Categories: Internasional

Pengamat Unair Soal Krisis Gizi di Gaza: Kegagalan Dunia Lindungi Hak Dasar Anak

METROTODAY, SURABAYA – Konflik berkepanjangan di Gaza telah memicu krisis gizi akut pada anak-anak. Sebuah fakta yang menyoroti kegagalan dunia dalam melindungi hak-hak dasar mereka.

Hal ini ditegaskan oleh Septa Indra Puspikawati, dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Departemen Gizi FIKKIA Universitas Airlangga (Unair).

“Ketika satu anak di Gaza kelaparan, dunia tidak hanya gagal memberi makan, tetapi juga gagal menjadi manusia,” tegas Septa, Kamis (3/7).

Ia menjelaskan bahwa kekurangan gizi akut tidak hanya mengancam nyawa anak-anak secara langsung, tetapi juga berdampak permanen pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Risiko infeksi, kelelahan kronis, keterlambatan pertumbuhan, kerusakan otak, gangguan perkembangan mental, hingga stunting menjadi ancaman nyata,” tuturnya.

Septa menambahkan bahwa konflik telah melumpuhkan sistem penunjang kehidupan anak-anak di Gaza.

“Banyak ibu tidak bisa memberikan ASI eksklusif karena tekanan mental dan kurangnya asupan makanan. Bahkan jika makanan tersedia, kandungan gizinya seringkali tidak mencukupi,” jelasnya.

Situasi ini, menurut Septa, merupakan kegagalan kolektif dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), dan SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions).

Gaza menjadi bukti nyata bahwa dunia belum berhasil menghapus kelaparan dan menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Septa mengajak Indonesia, sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan mendukung SDGs, untuk tidak tinggal diam.

“Netralitas dalam konteks kemanusiaan adalah bentuk keheningan yang membiarkan kekejaman terus terjadi. Gizi bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang keadilan, hak hidup, dan martabat manusia,” tegasnya.

Ia menyerukan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari menyebarkan informasi, berdonasi, hingga mendorong aksi solidaritas dan advokasi kemanusiaan.

“Sejarah akan mencatat, apakah kita memilih diam atau berdiri bersama mereka,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Jurnalis Surabaya dan Sidoarjo Belajar AI Bareng iSTTS

Puluhan jurnalis Surabaya dan Sidoarjo mengikuti Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist di iSTTS. Belajar pemanfaatan…

49 minutes ago

Doa Bersama 1.000 Anak Yatim untuk Sidoarjo yang Lebih Baik di Hari Jadi Ke-167

Pendopo Delta Wibawa terasa berbeda pada Minggu (1/2/2026) pagi. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-167…

1 hour ago

Persiapan Asrama Haji Surabaya Capai 89 Persen Sambut Jemaah Haji, Fokus Perbaiki Ratusan Kamar yang Rusak

Jelang penyelenggaraan haji 2026, persiapan untuk transit jemaah di Asrama Haji Surabaya terus dilakukan. Dengan…

1 hour ago

Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Surabaya, Pohon dan Reklame Tumbang

Cuaca ekstrem melanda Kota Surabaya sejak siang hingga malam hari ini, Selasa (3/2). Hujan deras…

2 hours ago

Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Ruas Jalan di Perkampungan dan Jalan Raya di Surabaya Terendam Banjir

Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Surabaya sejak Selasa (3/2) sore hingga malam…

3 hours ago

Rektor UINSA Dukung Upaya Kemenag, untuk Peningkatan Kesejahteraan Guru Madrasah

Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan perbaikan tata kelola dan peningkatan kesejahteraan guru madrasah di seluruh…

20 hours ago

This website uses cookies.