Categories: Sidoarjo

Ponpes Al-Khoziny Ambruk, Pakar Struktur Bangunan Soroti Dugaan Kegagalan Struktur

METROTODAY, SURABAYA – Ambruknya musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, yang menyebabkan ratusan santri terjebak dan beberapa di antaranya meninggal dunia, menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Diduga kuat, penyebab ambruknya bangunan adalah struktur atap kayu yang tidak mampu menahan beban saat proses pengecoran berlangsung.

Pakar Struktur Bangunan Tahan Gempa, Dr. Pamuda Pudjisuryadi, S.T., M.Eng., (Foto: Istimewa)

Pakar Struktur Bangunan Tahan Gempa, Dr. Pamuda Pudjisuryadi, S.T., M.Eng., menekankan perlunya investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kejadian ini.

“Yang pasti terlihat kolom beton patah karena dari puingnya terlihat balok dan platnya tertumpuk. Jadi titik yang terserang pada kolomnya, tapi belum bisa disimpulkan karena faktor ada banyak,” ujarnya, Kamis (2/10).

Pamuda menyebutkan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab, di antaranya kualitas perencanaan, kualitas mutu baja, kualitas pelaksanaan, dan penggunaan bangunan.

“Saya kira empat faktor yang saya sebutkan itu, satu saja ada yang trouble, bisa ada kejadian yang tidak kita inginkan seperti ambruk. Bisa jadi semua ada yang trouble,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya investigasi yang dilakukan oleh tim ahli di bidangnya yang memiliki sertifikasi khusus.

“Kompetensi SDM tim harus didukung dengan data yang valid. Dokumentasi baik dari data gedung menjadi vital. Data bangunan setelah kejadian kerusakan, bisa juga menjadi salah satu tantangan untuk menggali data,” ungkap dosen Teknik Sipil Petra Christian University (PCU) ini.

Untuk mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban, BPBD Provinsi Jawa Timur telah mengerahkan alat berat berupa Excavator dan Crane ke lokasi kejadian.

Alat berat ini digunakan untuk mengangkat dan memindahkan puing-puing bangunan yang menutupi area.

Pamuda juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan posisi korban yang terperangkap saat melakukan evakuasi.

“Saya melihat tergantung posisi mereka terperangkap. Kalau di antara dua plat beton, saat mengeruk dari bawah ketemu plat beton yang bawah juga sama saja menimbulkan bahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan aspek vital dalam evakuasi, yaitu ketersediaan oksigen dan air.

“Kalau waktunya sudah mepet dan molor saat evakuasi, perlu adanya oksigen dan air nomer satu. Jadi ventilasi perlu diperbanyak dan bagus karena untuk oksigen dan air untuk mengantisipasi dehidrasi korban yang masih hidup dan membutuhkan pertolongan,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Taxmon Perkuat Pengawasan Pajak Daerah, Pemkab Sidoarjo Targetkan 454 Titik Terpasang Akhir Juli 2026

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…

9 hours ago

Socceroos Kena Tilang di Seattle, Amerika Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…

20 hours ago

Cinta Rashford pada Barcelona Bertepuk Sebelah Tangan meski Sudah Rela Turun Harga

Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…

20 hours ago

Cak Klepon Pabean Cantian Jemput Bola Urus Akta Kelahiran dan Kematian Warga Surabaya

Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…

20 hours ago

Gaji ke-13 dan TPP ASN/PPPK Surabaya Dipastikan Cair, TPP Naik Menjadi 100 Persen

Pemkot Surabaya memastikan gaji ke-13 serta Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)…

21 hours ago

Liverpool Bertaruh dengan Iraola, Van Dijk Akui Terkejut Slot Didepak

Liverpool FC resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah dua musim kebersamaan dan langsung…

22 hours ago

This website uses cookies.