat nonformal. Tapi, sejak era awal, telah ada madrasah diniyah kelas tiga yang berada di samping musholla,” terangnya.

Transformasi besar pun mulai terjadi ketika pesantren mengembangkan pendidikan formal mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

MI dan MTs berdiri sejak tahun 1955. Sedangkan MA Faqih Hasyim mulai dibuka sekitar tahun 2006. ”Ini adalah salah satu lembaga pendidikan formal tertua di wilayah Siwalanpanji,” ungkapnya.

Meski demikian, kehadirannya langsung berdampak signifikan. ”Dari jumlah santri yang semula hanya sekitar 70–80 orang, meningkat menjadi lebih dari 500 santri putra dan putri,” tambah Gus Hisyam. Itu merupakan bukti bahwa adaptasi pendidikan formal tidak menghilangkan ruh pesantren, justru memperkuat eksistensinya.

BLK, Bekal Santri dalam Dunia Kerja

Pendidikan di Pondok Pesantren Siwalanpanji tidak berhenti di kitab kuning dan fiqih semata. Para pengasuh sadar bahwa zaman menuntut keterampilan baru. Sejak 2019, pesantren menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Program tersebut awalnya didukung penuh pemerintah. Namun, kini berjalan secara mandiri sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

”Kami pernah dapat bantuan selama tiga tahun, tetapi sekarang mandiri. Santri yang mengikuti pelatihan ini disiapkan untuk menghadapi dunia kerja, terutama mereka yang memiliki keinginan bekerja ke luar negeri seperti Malaysia dan Arab Saudi,” papar Gus Hisyam.

Memang tidak sedikit santri lulusan Pesantren Siwalanpanji yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri setelah tamat dari pesantren.

IMG_20260216_153104
Bagian dalam kamar yang dulu pernah ditempat KH Hasyim Asyari sewaktu mondok di Siwalanpanji. (Foto: Dwi Sinthia/Metrotoday.id)

Rumah Besar bagi Para Ulama Besar

Pondok Pesantren Siwalanpanji tidak sekadar mencetak santri, tetapi melahirkan ulama-ulama besar yang mengubah wajah pendidikan Islam di Indonesia. Salah satunya adalah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Sebelum berangkat ke Makkah, beliau nyantri di pesantren tersebut, bahkan diambil menantu oleh pengasuh pesantren. Sampai akhirnya istri beliau wafat di Makkah saat sedang hamil.

Beberapa tokoh besar lain yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Siwalanpanji di antaranya:

• K.H. Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU.
• K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Zainuddin Fananie, pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
• K.H. Masjkur, Menteri Agama dan Pahlawan Nasional.
• K.H.A. Wahid Hasyim, Menteri Agama dan Pahlawan Nasional.
• K.H. Muhammad Dahlan, Menteri Agama dan Ketua Tanfidziyah PBNU.
• K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, ulama kharismatik dari Situbondo.
• K.H. Anwar Nur, pendiri Pondok Pesantren An-Nur Bululawang, Malang.

Kepemimpinan pesantren dijalankan secara estafet lintas generasi dari dzurriyah K.H. Hamdani hingga saat ini.

Berikut urutan kepengasuhan pesantren tersebut:

1. K.H. Hamdani
2. K.H. Ya’qub dan K.H. Abdurrohman
3. K.H. Hasyim Abdurrohman dan K.H. Khozin Khoiruddin
4. K.H. Faqih Hasyim, K.H. Sholeh Hasyim, K.H. Basuni Khozin
5. K.H. Abdullah Siddiq dan K.H. Haiyi Asmu’i
6. K.H. Rifa’i Jufri, K.H. Abdul Haq, K.H. Asmu’i
7. K.H. Asy’ari Asmu’i, K.H. Mastur Shomad, K.H. Abdur Rohim Rifa’i, Agus Taufiqurrochman R.

(bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait