Categories: Bumi Aulia

Makam Aulia Sono (4): Asal Usul Kitab Tashrifan Sono dan Ponpes Ummul Ulum

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

JIKA ilmu nahwu sering disebut sebagai Abul Ilmi (bapak ilmu), maka ilmu shorof disebut sebagai Ummul Ilmi (ibu ilmu atau induk ilmu). Oleh karena itu, K.H. Muhayyin menamakan pondoknya dengan Pondok Pesantren Ummul Ulum.

Nahwu dan shorof itu sendiri adalah dua cabang ilmu dalam bahasa Arab yang mempelajari tata bahasa dan struktur kalimat. Nahwu berfokus pada aturan tata bahasa dan perubahan harakat akhir kalimat. Sedangkan shorof mempelajari perubahan bentuk kata, termasuk penambahan, pengurangan dan perubahan huruf.

Keduanya saling melengkapi dan berperan sebagai perangkat penting dalam memahami bahasa Arab secara mendalam. Terutama dalam membaca dan memahami Al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab yang ditulis para ulama terdahulu.

Keunggulan dalam tarbiyah ilmu shorof ini pula yang membedakan Pondok Sono dari pondok-pondok lain, sekaligus menjadi keunggulannya. Apalagi dengan keberadaan kitab Tashrifan yang mempelajari khusus tentang ilmu shorof dan hanya dimiliki oleh Pondok Sono saat itu.

Sampai saat ini masih ada perdebatan pendapat tentang siapa sesungguhnya yang menyusun atau menulis kitab Tashrifan tersebut. Apalagi dalam kitab itu tidak dituliskan nama pengarang atau penyusunnya. Bahkan tak ada tulisan Basmalah di awal sebagai pembuka seperti lazimnya pada kitab-kitab yang lain.

Gus Ali Bashori mengatakan, ada yang menyebut kitab Tashrifan ditulis oleh kakek buyutnya, yakni K.H. Muhayyin. Namun baru terkenal dan menjadi rujukan banyak santri dari luar setelah dikembangkan oleh kakeknya, K.H. Abu Manshur, saat memimpin pondok.

“Ada pula guyonan yang menyebut kitab itu berasal dari Pondok Kalangbret di Tulungagung. Tapi, saya yakin ini hanya samaran. Karena penulis yang sebenarnya adalah seseorang yang rendah hati dan zuhud,” paparnya.

Gus Ali menyebut, kuat dugaan, kitab Tashrifan sejatinya adalah karya dari K.H. Zainal Abidin yang membangunkan Pondok Sono untuk menantunya, K.H. Muhayyin. Dugaan kuat itu muncul karena K.H. Zainal Abidin dikenal sebagai penulis atau penyusun beberapa kitab.

Selain Tashrifan, K.H. Zainal Abidin sebelumnya juga menyusun beberapa kitab terjemahan atau syarh (penjelasan) dari kitab-kitab induk. Salah satunya adalah Syarh Al-Munabbihat yang disusun berdasarkan kitab Matan Al-Munabbihat karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, ahli Hadits terkemuka pada madzab Syafi’i (wafat tahun 1449 Masehi). Kitab yang sudah berumur 200 tahun itu sampai saat ini masih digunakan dan dipelajari oleh para santri di pondok pesantren.

Konon, saat mendirikan pondok di Tambaksumur, K.H. Zainal Abidin mendapati santrinya kesulitan dalam memahami kaidah penulisan dan pengucapan bahasa Arab. Di sisi lain, beberapa santrinya malah mudah menghafal kosa kata bahasa Arab, namun kesulitan dalam meletakkan kata sesuai dengan kaidahnya.

Setelah melalui malam panjang untuk bermunajat kepada Allah SWT, K.H. Zainal Abidin menemukan sebuah cara yang memudahkan proses pembelajaran para santrinya itu. Beliau menulis kitab Tashrifan yang bertujuan mempermudah pemahaman kaidah bahasa Arab bagi para santri.

Ilustrasi kitab Tashrifan karya KH. Zainal Abidin yang terkenal setelah diturunkan kepada menantunya KH. Muhayyin dan diajarkan di Ponpes Sono. (Foto: X.com)

Dalam kitab Tashrifan yang ditulisnya itu, tidak ada masdar mim pada sighoh-nya. Hal itu dikarenakan K.H. Zainal Abidin ingin mempermudah pemahaman dan hafalan para santrinya dengan menghilangkan sighoh masdar mim. Sebab, masdar mim pada umumnya jarang dipakai. Selain itu, pelafalan masdar mim dianggap sama saja dengan ismu makan dan ismu zaman.

Selain itu, K.H. Zainal Abidin menuliskan fungsi setiap sighoh pada kitab Tashrifannya menggunakan huruf pego (tulisan Arab namun berbahasa Jawa). Kitab Tashrifan yang ditulis oleh K.H. Zainal Abidin ini lebih ringkas karena penjelasan makna dan fungsi berada dalam satu kitab yang sama.

Gus Ali menjelaskan, dalam ilmu shorof ada ishtilah dan lughowi. Kalau ishtilah itu memecah lafal secara horizontal dari kanan ke kiri. Sedangkan lughowi adalah memecah lafal dari atas ke bawah. Namun dalam kitab Tashrifan, hal itu tidak dibedakan.

“Di Tashrifan, begitu belajar ishtilahi langsung dapat lughowinya. Jadi kitab Tashrifan ini bisa memecah balungan kalimat, sehingga mudah untuk membuka kamus,” paparnya.

Kitab Tashrifan tidak boleh di-copy maupun digandakan oleh santri yang hendak belajar. K.H. Zainal Abidin mewajibkan para santrinya untuk menghafalnya mulai dari sighoh pada setiap wazan hingga fungsinya. Hal itu bertujuan untuk membudayakan santri membaca. Karena menurut K.H. Zainal Abidin, menulis kitab Tashrifan sama dengan membaca kitab Tashrifan.

Masih menurut versi cerita ini, Kitab Tashrifan karya K.H. Zainal Abidin inilah yang kemudian diajarkan oleh K.H. Muhayyin di Pondok Sono. Kitab itu semakin dikenal dan banyak menjadi rujukan para santri dari luar setelah K.H. Abu Manshur mengembangkannya di Pondok Sono. Sehingga kitab itu kemudian lebih dikenal sebagai Tashrifan Sono. Sebab dikembangkan dan dikenal di luar pondok saat diajarkan di Pondok Sono.

Untuk mengajarkan kitab Tashrifan, K.H. Muhayyin mengikuti metode dari K.H. Zainal Abidin yang mengajar santrinya dengan metode sorogan. Yakni setiap santri harus menyetorkan hafalannya kepada sang kiai. Jika ada satu santri saja yang salah maka satu kelas harus mengulang hafalan.

“Memang terlihat sedikit sulit, tapi justru dengan metode tersebut dapat memotivasi para santri agar tidak menyepelekan pelajaran, dan santri semakin bersemangat dalam menghafal kitab. Begitu yang dulu diajarkan di Pondok Sono,” papar Gus Ali.

Kitab Tashrifan Sono yang ditulis K.H. Zainal Abidin ini, lanjut Gus Ali, merupakan kitab induk. Metode pengajaran ilmu shorof seperti kitab Tashrifan tersebut, kini banyak dikembangkan di pesantren-pesantren.

Selain di Pondok Sono, metode ini diketahui juga dikembangkan oleh K.H. Ma’shum Aly dari Pondok Seblak, Kwaron, Jombang yang dikenal sebagai Tashrifan Jombang, dan K.H. Nur Iman dari Pondok Mlangi, Sleman, yang dikenal sebagai Tashrifan Jogja. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Jay Wijayanto

Recent Posts

Trauma Pasca Bencana Aceh Masih Terasa, Unair Ajak Warga Bangkit Lewat Pendampingan

Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir 2025 lalu masih menyisakan luka mendalam bagi korban terdampak…

3 hours ago

Kekalahan Kedua Beruntun Persebaya Surabaya, Tumbang 3-1 dari Persijap Jepara

Persebaya Surabaya kembali mengalami kekalahan setelah sebelumnya dikalahkan Bhayangkara Presisi di kandang. Pada lanjutan pekan…

3 hours ago

Separo SPPG di Surabaya Belum Punya Sertifikat Higiene Sanitasi

Melalui Satuan Tugas (Satgas) Pelaksanaan MBG, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar koordinasi monitoring dan evaluasi…

10 hours ago

Pemkot Surabaya Targetkan DTSEN Rampung 31 Maret, Hadapi Tantangan di Cluster Premium

Pemkot Surabaya tengah mempercepat penyelesaian pendataan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan target menuntaskan…

14 hours ago

Makam Aulia Sono (3): Kisah Pendirian Pondok Sono dan Pemindahannya karena Dihancurkan Tentara Jepang

Pondok Sono yang terletak di Dusun Sono, Desa Sidokerto, didirikan oleh K.H. Muhayyin pada sekitar…

22 hours ago

Korsleting Listrik Sebabkan Avanza Veloz Terbakar di Manyar Jaya Surabaya

Mobil Toyota Avanza Veloz bernomor polisi L 1918 ADQ milik Normand Riady hangus terbakar di…

1 day ago

This website uses cookies.