15 February 2026, 10:51 AM WIB

KBS Surabaya Siap Lepasliarkan 5 Ekor Komodo ke Habitat Asli di NTT

METROTODAY, SURABAYA – Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) mencatat pertumbuhan positif jumlah pengunjung dalam dua tahun terakhir. Tren kunjungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Surabaya ini menunjukkan kenaikan jika dibandingkan antara tahun 2024 hingga akhir 2025.

“Apabila dikomparasikan di tahun 2024 sampai akhir tahun 2025, kami memang mengalami peningkatan pengunjung kurang lebih 5-10 persen,” ujar Direktur Operasional PDTS KBS, Nurika Widyasanti, Sabtu (14/2).

Pada tahun 2024, total pengunjung Kebun Binatang Surabaya (KBS) tercatat sekitar 1.994.000 orang. Jumlah tersebut meningkat pada tahun 2025 menjadi sekitar 2.101.000 pengunjung, atau bertambah lebih dari 100 ribu orang dalam setahun.

Selain peningkatan jumlah pengunjung, PDTS KBS juga terus melakukan pengembangan wahana dan koleksi satwa untuk meningkatkan layanan serta daya tarik wisata.

“Saat ini wahana terbaru kami ada gokart dan kereta hutan. Kalau untuk satwa, penambahannya terakhir ini ada beberapa kelahiran jenis satwa, di antaranya kapibara yang memang secara perkembangan juga termasuk cepat,” jelas Nurika.

Ia mengungkapkan populasi kapibara di KBS mengalami peningkatan signifikan dalam waktu relatif singkat. “Saat ini sudah berjumlah kurang lebih ada delapan. Percepatannya seperti itu, nah ini juga kami mengupayakan paling tidak perkembangbiakan untuk satwa jenis lainnya, sehingga ke depannya regenerasi satwa ini terus berputar,” ujarnya.

Dalam aspek konservasi, PDTS KBS tengah menyiapkan rencana pelepasliaran atau restocking komodo ke habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kebetulan saat ini komodo. Kami ada beberapa yang memang rencana kami usulkan untuk di-restocking ke habitatnya, entah itu di Pulau Komodo atau Pulau Flores,” kata Nurika.

Pada tahap awal, jumlah komodo yang diusulkan untuk dilepasliarkan diperkirakan sekitar empat hingga lima ekor. Pihak PDTS KBS masih melakukan identifikasi jenis kelamin serta persiapan lanjutan untuk memastikan satwa siap kembali ke alam liar.

“Ini masih kita identifikasi, kira-kira yang memang siap kita lepaskan itu ada sex ratio seperti apa. Dikarenakan kan kita harus melakukan perawatan dulu, menghabituasi untuk dilepaskan ke alam yang sudah siap atau layak lepas liar,” jelasnya.

Nurika menyampaikan bahwa KBS saat ini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangbiakan komodo di Indonesia dengan populasi yang cukup besar. “Paling tidak sampai sekarang kurang lebih kita sudah ada sekitar 80 ekor komodo,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar komodo tersebut berada pada fase remaja hingga dewasa. “Rata-rata paling tidak mix campur, sudah remaja ke atas, dewasa,” imbuhnya.

Terkait prosedur pelepasliaran, PDTS KBS telah mengajukan usulan resmi kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk diteruskan ke kementerian terkait. “Kami sudah ajukan ke BKSDA Jatim untuk diusulkan ke Kementerian,” terangnya.

Meski belum dapat memastikan waktu realisasi, Nurika optimistis proses tersebut akan berjalan mengingat komodo merupakan satwa prioritas nasional. “Kemungkinan besar pasti realisasi. Karena komodo ini salah satu-satu satwa prioritas,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) mencatat pertumbuhan positif jumlah pengunjung dalam dua tahun terakhir. Tren kunjungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Surabaya ini menunjukkan kenaikan jika dibandingkan antara tahun 2024 hingga akhir 2025.

“Apabila dikomparasikan di tahun 2024 sampai akhir tahun 2025, kami memang mengalami peningkatan pengunjung kurang lebih 5-10 persen,” ujar Direktur Operasional PDTS KBS, Nurika Widyasanti, Sabtu (14/2).

Pada tahun 2024, total pengunjung Kebun Binatang Surabaya (KBS) tercatat sekitar 1.994.000 orang. Jumlah tersebut meningkat pada tahun 2025 menjadi sekitar 2.101.000 pengunjung, atau bertambah lebih dari 100 ribu orang dalam setahun.

Selain peningkatan jumlah pengunjung, PDTS KBS juga terus melakukan pengembangan wahana dan koleksi satwa untuk meningkatkan layanan serta daya tarik wisata.

“Saat ini wahana terbaru kami ada gokart dan kereta hutan. Kalau untuk satwa, penambahannya terakhir ini ada beberapa kelahiran jenis satwa, di antaranya kapibara yang memang secara perkembangan juga termasuk cepat,” jelas Nurika.

Ia mengungkapkan populasi kapibara di KBS mengalami peningkatan signifikan dalam waktu relatif singkat. “Saat ini sudah berjumlah kurang lebih ada delapan. Percepatannya seperti itu, nah ini juga kami mengupayakan paling tidak perkembangbiakan untuk satwa jenis lainnya, sehingga ke depannya regenerasi satwa ini terus berputar,” ujarnya.

Dalam aspek konservasi, PDTS KBS tengah menyiapkan rencana pelepasliaran atau restocking komodo ke habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kebetulan saat ini komodo. Kami ada beberapa yang memang rencana kami usulkan untuk di-restocking ke habitatnya, entah itu di Pulau Komodo atau Pulau Flores,” kata Nurika.

Pada tahap awal, jumlah komodo yang diusulkan untuk dilepasliarkan diperkirakan sekitar empat hingga lima ekor. Pihak PDTS KBS masih melakukan identifikasi jenis kelamin serta persiapan lanjutan untuk memastikan satwa siap kembali ke alam liar.

“Ini masih kita identifikasi, kira-kira yang memang siap kita lepaskan itu ada sex ratio seperti apa. Dikarenakan kan kita harus melakukan perawatan dulu, menghabituasi untuk dilepaskan ke alam yang sudah siap atau layak lepas liar,” jelasnya.

Nurika menyampaikan bahwa KBS saat ini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangbiakan komodo di Indonesia dengan populasi yang cukup besar. “Paling tidak sampai sekarang kurang lebih kita sudah ada sekitar 80 ekor komodo,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar komodo tersebut berada pada fase remaja hingga dewasa. “Rata-rata paling tidak mix campur, sudah remaja ke atas, dewasa,” imbuhnya.

Terkait prosedur pelepasliaran, PDTS KBS telah mengajukan usulan resmi kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk diteruskan ke kementerian terkait. “Kami sudah ajukan ke BKSDA Jatim untuk diusulkan ke Kementerian,” terangnya.

Meski belum dapat memastikan waktu realisasi, Nurika optimistis proses tersebut akan berjalan mengingat komodo merupakan satwa prioritas nasional. “Kemungkinan besar pasti realisasi. Karena komodo ini salah satu-satu satwa prioritas,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait