METROTODAY, SURABAYA – Perseturuan antara Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan organisasi masyarakat (ormas) Madura Asli Sedarah (Madas) berakhir damai setelah melalui mediasi dan dialog terbuka di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Bahkan, Madas telah resmi mencabut laporan yang sebelumnya diajukan terhadap Armuji di Polda Jawa Timur.
Armuji menyampaikan permintaan maaf kepada Madas terkait pernyataan yang memicu polemik. “Saya mohon maaf dan tidak ada niat sedikit pun untuk menstigmatisasi Madas,” ujarnya, Selasa (6/1).
Menurut Armuji, pernyataan tersebut muncul saat ia menanggapi laporan masyarakat dalam sebuah inspeksi mendadak, kemudian berkembang setelah diberitakan media dan tersebar luas di media sosial.

Ia mengakui sempat menyebut nama Madas dalam dialog yang disiarkan melalui kanal YouTube dan media sosial pribadinya, namun dilakukan secara spontan tanpa maksud menyudutkan organisasi.
“Saya menyebut itu sekali, dan setelah diklarifikasi ternyata bukan atribut Madas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Madas Mohammad Taufik menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak terlibat dalam peristiwa yang dipersoalkan dan menolak stigma premanisme yang sempat muncul.
“Madas bukan ormas preman. Tidak ada satu pun dokumen atau berita acara yang menyebut keterlibatan organisasi kami,” tegas Taufik.
Ia menjelaskan, kejadian yang dipersoalkan terjadi pada Agustus 2025, sementara dirinya baru menjabat sebagai Ketua Umum pada Oktober 2025. Hasil kajian internal dan tim hukum Madas juga tidak menemukan keterlibatan organisasi dalam peristiwa tersebut.
“Kalau ada pelanggaran hukum oleh individu, kami mendukung aparat untuk memproses sesuai aturan,” katanya.
Taufik mengaku Madas memilih jalur damai dan mencabut laporan terhadap Armuji demi menjaga kondusivitas kota Surabaya.
“Kami menerima permintaan maaf dan memilih untuk mengakhiri polemik. Kita ingin suasana tetap kondusif,” ujar Taufik.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Madura atas stigma yang sempat berkembang akibat polemik tersebut.
“Semoga ini menjadi pembelajaran bersama agar tidak ada lagi kesalahpahaman di kemudian hari,” pungkasnya. (ahm)

