METROTODAY, SURABAYA – Menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau tahun 2026 Masehi yang merupakan Tahun Kuda Api, umat Tri Dharma di Klenteng Boen Bio, Surabaya, menggelar ritual pembersihan diri atau Cisuak. Tradisi tolak bala ini dilakukan sebagai upaya menyambut tahun baru dengan energi positif dan harapan baru.
Ritual Cisuak dilaksanakan sepekan sebelum Imlek, bertepatan dengan momentum yang dipercaya sebagai waktu para dewa naik ke langit untuk menyampaikan catatan amal perbuatan manusia selama setahun. Pada saat inilah, umat memanfaatkannya untuk memohon berkah serta perlindungan.
Prosesi ritual diawali dengan pemotongan kuku tangan, kuku kaki, serta sedikit rambut dari para umat. Potongan-potongan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kertas doa (Kim Cua) yang dibentuk menyerupai penyu dan gunung.
Setelah itu, umat melakukan pembersihan diri secara simbolis menggunakan air yang telah dicampur dengan bunga mawar dan melati.
Rohaniawan Konghucu sekaligus pengurus Klenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang, menjelaskan bahwa aroma harum bunga melambangkan pengusir energi negatif dan pembersihan dosa. Ia juga menyebut bahwa Cisuak memiliki kemiripan makna dengan tradisi lokal di Indonesia.
Amalia Desiana, Anak Kesayangan Xie Wing Tjin yang Bertekad Entas Kemiskinan Banjarnegara

“Ci Suak ini serupa dengan ruwatan dalam tradisi Jawa, merupakan upaya menumbuhkan energi positif dan membangkitkan kebaikan di tahun baru. Inti sarinya adalah meruwat diri,” ujar Liem Tiong, Rabu (11/2).
Liem menambahkan bahwa prosesi ini dilakukan bersamaan dengan upacara mengantar para suci naik ke langit.
“Hari ini kita mengantar para suci naik, sekaligus melakukan sembahyang Cisuak. Ini saat yang tepat untuk menitipkan doa agar disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum para suci kembali lagi pada tanggal 4 bulan satu Imlek,” jelasnya.
Terkait simbolisme pemotongan kuku dan rambut, Liem memaparkan makna filosofis mendalam di baliknya. Menurutnya, rambut diibaratkan sebagai simbol keruwetan di dalam pikiran, sementara kuku melambangkan langkah kaki dan pekerjaan yang mungkin terpapar energi negatif selama setahun terakhir.
“Intinya bukan sekadar membuang potongan rambut dan kuku, tapi melarung energi negatif di dalam diri kita. Harapannya, saat memasuki tahun yang baru, semua dapat berjalan lancar serta dijauhkan dari segala halangan dan musibah,” tutur Liem.
Salah satu umat Tri Dharma yang hadir, Lian Margaretha, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam ritual ini adalah bentuk persiapan diri secara spiritual. Ia berharap tahun yang baru membawa perubahan karakter yang lebih positif dalam hidupnya.
“Potong kuku dan rambut ini untuk menghilangkan energi negatif menjelang Imlek. Makna Imlek bagi saya adalah menuju langkah yang lebih baik dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” kata Lian.
Sebagai penutup rangkaian ritual, Kim Cua berbentuk gunung dibakar sebagai simbol persembahan doa kepada Tuhan. Sementara itu, Kim Cua berbentuk penyu yang berisi potongan kuku dan rambut umat rencananya akan dilarung di Selat Madura untuk membuang segala kesialan. (ahm)

