Dari kiri, Plt Kepala DLHK Sidoarjo Arif Mulyono, Direktur DRPM Umsida Sigit Hermawan, Public Affair & License Manager PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Beny Haryawan, dan Rektor Umsida Hidayatulloh setelah penandatanganan MoU dan MoA di Kampus 1 Umsida, Senin (27/4/2026). (MetroToday)
METROTODAY, SIDOARJO – Sinergi antara dunia pendidikan dan industri tidak hanya menjadi langkah strategis dalam menjawab kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi itu juga bisa menjadi solusi dalam menjawab persoalan lingkungan. Salah satunya, pengelolaan sampah.
Tujuan itu yang hendak dicapai dengan nota kesepahaman (MoU) dan nota kesepakatan (MoA) antara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dengan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo. Penandatanganan MoU dan MoA dilakukan di ruang Mini Theater Lantai 5 GKB 2 Kampus 1 Umsida, Senin (27/4/2026).
Seremoni penandatanganan MoU dan MoA itu diikuti dengan sharing session bertajuk Penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle): Strategi Menghadapi Tantangan Lingkungan. Forum itu diinisiasi Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC) Umsida.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Umsida Sigit Hermawan mengatakan bahwa isu lingkungan menarik untuk terus dikaji. Umsida, kata dia, juga concern dengan menjadikan isu lingkungan masuk dalam program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.
Link and Match Pendidikan-Industri
Public Affair & License Manager PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Beny Haryawan menyatakan, kerja sama dengan Umsida merupakan bagian dari implementasi program “link and match” dunia pendidikan dan industri yang selama ini didorong pemerintah. Menurutnya, industri harus membuka diri agar mahasiswa dan akademisi dapat memahami kondisi nyata di lapangan.
”Industri harus menjadi laboratorium terbuka. Tidak mungkin terjadi link and match kalau dunia usaha tidak memberikan akses bagi mahasiswa dan dosen untuk melihat langsung proses industri,” ujarnya.
Melalui kerja sama itu, mahasiswa Umsida memiliki kesempatan untuk melakukan praktik kerja lapangan, penelitian serta observasi langsung terhadap proses produksi di industri kertas. Dengan begitu, teori yang dipelajari di bangku kuliah dapat diintegrasikan dengan realitas di dunia kerja.
Pihak Tjiwi Kimia juga membuka peluang bagi para tenaga ahli di perusahaan untuk berkontribusi sebagai dosen praktisi. Kehadiran praktisi di ruang kelas penting untuk memperkaya pemahaman mahasiswa, khususnya dalam menghadapi tantangan industri yang dinamis.
”Teori sudah didapat dari dosen, tetapi praktiknya perlu dilengkapi oleh para expert dari industri. Ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh kepada mahasiswa,” tambah Benny.
Tidak hanya fokus pada penguatan pendidikan, kerja sama itu juga menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan, terutama dalam pengelolaan sumber daya dan limbah industri. Benny menegaskan bahwa perusahaannya telah menerapkan prinsip efisiensi sehingga hampir tidak ada material yang terbuang sia-sia.
Penerapan budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), lanjut Benny, penting sebagai dasar dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Konsep itu harus dimulai dari perubahan pola pikir, terutama dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
”Seringkali kita menumpuk barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Ini yang menyebabkan pemborosan, baik dari segi biaya, waktu, maupun ruang,” kata Benny. ”Kalau budaya 5R dipahami dengan baik, maka pengurangan limbah bisa dilakukan secara efektif. Bahasa guyonan saya, 5R itu resik resik ra rampung-rampung” ujarnya berseloroh.
Persoalan Sampah Semakin Kompleks
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) juga menyambut baik kolaborasi itu. Sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan sampah yang semakin kompleks.
”Penanganan sampah tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi agar solusi yang dihasilkan lebih komprehensif,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Sidoarjo Arif Mulyono.
Arif juga menyoroti pentingnya pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang profesional dan transparan. Ia mengingatkan bahwa sektor pengelolaan sampah memiliki potensi ekonomi yang besar, sehingga perlu diawasi agar tidak disalahgunakan.
DLHK mengimbau masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Langkah sederhana itu dapat mengurangi beban kapasitas TPA Griyo Mulyo di Jabon yang saat ini terus meningkat.
”Kesadaran masyarakat sangat penting. Kalau sampah sudah dipilah dari sumbernya, maka pengelolaan di hilir akan jauh lebih mudah dan efisien,” tandasnya. (SONIF)
Untuk mempermudah dan mempercepat proses keberangkatan, layanan Makkah Route kembali diterapkan bagi seluruh jemaah haji…
Persebaya Surabaya berhasil meraih kemenangan penting sekaligus memuaskan saat menghadapi rival sekota sekaligus sesama tim…
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya resmi membatalkan empat perjalanan kereta api…
Laga big match derbi Jawa Timur pekan ke-30 Super League 2025/2026 bakal sangat panas. Karena…
Untuk memperingati Hari Bumi Sedunia 2026, SMA Negeri 2 Sidoarjo mengadakan Pendididkan dan Latihan (Diklat)…
Insiden kecelakaan maut melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya dengan Kereta Rel…
This website uses cookies.