Nenek Elina didampingi kerabat saat melihat langsung rumahnya yang rata oleh tanah setelah diusir oleh oknum ormas yang diminta oleh pria yang mengaku membeli rumah lansia 80 tahun tersebut. (Foto: Istimewa/Screenshot YouTube)
METROTODAY, SURABAYA – Kasus perobohan rumah nenek Elina Widjajanti, 80, yang diduga dilakukan oknum organisasi masyarakat (ormas) di Kuwukan, Sambikerep menjadi perhatian khusus Pemkot Surabaya untuk diusut hingga tuntas.
Eri Cahyadi menegaskan tidak ada ruang bagi tindakan semena-mena di Kota Pahlawan dan hukum harus ditegakkan tanpa kompromi.
Merespons video viral perusakan rumah warga yang hancur rata dengan tanah, Cak Eri menjelaskan bahwa kasus ini sudah ditangani sejak sebelum viral di media sosial.
“Kejadian ini sudah ditangani Polda Jawa Timur. Sebelum viral sudah dilaporkan karena sudah ditangani pihak kecamatan. Saya secara pribadi akan berkoordinasi dengan Polda agar masalah ini menjadi atensi khusus dan segera diselesaikan. Harus ada kejelasan hukum karena yang salah ya, harus dihukum,” tegasnya.
Menurutnya, ketegasan hukum sangat penting untuk menjaga kepercayaan warga. Jika tindakan semena-mena terhadap lansia dibiarkan tanpa sanksi, warga akan merasa tidak aman tinggal di kotanya sendiri.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Pemkot Surabaya bersama TNI dan Polri akan segera membentuk Satgas Anti-Preman yang melibatkan aparat dan tokoh suku.
“InsyaAllah kita buatkan tempat di Pemkot Surabaya untuk Satgas Anti-Preman. Surabaya harus aman. TNI, Polri, dan seluruh elemen suku akan bergabung. Siapa pun yang melakukan premanisme akan ditindak dan dihilangkan dari kota ini,” ujarnya.
Selain itu, Cak Eri berencana mengumpulkan seluruh ketua ormas dan tokoh suku pada malam tahun baru atau awal Januari 2026 untuk menyamakan visi menjaga kondusivitas kota
“Kita ini warga Surabaya, mau suku apa pun, jangan sampai terpecah belah. Kita tidak boleh berbuat semena-mena atau menipu sesama warga Surabaya. Kalau ada yang tidak benar, ayo kita lawan bareng-bareng secara hukum,” katanya.
Terkait kondisi korban, Pemkot tengah melakukan asesmen kebutuhan mendesak. Selain bantuan fisik atau tempat tinggal, ia menekankan pentingnya pemulihan psikis nenek Elina.
“Yang paling penting adalah psikisnya. Kami juga menguatkan warga dan tetangga di sekitar lokasi. Surabaya boleh jadi kota besar, tapi jangan pernah kehilangan empati terhadap sesama. Harus saling menjaga dan menguatkan,” pesannya.
Ia juga menghimbau warga tidak melakukan aksi anarkis atau benturan antarwarga sebagai reaksi. “Ayo warga Surabaya, kita saling menjaga dan mengawal proses hukumnya hingga tuntas dan Nenek Elina mendapatkan keadilan,” pungkasnya. (ahm)
Pemkot Surabaya berencana melanjutkan peningkatan kualitas jalan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami genangan saat…
Puluhan ibu rumah tangga (emak-emak) di Surabaya menjadi korban dugaan penipuan jual beli sembako fiktif.…
Puluhan jurnalis Surabaya dan Sidoarjo mengikuti Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist di iSTTS. Belajar pemanfaatan…
Pendopo Delta Wibawa terasa berbeda pada Minggu (1/2/2026) pagi. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-167…
Jelang penyelenggaraan haji 2026, persiapan untuk transit jemaah di Asrama Haji Surabaya terus dilakukan. Dengan…
Cuaca ekstrem melanda Kota Surabaya sejak siang hingga malam hari ini, Selasa (3/2). Hujan deras…
This website uses cookies.