Categories: Fair Play

Penambahan Pemain Asing Undang Polemik, APPI Sebut 198 Pemain Lokal Terancam Nganggur

METROTODAY, JAKARTA – Keberatan disuarakan para pemain lokal seiring bertambahnya kuota pemain asing di liga musim depan.Ancaman kesempatan bermain mengemuka di balik keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) memahami keputusan penambahan jumlah pemain asing di kompetisi kasta tertinggi nasional. Namun, mereka mengingatkan dampaknya bagi para pemain lokal.

Terutama pada terbatasnya jam terbang mengingat di lingkup domestik hanya ada satu kompetisi, yakni Liga 1 yang bakal berganti nama menjadi BRI Super League musim depan

”Dari survei yang kami lakukan, mayoritas pemain Liga 1 merasa keberatan dengan adanya regulasi tersebut,” kata Presiden APPI Andritany Ardhiyasa kemarin (8/7).

PT Liga Indonesia Baru, operator kompetisi, yang mengklaim mendapat restu dari PSSI dan semua klub Liga 1, mengumumkan pada Senin (7/7) bahwa musim depan tiap klub boleh merekrut sampai 11 pemain asing. Namun, yang dimain kan hanya delapan pemain. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya.

Menurut Andritany, pihaknya memahami jika penambahan jumlah pemain asing dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kompetisi. Tapi, yang dipertanyakan adalah kesempatan bagi pemain local untuk ikut berkompetisi yang makin berkurang.

Kiper Persija Jakarta itu menyatakan, berdasarkan statistik, jika setiap klub Liga 1 yang berjumlah 18 tim memaksimalkan kuota 11 pemain asing, ada 198 pemain lokal yang akan kehilangan pekerjaan atau pindah ke Liga 2. Hingga Selasa (8/7)  belum ditentukan berapa kuota pemain asing di Liga 2.

Artinya pula, akan ada 198 pemain Liga 2 yang kehilangan pekerjaan atau terpaksa beralih menjadi pemain amatir di Liga 3.

”Kami sangat menyayangkan bahwa regulasi yang akan secara langsung berimbas terhadap kehidupan para pemain diambil tanpaadanya komunikasi dan diskusi terlebih dahulu dengan para pemain,” Bagol, sapaan Andritany.

Jika bicara persaingan, Andritany hanya berharap persaingan dimulai secara adil. Dimulai dari fasilitas, infrastruktur, dan ekosistemyang berkualitas seperti negara negara yang industri sepak bolanya telah berjalan dengan baik.

”Kami sangat berharap regulasi ini dapat ditinjau kembali, sesuai dengan situasi sepak bola nasional saat ini,” ucapnya. (*)

 

Anton Hadiyanto

Recent Posts

Taxmon Perkuat Pengawasan Pajak Daerah, Pemkab Sidoarjo Targetkan 454 Titik Terpasang Akhir Juli 2026

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…

9 hours ago

Socceroos Kena Tilang di Seattle, Amerika Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…

20 hours ago

Cinta Rashford pada Barcelona Bertepuk Sebelah Tangan meski Sudah Rela Turun Harga

Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…

20 hours ago

Cak Klepon Pabean Cantian Jemput Bola Urus Akta Kelahiran dan Kematian Warga Surabaya

Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…

20 hours ago

Gaji ke-13 dan TPP ASN/PPPK Surabaya Dipastikan Cair, TPP Naik Menjadi 100 Persen

Pemkot Surabaya memastikan gaji ke-13 serta Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)…

21 hours ago

Liverpool Bertaruh dengan Iraola, Van Dijk Akui Terkejut Slot Didepak

Liverpool FC resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah dua musim kebersamaan dan langsung…

22 hours ago

This website uses cookies.