METROTODAY, SURABAYA – Pasca bencana memerlukan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang terpadu. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) berinisiatif membentuk konsorsium perguruan tinggi untuk menangani pekerjaan pemulihan pascabencana.
Pembentukan konsorsium melibatkan berbagai perguruan tinggi dan ahli akademisi, dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemendiktisaintek sebagai penggerak strategis. Direktorat tersebut akan memfasilitasi pembentukan, mengoordinasikan peran masing-masing perguruan tinggi, serta mendorong hasil riset dan pengabdian masyarakat untuk mendukung kebijakan pemulihan.
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Bambang Pramujati menjelaskan bahwa konsorsium ini dibentuk sebagai respons atas kompleksitas bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera.
“Bencana tersebut berdampak sistemik terhadap permukiman, infrastruktur, ekonomi lokal, serta ketahanan sosial. Banyak perguruan tinggi telah bergerak membantu, namun untuk menghasilkan dampak yang lebih besar diperlukan sinergi bersama,” ujarnya, Kamis (22/1).
Dalam konsorsium, ITS dipercaya sebagai Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Geospasial serta Subkoordinator Pokja Perumahan dan Permukiman. Selain itu, ITS juga berkontribusi di berbagai pokja lainnya yaitu kesehatan dan psikososial, pendidikan dan literasi kebencanaan, infrastruktur, pemulihan ekonomi dan sosial, manajemen risiko, serta tata ruang.

Pada bidang geospasial, ITS berkontribusi melalui pemetaan resolusi tinggi untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, zonasi kerentanan, dan perubahan bentang alam pascabencana. “Data spasial menjadi dasar penting dalam perencanaan pemulihan agar dapat dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis risiko,” jelasnya.
Di bidang perumahan dan permukiman, ITS mengembangkan sistem penilaian hunian serta desain hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) berbasis risiko yang terintegrasi dengan data spasial dan perencanaan tata ruang. Pendekatan ini melanjutkan kerja Satgas Kemanusiaan ITS yang telah terjun langsung di Aceh dan Sumatera sejak Desember 2025 lalu, yang dipimpin oleh Prof Dr Nurul Jadid.
Pihak ITS menargetkan keluaran konkret berupa peta risiko terintegrasi, dashboard monitoring rehabilitasi dan rekonstruksi, rekomendasi teknis perumahan dan infrastruktur, serta policy brief bagi pemerintah pusat dan daerah. “Seluruh output nantinya akan disusun berbasis sains guna memastikan pemanfaatan anggaran pemulihan bencana efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan komitmen ITS dalam penanganan kebencanaan sejak tsunami Aceh 2004, gempa Lombok 2018, erupsi Semeru, hingga bencana hidrometeorologi terkini. Dengan kekuatan rekayasa yang dipadukan pendekatan sosial dan kemanusiaan, ITS optimis memberikan kontribusi yang berdampak bagi proses pemulihan.
Ke depan, Prof. Bambang berharap konsorsium ini dapat menjadi platform kolaborasi jangka panjang antar perguruan tinggi dalam pengelolaan risiko bencana nasional. (ahm)

