Categories: Nasional

Narcissistic Personality Disorder: Ketika Rasa Pede Jadi Toxic yang Merusak Kesehatan Mental

METROTODAY, SIDOARJO – Rasa percaya diri (pede) adalah hal positif yang penting dimiliki setiap orang. Namun, jika berlebihan hingga merugikan diri sendiri maupun orang lain, kondisi ini bisa mengarah pada Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik, yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Menurut laman Alodokter, NPD adalah gangguan mental ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, haus akan pujian, dan cenderung mengabaikan perasaan orang lain. Gangguan ini berbeda dengan sekadar rasa percaya diri biasa karena bersifat ekstrem, menetap, dan memengaruhi stabilitas emosional penderita.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab NPD belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor genetik, pola asuh, pengalaman masa kecil, hingga lingkungan yang terlalu menekankan pencapaian diri diyakini berperan besar. Kondisi ini jika tidak ditangani, bisa memicu gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi dan kecemasan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

* Merasa diri lebih unggul dari orang lain.
* Membutuhkan pujian berlebihan.
* Tidak memiliki empati terhadap orang lain.
* Mudah tersinggung atau marah jika tidak mendapat perhatian.
* Sulit menerima kritik atau kegagalan.

Dampak bagi Kesehatan Mental

Penderita NPD rentan mengalami masalah dalam hubungan sosial, konflik pekerjaan, hingga stres berkepanjangan. Tekanan ini dapat memperburuk kondisi mental mereka sendiri, sekaligus menimbulkan dampak psikologis bagi orang-orang terdekat.

Cara Mengatasinya

Penanganan NPD biasanya dilakukan dengan terapi psikologis jangka panjang, misalnya terapi perilaku kognitif, untuk membantu penderita mengelola emosi dan membangun empati. Dukungan keluarga serta lingkungan sangat penting agar proses pemulihan berjalan efektif dan kesehatan mental tetap terjaga.

Kesadaran untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan narsistik perlu ditumbuhkan. Dengan begitu, rasa pede tidak berubah menjadi toxic yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, sekaligus menjaga keseimbangan kesehatan mental. (ana sofiana/red)

Jay Wijayanto

Recent Posts

WFH Sehari dalam Sepekan Jadi Strategi Hemat Energi, Konsumsi BBM Turun 20 Persen

Pemerintah menyiapkan langkah-langkah penghematan energi nasional. Eskalasi di Timur Tengah dengan peran antara Israel-Amerika Serikat…

16 minutes ago

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Makam Tengah sebagai Titik Sentral (3)

Luas Makam Islam Desa Tambaksumur sekitar 1 hektare. Di sudut timur laut, terdapat bangunan calon…

2 hours ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (12): Kereta Cepat “Whoosh” yang Menyambung Dua Kota Suci

Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena…

4 hours ago

Waspadai Penyakit Menular saat Musim Mudik, Balai Karantina Pantau Bandara dan Pelabuhan

Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…

22 hours ago

Temukan Tempat Hiburan Nekat Buka selama Ramadan, Satpol PP Surabaya Beri Sanksi

Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…

1 day ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (11): Berlebaran di Tanah Haram

Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…

1 day ago

This website uses cookies.