4 February 2026, 8:50 AM WIB

Banjir Masih Menggenang di Surabaya, Pegiat Sejarah: Dulu Belanda Bangun Drainase dan Kali Jagir, Sekarang Makin Parah Ulah Manusia

METROTODAY, SURABAYA – Banjir yang kerap melanda berbagai wilayah Surabaya setiap musim hujan bukanlah masalah baru. Data yang disimpan di Indieinoorlog.nl mencatat bahwa banjir sudah terjadi di Kota Pahlawan pada tahun 1947, dengan sejumlah pemukiman warga terendam air.

Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa pada masa agresi, pemerintah kolonial Belanda yang kala itu menduduki Indonesia juga sempat dibuat bingung oleh kejadian banjir.

Namun, pada masa itu masalah tersebut cepat teratasi berkat banyaknya lahan hijau dan kemampuan resapan air yang baik.

“Lain dulu lain sekarang, dahulu banjir terjadi karena faktor alam. Air laut yang sedang pasang disertai hujan berintensitas tinggi menjadi penyebab timbulnya banjir. Sehingga kantong air yang berada di muara sungai meluap. Air yang seharusnya mengalir ke lautan kembali meluber di daratan, kemudian merendam pemukiman yang berada di sekitarnya,” ujarnya, Kamis (8/1).

Menurut Nur, pemerintah Belanda kala itu juga telah mengambil langkah untuk mengatasi masalah banjir dengan membuat gorong-gorong di jalan protokol seperti Embong Malang.

Tujuannya adalah agar pembuangan air bisa mengalir hingga ke laut melalui sambungan aliran yang menghubungkan ke kawasan Kenjeran

“Dulu Pemerintah Belanda juga sempat membuat gorong-gorong. Bahkan kali Jagir itu juga buatan Belanda yang biasa menampung air dari sungai Brantas,” jelasnya.

Berbeda dengan masa lalu, kini banjir di Surabaya disebabkan oleh berbagai faktor, tidak hanya alam tetapi juga akibat campur tangan manusia.

Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang utama masalah banjir karena menyebabkan penyumbatan saluran drainase.

Selain itu, pembangunan masif gedung, mall, apartemen, dan fasilitas lainnya di berbagai penjuru kota juga berkontribusi.

“Waduk alami sebagai penampung air banyak beralih fungsi atau bahkan hilang berganti menjadi perumahan elite. Lahan hijau semakin berkurang dan resapan air perlahan lenyap,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Banjir yang kerap melanda berbagai wilayah Surabaya setiap musim hujan bukanlah masalah baru. Data yang disimpan di Indieinoorlog.nl mencatat bahwa banjir sudah terjadi di Kota Pahlawan pada tahun 1947, dengan sejumlah pemukiman warga terendam air.

Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa pada masa agresi, pemerintah kolonial Belanda yang kala itu menduduki Indonesia juga sempat dibuat bingung oleh kejadian banjir.

Namun, pada masa itu masalah tersebut cepat teratasi berkat banyaknya lahan hijau dan kemampuan resapan air yang baik.

“Lain dulu lain sekarang, dahulu banjir terjadi karena faktor alam. Air laut yang sedang pasang disertai hujan berintensitas tinggi menjadi penyebab timbulnya banjir. Sehingga kantong air yang berada di muara sungai meluap. Air yang seharusnya mengalir ke lautan kembali meluber di daratan, kemudian merendam pemukiman yang berada di sekitarnya,” ujarnya, Kamis (8/1).

Menurut Nur, pemerintah Belanda kala itu juga telah mengambil langkah untuk mengatasi masalah banjir dengan membuat gorong-gorong di jalan protokol seperti Embong Malang.

Tujuannya adalah agar pembuangan air bisa mengalir hingga ke laut melalui sambungan aliran yang menghubungkan ke kawasan Kenjeran

“Dulu Pemerintah Belanda juga sempat membuat gorong-gorong. Bahkan kali Jagir itu juga buatan Belanda yang biasa menampung air dari sungai Brantas,” jelasnya.

Berbeda dengan masa lalu, kini banjir di Surabaya disebabkan oleh berbagai faktor, tidak hanya alam tetapi juga akibat campur tangan manusia.

Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang utama masalah banjir karena menyebabkan penyumbatan saluran drainase.

Selain itu, pembangunan masif gedung, mall, apartemen, dan fasilitas lainnya di berbagai penjuru kota juga berkontribusi.

“Waduk alami sebagai penampung air banyak beralih fungsi atau bahkan hilang berganti menjadi perumahan elite. Lahan hijau semakin berkurang dan resapan air perlahan lenyap,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait