Categories: Lifestyle

Buka Puasa, Waspada ‘Glucose Spike’: Balas Dendam yang Berujung Petaka bagi Tubuh

METROTODAY, SIDOARJO – Gema beduk Maghrib kerap dianggap sebagai lampu hijau untuk menuntaskan dahaga dan lapar. Meja makan penuh dengan “amunisi” pun tampak menggoda: es sirup yang segar, gorengan yang renyah, hingga kolak dengan manis yang legit. Namun, di balik kenikmatan itu, ada ancaman nyata yang mengintai kesehatan: Glucose Spike.

Kondisi ini bukan sekadar istilah medis. Glucose Spike atau lonjakan glukosa mendadak adalah fenomena di mana kadar gula darah meroket tajam sesaat setelah kita mengonsumsi karbohidrat sederhana atau gula dalam jumlah besar setelah perut kosong dalam waktu lama.

Karenanya, bagi sebagian orang berbuka adalah momen “balas dendam”. Padahal, setelah belasan jam beristirahat, sistem pencernaan manusia ibarat mesin yang baru saja dipanaskan. Memaksanya bekerja berat secara tiba-tiba dengan asupan gula berlebih bisa memicu kekacauan metabolisme.

Pakar kesehatan menyebutkan bahwa saat glukosa membanjiri aliran darah secara masif, pankreas akan dipaksa bekerja ekstra keras untuk memproduksi insulin. Tugas insulin adalah “mengetuk pintu” sel tubuh agar mau menyerap gula tersebut menjadi energi.

Persoalannya, jika lonjakan terjadi terlalu sering dan terlalu ekstrem, tubuh akan mengalami kondisi yang disebut sugar crash. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa sangat mengantuk, lemas, dan lunglai justru setelah makan besar saat berbuka puasa. Dampak jangka pendeknya mungkin hanya rasa begah atau kantuk berat. Namun, dalam jangka panjang, glucose spike yang tidak terkendali adalah pintu masuk bagi berbagai penyakit degeneratif, mulai dari resistensi insulin hingga diabetes tipe 2 yang mematikan.

Penyakit diabetes tipe 2 itu pula yang kemudian memicu komplikasi beragam penyakit. Jangan heran apabila di beberapa rumah sakit Sidoarjo banyak orang yang mengeluhkan menderita gejala penyakit tersebut. Bahkan, di antara para pasien tersebut banyak yang masih berusia di bawah 40 tahun.

Bukan hanya itu, lonjakan gula darah yang tajam juga memicu peradangan atau inflamasi di tingkat sel. Secara kasatmata, hal ini bisa mempercepat proses penuaan dini dan merusak elastisitas pembuluh darah yang vital bagi jantung.

Lantas, bagaimana cara menikmati hidangan buka puasa tanpa mengorbankan kesehatan? Kuncinya bukan hanya pada apa yang dimakan, melainkan juga pada urutan konsumsinya untuk menciptakan “jaring” pengaman di dalam usus.

Para ahli menyarankan untuk memulai dengan serat. Sayur-sayuran atau buah yang tidak terlalu manis (seperti mentimun atau alpukat) bisa menjadi pembuka. Serat bertindak sebagai pembatas yang memperlambat penyerapan gula ke pembuluh darah. Mentimun dan alpukat banyak dijual di pasar-pasar Sidoarjo. Harganya juga tidak terlalu mahal. Anda, warga Sidoarjo bisa datang ke Gading Fajar, di sana banyak pilihan buah dan sayur segar yang bisa disantap saat berbuka.

Setelah serat masuk, urutan berikutnya adalah protein dan lemak sehat. Potongan ayam, tahu, tempe, atau kacang-kacangan akan memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjaga stabilitas energi tanpa mengejutkan sistem insulin.

Barulah di urutan akhir, Anda diperbolehkan mengonsumsi karbohidrat atau makanan manis. Dengan urutan ini, gula tidak akan langsung “menyerbu” darah, melainkan diserap secara perlahan berkat adanya hambatan dari serat dan protein sebelumnya.

Selain urutan makan, jenis minuman juga perlu diperhatikan. Hindari langsung meneguk air es atau minuman bersoda saat perut kosong. Suhu yang terlalu ekstrem bisa mengejutkan lambung dan memicu kram atau gangguan pencernaan yang tidak nyaman.

Metode hidrasi yang tepat adalah menggunakan rumus 2-4-2. Yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur. Ini menjamin tubuh tetap terhidrasi tanpa membebani ginjal dalam satu waktu.

Pilihan takjil klasik seperti kurma pun harus dibatasi. Meski mengandung serat, mengonsumsi lebih dari tiga butir kurma sekaligus juga berpotensi memicu lonjakan gula jika tidak diimbangi dengan asupan air putih yang cukup.

Mari jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum detoksifikasi yang sesungguhnya. Dengan mengatur pola makan yang cerdas, kita tidak hanya mendapatkan pahala ibadah, tetapi juga investasi kesehatan jangka panjang. Harapannya tubuh yang lebih bugar saat hari kemenangan tiba. (red/MT)

Naufal

Recent Posts

5 Rekomendasi Tempat Bukber di Sidoarjo Paling ‘Hits’, Mulai Nuansa Sawah hingga Tengah Kota

Tradisi buka puasa bersama (bukber) menjadi momen yang paling dinantikan sepanjang Ramadan. Tak sekadar melepas…

58 minutes ago

Tahukah Kamu, Mengapa Jalan Aspal di Kampungmu Cepat Rusak? Ini Jawabannya

ujan yang terus-terusan turun diSidoarjo beberapa hari terakhir ini membuat cerita lama itu kembali muncul.…

6 hours ago

Makam Aulia Sono (4-Habis): Asal Usul Kitab Tashrifan Sono dan Ponpes Ummul Ulum

Keunggulan dalam tarbiyah ilmu shorof ini pula yang membedakan Pondok Sono dari pondok-pondok lain, sekaligus…

9 hours ago

Trauma Pasca Bencana Aceh Masih Terasa, Unair Ajak Warga Bangkit Lewat Pendampingan

Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir 2025 lalu masih menyisakan luka mendalam bagi korban terdampak…

9 hours ago

Kekalahan Kedua Beruntun Persebaya Surabaya, Tumbang 3-1 dari Persijap Jepara

Persebaya Surabaya kembali mengalami kekalahan setelah sebelumnya dikalahkan Bhayangkara Presisi di kandang. Pada lanjutan pekan…

9 hours ago

Separo SPPG di Surabaya Belum Punya Sertifikat Higiene Sanitasi

Melalui Satuan Tugas (Satgas) Pelaksanaan MBG, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar koordinasi monitoring dan evaluasi…

17 hours ago

This website uses cookies.