Categories: Surabaya

Dampak Konflik Kepala Daerah dan Wakilnya bagi Pemerintahan dan Masyarakat

METROTODAY, SURABAYA – Harmonisasi antara kepala daerah dan wakilnya menjadi kunci keberhasilan pemerintahan. Namun, kenyataannya, tidak sedikit pasangan kepala daerah dan wakilnya yang justru terlibat konflik selama masa jabatan. Lalu, apa dampaknya jika mereka tidak akur?

1. Pemerintahan Tidak Efektif

Ketidakharmonisan menghambat komunikasi, koordinasi, hingga pengambilan keputusan. Program strategis terancam mandek karena kepala daerah dan wakilnya bersikukuh pada prioritas masing-masing. Birokrasi pun kebingungan, pelayanan publik jadi tidak maksimal.

2. Dualisme Kepemimpinan

Wakil kepala daerah yang merasa diabaikan kerap membangun kekuatan politik sendiri. Ini memicu dualisme kepemimpinan dan membuat ASN bingung soal loyalitas. Contohnya di Bojonegoro, konflik Bupati Anna Mu’awanah dan Wakil Budi Irwanto terjadi terbuka di grup WhatsApp. Di Aceh Tengah, konflik Bupati Shabela Abubakar dan Wakil Firdaus bahkan nyaris berujung adu fisik.

3. Kerugian Bagi Masyarakat

Konflik membuat pembangunan lambat, anggaran tidak optimal, dan kepercayaan publik menurun. Studi JPAMS (2022) menyebut konflik pemimpin daerah menurunkan kepercayaan masyarakat dan memicu apatisme politik. Konflik bahkan bisa merembet ke pendukung di akar rumput.

4. Persaingan Pilkada

Konflik sering dipicu ambisi menghadapi Pilkada berikutnya. Wakil kepala daerah mulai membangun citra sendiri, kadang dengan mengkritisi kepala daerah demi menaikkan popularitas. Rivalitas ini memperkeruh hubungan kerja.

5. Minim Mekanisme Penyelesaian

Tidak ada mekanisme formal yang kuat untuk menyelesaikan konflik kepala daerah dan wakilnya. Dalam sistem pemerintahan daerah, wakil hanya memiliki kewenangan jika mendapat pendelegasian langsung. Tanpa keharmonisan, wakil rentan sekadar menjadi “ban serep”.

6. Pentingnya Etika Politik

Banyak pasangan kepala daerah diusung hanya karena hitungan elektabilitas, tanpa kesamaan visi atau chemistry. Setelah terpilih, ego, perbedaan karakter, dan kepentingan pribadi mulai muncul. Idealnya, sejak awal ada pembagian peran, komunikasi yang jelas, dan komitmen bersama membangun daerah.(alk)

Dwi Shintia Irianti

Recent Posts

Jalan di Tenggilis Mejoyo hingga Perak akan Ditinggikan, Pemkot Surabaya Target Kurangi Genangan

Pemkot Surabaya berencana melanjutkan peningkatan kualitas jalan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami genangan saat…

55 minutes ago

Modus Jual Sembako Murah, Puluhan Ibu Rumah Tangga di Surabaya Tertipu Hingga Setengah Miliar Rupiah

Puluhan ibu rumah tangga (emak-emak) di Surabaya menjadi korban dugaan penipuan jual beli sembako fiktif.…

2 hours ago

Jurnalis Surabaya dan Sidoarjo Belajar AI Bareng iSTTS

Puluhan jurnalis Surabaya dan Sidoarjo mengikuti Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist di iSTTS. Belajar pemanfaatan…

3 hours ago

Doa Bersama 1.000 Anak Yatim untuk Sidoarjo yang Lebih Baik di Hari Jadi Ke-167

Pendopo Delta Wibawa terasa berbeda pada Minggu (1/2/2026) pagi. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-167…

3 hours ago

Persiapan Asrama Haji Surabaya Capai 89 Persen Sambut Jemaah Haji, Fokus Perbaiki Ratusan Kamar yang Rusak

Jelang penyelenggaraan haji 2026, persiapan untuk transit jemaah di Asrama Haji Surabaya terus dilakukan. Dengan…

3 hours ago

Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Surabaya, Pohon dan Reklame Tumbang

Cuaca ekstrem melanda Kota Surabaya sejak siang hingga malam hari ini, Selasa (3/2). Hujan deras…

5 hours ago

This website uses cookies.